Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Tiada yang lebih penting


__ADS_3

Daniel pun mulai menceritakan penjelasan Kevin saat berada di apartemennya dari awal hingga akhir kejadian terlarang itu terjadi. Naina pun mendengarkan dengan cermat penjelasan dari Daniel tanpa mencelanya.


"Apa saat ini kau merasa bersalah dengan Nona Queen?" Tanya Naina.


Daniel menggenggam lembut tangan Naina. "Jujur aku merasa bersalah padanya karena salah satu faktor kejadian ini terjadi akibat putusnya hubungan kami. Jika sejak awal aku bersikap tegas padanya dan tidak memberikan harapan padanya mungkin ini semua tidak akan terjadi." Sesal Daniel.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan saat ini?" Tanya Naina.


"Aku tidak akan melakukan apa pun. Cukup mereka yang menyelesaikan permasalahan mereka." Balas Daniel.


"Kau yakin? Bukankah kau mengatakan jika kau menyesal?" Naina mencoba menguji iman Daniel.


Daniel menggelengkan kepalanya. "Walau pun aku menyesal namun aku tidak ingin terlibat apa pun dalam hubungan mereka. Saat ini ada hal yang lebih penting dari pada penyesalanku pada Queen." Ucap Daniel.


"Apa itu?" Tanya Naina.


"Membahagiakanmu dan anak-anak kita." Ucap Daniel lalu mengecup sayang kening Naina.


"Daniel..." Naina tak dapat berkata. Ia lebih memilih menghambur ke pelukan Daniel. Ia kira dengan rasa bersalah Daniel membuat Daniel akan terlibat dalam hubungan Queen dan Kevin. Ternyata dugaannya salah. Suaminya itu tidak berniat ikut campur dan lebih memilih mementingkan dirinya dan anak-anak mereka.


Daniel menjatuhkan bokongnya di atas sofa lalu mendudukkan tubuh Naina di atas pangkuannya. "Percayalah. Tidak ada satu hal pun yang lebih penting dari pada dirimu dan anak-anak kita." Ucap Daniel.

__ADS_1


Naina melebarkan senyumannya. "Aku percaya." Balasnya lalu dengan malu-malu mengecup bibir Daniel.


"Jangan memancingku, Sayang." Ucap Daniel dengan nafas tertahan.


Naina tertawa lalu bangkit dari duduknya. "Ayo tidur. Besok kau dan aku harus bekerja." Ucap Naina sambil menarik tangan Daniel agar bangkit dari sofa.


Daniel tersenyum lalu bangkit dari sofa yang didudukinya. Lagi pula tidak mungkin ia menerkam istrinya itu saat ini mengingat kondisi Naina yang baru saja masuk rumah sakit dan putri kecilnya sedang tertidur di kamar mereka.


*


"Satu... dua... tiga... emplat..."


"Banak ini bonekanya. Punya Zel semua ini!" Zeline memeluk satu persatu boneka barunya yang kemarin dikirimkan oleh Aga ke rumahnya. "Pah... Om Aga baik itu kasih Zel banak boneka gini." Adu Zeline sambil memperlihatkan deretan gigi kecilnya.


Daniel tersenyum lalu mendekat pada putrinya. "Ya. Om Aga memang baik, Sayang. Om Aga juga membelikan Kak Farhan dan Kak Fahri mainan baru." Ucap Daniel mengingat isi pesan di grup keluarganya tadi malam.


"Napa belikan juga sih, Pah? Tatak jahat itu." Ucap Zeline dengan bibir mengerucut. Sepertinya gadis kecil itu masih saja merasa sebal pada Farhan dan Fahri yang selalu menjahilinya setiap bertemu.


"Tentu saja Om Aga membelikannya karena mereka adalah keponakan Om Aga juga." Tutur Daniel dengan lembut.


Bibir mungil Zeline semakin mengerucut. "Ya deh. Tatak nackal tapi itu." Adunya lagi.

__ADS_1


Daniel tersenyum lalu mengecup kening putrinya. "Walau pun mereka suka menjahili Zel, namun percayalah jika Kak Farhan dan Kak Fahri sangat menyayangi Zel." Tutur Daniel.


Zeline melipat kedua tangannya di dada. "Inda pelcaya Zel tuh!" Balasnya sedikit ketus.


"Sayang... tidak boleh seperti itu." Timpal Naina yang baru saja bergabung bersama mereka. "Nanti kita akan pergi ke rumah Nenek Hasna dan berjumpa Kak Farhan dan Fahri di sana. Mama harap Zel tidak boleh ketus pada mereka seperti tadi." Tutur Naina.


"Nda mahu... Zel nda mahu ikut, Mah..." balas Zeline menggelengkan kepalanya menolak ajakan Naina.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2