
"Sayang, kau sudah pulang?" Melihat kedatangan Daniel yang baru saja masuk ke dalam rumah membuat Naina yang sejak tadi menunggunya di sofa ruang tamu pun bangkit dari duduknya.
"Naina?" Gumam Daniel saat menydari kehadiran istrinya. Kakinya pun melangkah mendekat ke arah Naina. "Kenapa kau di sini, hem?" Tanya Daniel seraya mengelus lembut rambut Naina.
"Aku menunggumu pulang." Balas Naina seraya tersenyum.
Daniel tertegun. Ada perasaan bersalah yang kini menghantam dadanya saat mengetahui istrinya tengah menunggunya pulang sedangkan di dalam perjalanan tadi ia sibuk mengingat masa lalunya. "Lain kali tidak perlu menungguku pulang. Apa kau lupa jika saat ini kau tengah mengandung?" Tutur Daniel.
"Tak masalah. Lagi pula aku menunggumu dengan berbaring di sini." Balas Naina tetap tersenyum.
Tangan Daniel terangkat mengelus gemas rambut Naina. "Tapi mulai saat ini aku perintahkan agar kau tidak lagi menungguku pulang. Aku akan mengabarimu tiap saat jika kau mengkhawatirkan aku." Ucap Daniel.
Bibir Naina seketika mengkerut. "Apa kau tidak suka jika aku menunggumu?" Tanyanya pelan.
"Tentu aku menyukainya. Namun saat ini ada dia yang harus kau jaga dan kau perhatikan jam istirahatnya." Tutur Daniel seraya mengelus perut Naina yang masih rata.
Senyuman di wajah Naina pun terbit seketika. "Terimakasih telah memperhatikanku dan anak kita." Balas Naina lalu memeluk erat tubuh Daniel.
Daniel membalas pelukan Naina lalu mengecup kening Naina. "Sudah menjadi tugasku untuk selalu memperhatikanmu. Sekarang ayo kita masuk ke kamar." Ajak Daniel.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo." Ucap Naina menurut.
Daniel tersenyum lalu menggenggam tangan Nanina untuk membawanya berjalan bersama menuju kamar mereka. Saat sudah masuk ke dalam kamar, pandangan Daniel pun berubah sejuk melihat sosok malaikat kecilnya tengah tidur sambil memeluk boneka kesayangannya.
"Ada Zel ada terbangun?" Tanya Daniel.
Naina menggeleng. "Dia tidur begitu lelap dan tidak terbangun sama sekali." Balas Naina.
Daniel mengangguk paham lalu mendekat ke arah Zeline. "Anak Papa..." ucapnya lalu mengecup sayang kening Zeline. Setelahnya Daniel pun kembali mendekat pada Naina yang kini berada di dekat sofa.
"Sayang... apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Naina.
Daniel mendaratkan bokongnya di atas sofa lalu menatap Naina dengan kening mengkerut. "Kenapa kau berkata seperti itu, hem?" Tanya Daniel kembali.
Daniel terdiam. Helaan nafasnya terdengar kasar saat mengingat apa yang didengarnya di apartemen Kevin beberapa jam yang lalu.
"Apa beban di pikiranmu ada sangkut pautnya dengan Nona Queen?" Tanya Naina dengan tersenyum.
"Maafkan aku sayang..." Daniel membawa tubuh Naina ke dalam pelukannya. Bukannya tenang melihat senyuman di wajah Naina, ia justru merasa sangat bersalah telah memikirkan wanita lain yang tidak ada hubungan apa pun lagi dengannya.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kau meminta maaf padaku?" Tanya Naina.
"Maaf karena aku sudah memikirkan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan." Ucap Daniel dengan jujur.
Naina tetap tersenyum. "Tak masalah untuk kali ini." Balas Naina dengan cepat. "Jadi... siapa ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Nona Queen?" Tanya Naina kemudian.
"Seperti yang aku pikirkan tadi. Ayah dari anak Queen adalah anak Kevin." Balas Daniel.
"Apa? Tapi bagaimana bisa?" tanya Naina merasa bingung.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.