Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Pembatalan penjagaan


__ADS_3

"Tidak perlu." Ucap Kevin sambil menahan pergelangan tangan Queen.


Queen menatap tangan Kevin yang kini menahan pergelangan tangannya. "Kenapa kau melarangku?" Tanya Queen.


"Bukan melarang. Aku hanya tidak ingin kau melakukannya karena aku bisa melakukannya sendiri." Kevin pun bangkit dari duduknya.


"Tapi aku ingin melakukannya. Biarkan aku melakukan kewajibanku menjadi istri yang baik untukmu." Ucap Queen.


"Aku tidak melarangmu melakukan kewajibanmu. Namun saat ini aku juga memiliki kewajiban untuk melarangmu karena aku tidak ingin kau kelelahan atau kenapa-napa di dalam kamar mandi." Terang Kevin.


Hembusan nafas Queen terdengar melambat. "Ini bukan pekerjaan yang berat, Kev. Aku tahu kau pasti lelah setelah bekerja seharian." Ucap Queen.


"Menurutlah. Biarkan aku saja yang mengerjakannya." Ucap Kevin lalu menepuk lembut pundak Queen. Setelahnya ia pun berjalan ke arah kamar mandi tanpa berbicara satu kata pun lagi pada Queen.


"Dia itu selalu saja berlebihan." Gumam Queen sambil menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup dari dalam.


*


"Jadi Zel ngapain saja di apartemen Om Kevin tadi?" Tanya Naina sambil mengusap rambut Zeline yang kini duduk di pangkuannya. Selama dalam perjalanan pulang Zeline terus bercerita hal apa saja yang ia lakukan hari ini baik dari bermain di perusahaan Kevin hingga akhirnya Kevin membawanya bermain di apartemennya.


"Bobo ja Zel tuh. Ngantuk tadi itu, Mah. Bangun Anty ajak makan itu." Balas Zeline sambil memainkan jari-jari mungilnya.

__ADS_1


Naina mengangguk paham. "Pasti lama ya tidurnya di apartemen Om Kevin?" Tebak Naina.


Kepala mungil Zeline mengangguk. "Ya Mah. Seneng Zel tuh. Anty baik itu boboin Zel. Puk-puk kaya Mamah." Ceritanya.


Naina tertegun dan tak lama tersenyum. Ia sungguh tidak menyangka jika Queen begitu baik dan lembut pada putrinya padahal Queen tahu jelas siapa Zeline.


"Aunty Queen memang baik. Zel juga harus baik dan sopan kepadanya, oke?" Pinta Naina.


Zeline mengangguk cepat. "Suapin Zel juga tadi tuh. Kaya Mamah sayang itu sama Zel." Lanjutnya lagi.


Naina tersenyum lalu kembali mengusap kepala Zeline dengan sayang.


"Oh ya? Aunty Queen akan memiliki adik juga?" Tanya Naina pura-pura tidak tahu.


"Ya Mah. Jadi adik Zel juga nanti itu. Banak gini adik Zel. Pusing Zel tuh." Ucap Zeline sambil mengusap kepalanya sendiri.


"Zel pusing?" Daniel hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan asal putrinya.


"Ya Pah. Banak adik gitu pusing Zel sayang mana nanti ini." Curhatnya.


"Zel tidak perlu pusing begitu. Zel hanya perlu menyayangi semua adik Zel tanpa membeda-bedakannya." Tutur Naina.

__ADS_1


Zeline mengangguk saja walau saat ini ekspresinya masih bingung.


Mobil pun terus melaju hingga sampai di rumah. Daniel pun turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Naina mengangkat tubuh Zeline dari pangkuan Naina.


"Papah... besok Zel mau main sama Om Dio dan Om Marvel lagi boleh?" Pinta Zeline dengan mata berkedip-kedip.


Daniel dengan cepat menggeleng. "Besok Zel di rumah Nenek saja. Bermain bersama Aunty Mara." Ucap Daniel.


Wajah cantik Zeline seketika berubah cemberut.


"Napa inda boleh, Pah?" Protesnya.


"Nanti Om Dio dan Om Marvel meninggalkan Zel lagi. Maka dari itu Papa menarik keputusan Papa yang meminta mereka untuk menjaga Zel sampai dua hari ke depan." Terang Daniel.


***


Lanjut? Vote yang banyak dulu ayukšŸ–¤


Sambil menunggu TSP update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Bukan Sekedar MenikahišŸ–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2