
"Zeline..." Naina menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan penolakan putrinya.
"Nda mahu, Mah. Nanti Tatak jahat itu." Ucap Zeline dengan bersungut-sungut.
Daniel menghela nafas panjang lalu mengangkat tubuh Zeline dari atas sofa. "Kakak tidak akan jahat. Papa akan memarahi mereka jika jahat pada Princess Papa." Ucap Daniel menenangkan hati putri kecilnya.
"Nda mahu, Pah... jahat juga nackal juga." Sungut Zeline lagi.
Daniel melipat bibirnya ke dalam melihat betapa putrinya sangat tidak ingin bertemu dengan dua keponakan nakalnya.
"Tidak ada penolakan, Sayang." Ucap Naina dengan tegas.
Bibir mungil Zeline semakin mengerucut tajam. "Pah..." keluhnya lalu menjatuhkan wajahnya di bahu Daniel.
Daniel tersenyum lalu mengusap-usap rambut putrinya dengan sayang. "Sudahlah. Sekarang ayo kita sarapan." Ajak Daniel.
Naina mengangguk mengiyakan sedangkan Zeline hanya diam dengan wajah cemberutnya.
*
"Ada apa dengan wajahmu, centil?" Tanya Amara saat Zeline masuk ke dalam kamarnya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Inda suka Zel tuh, Nty. Mamah paksa itu main lumah Nenek Hasna jumpa Tatatk Fahli dan Falhan." Adu Zelie.
"Fahli dan Falhan?" Tanya Amara mengikuti ucapan Zeline.
Zeline menggelengkan kepalanya. "Fahli... Fahlan..." koreksinya namun tetap salah karena mulutnya tak sanggup mengucapkan huruf yang sebenarnya.
"Oh... Fahri dan Farhan?" Ulang Amara sambil menahan tawanya.
Zeline mengangguk dengan cepat.
"Ayo duduk di sini dulu." Amara membantu Zeline naik ke atas ranjangnya lalu mendudukkan tubuhnya di sebelahnya.
"Tidak boleh seperti itu... walau pun mereka jahil dan nakal, namun mereka tetap sepupu Zel. Dan Zel harus menyayangi mereka." Pesan Amara.
"Eh." Zeline menolahkan cepat kepalanya ke arah kanan. "Inda mahu. Nackal gitu bikin Zel pusing ja ini." Rungutnya.
"Hei, kata-kata dari mana kau dapatkan itu?" Amara mengusap gemas wajah Zeline dengan telapak tangannya.
"Dali Nty!" Balas Zeline dengan ketus.
Amara menghela nafas panjang. Entah mengapa kini ia mulai menyesal mengajarkan hal yang tidak-tidak pada Zeline hingga kini sikap Zeline hampir turun sepenuhnya darinya bukan dari Naina.
__ADS_1
"Ayo kita berbaring saja." Ajak Amara lalu membantu Zel untuk berbaring. Setelahnya ia pun turut berbaring di sebelah Zeline.
"Om Aga beli boneka banak untuk Zel loh, Nty." Curhat Zeline saat mengingat boneka pemberian Aga.
"Oh ya?" Mendengar nama Aga sontak membuat Amara memiringkan tubuhnya agar dapat menatap wajah Zeline.
"Ya Nty. Om Aga baik itu. Beli Zel boneka emplat." Ceritanya lagi.
Amara terdiam saat dengan pemikiran yang sudah melayang jauh. "Apa Om Aga nanti juga akan datang ke rumah Nenek Hasna?" Tanya Amara.
"Nda tahu, Nty. Papah nda bilang itu." Balas Zeline dengan polosnya.
Amara kembali terdiam. Mendengar nama pria yang sangat dirindukannya membuat hatinya semakin merindu pada pria itu. Terlebih kini keadaan begitu sulit mempertemukan mereka setelah hari pernikahan Naina dan Daniel. Walau acap kali ia dibawa bermain ke rumah Agatha, namun tetap saja Amara tidak dapat bertemu dengan Aga karena Aga tinggal di rumah yang berbeda dari orang tuanya.
"Apa Om Aga langsung yang mengantarkan boneka itu untuk Zel?" Tanya Amara.
Zeline menggelengkan kepalanya. "Inda, Nty. Oom kulil yang antal itu. Om Aga nda tahu mana itu ilang telus sekalang." Adu Zeline yang turut merindukan sosok Om dantengnya.
***
Siapa yang tidak sabar ini dengan kisah Aga dan Amara?
__ADS_1