Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Bekerja sama


__ADS_3

Queen mengikuti arah pandangan Kevin lalu mengangguk paham. Lalu dengan hati-hati turun dari ranjang agar tidak mengganggu tidur lelap Zeline. Setelah turun dari ranjang Queen dan Kevin pun berjalan keluar dari dalam kamar.


"Kenapa kau cepat sekali kembali?" Tanya Queen setelah mereka berada di luar kamar.


"Karena aku mencemaskanmu." Balas Kevin jujur.


"Kau mencemaskan aku atau mencemaskan Zeline bersamaku?" Tanya Queen sambil menarik sebelah alis matanya ke atas.


Kevin menghela nafas sesaat mendengar Queen yang seolah tahu isi hati dan pemikirannya. "Dua-duanya." Balasnya tak ingin berbohong.


Queen tersenyum. "Zel aman bersamaku. Kami bahkan tidak melakukan apa pun setelah masuk ke dalam apartemen." Jelas Queen.


"Maksudmu? Kau dan Zeline tidur sejak aku meninggalkan apartemen tadi?" Tanya Kevin.


Queen tersenyum lalu mengangguk membenarkan.


"Sepertinya Zel sangat lelah hingga langsung tertidur. Tidak biasanya yang sangat aktif bergerak." Balas Kevin.


"Ya. Aku rasa begitu karena tadi dia berkata capek dan memintaku menggendongnya ke dalam kamar."


"Apa? Kau menggendongnya?" Suara Kevin terdengar sedikit meninggi.


"Ya. Tapi hanya sebentar. Lagi pula aku tidak tega menolak permintaannya yang meminta digendong." Ucap Queen.


Kevin menghela nafas berat. Queen benar, siapa pun akan sulit menolak permintaan gadis kecil bernama Zeline yang sangat menggemaskan itu.

__ADS_1


"Lain kali jangan lagi menggendongnya. Ingat saat ini kau sedang hamil." Ucap Kevin.


Queen tersenyum. "Akan aku usahakan." Balasnya tak ingin berjanji. "Karena tubuhku sudah baik-baik saja, maka sekarang aku ingin memasak di dapur." Ucap Queen.


"Tidak perlu memasak. Kita bisa membeli makanan dari luar." Balas Kevin cepat.


Queen menggelengkan kepalanya. "Aku masak saja. Lagi pula bahan masak di kulkas masih banyak dan sayang jika tidak dimanfaatkan." Ucap Queen.


"Tapi kau baru saja mengalami sakit di perutmu, Queen." Tekan Kevin.


"Aku tahu. Tapi sekarang aku benar sudah baik-baik saja." Balas Queen meyakinkan.


"Tapi..."


Kevin terdiam lalu menghela nafas panjang. "Baiklah. Tapi aku akan membantumu." Putus Kevin.


"Tap—" Queen yang hendak protes mengurungkan niatnya saat sebelah tangan Kevin terangkat di udara.


"Iya atau tidak sama sekali." Ucap Kevin dengan tegas.


"Baiklah. Kau bisa membantuku agar pekerjaanku lebih cepat selesai." Balas Queen tak ingin berdebat.


Kevin mengangguk menyetujui. Setelahnya mereka pun kembali masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju.


*

__ADS_1


"Hua..." suara tangisan Zeline yang terdengar cukup keras saat Queen dan Kevin sedang bekerja sama memasak di dapur menghentikan kegiatan masing-masing.


"Sepertinya Zel terbangun." Ucap Queen.


Kevin mengangguk membenarkan. "Pergilah ke kamar. Biar aku yang melanjutkan masaknya." Ucap Kevin. Karena jujur saja ia belum memiliki pengalaman menenangkan anak yang sedang menangis.


Queen mengangguk menyetujui. Ia pun mencuci tangan lebih dulu lalu segera keluar dari dalam dapur menuju kamar.


"Hua... mana ini?" Zeline terlihat ketakutan sambil menatap ke sekeliling kamar. Sepertinya balita itu melupakan jika tadi ia dibawa bermain ke apartemen Kevin.


Ceklek


Suara pintu kamar yang terbuka dari luar membuat Zeline menatap ke sumber suara.


"Nty Queen?" Ucap Zeline di sela tangisannya.


"Zeline sayang..." Queen berjalan mendekat ke arah ranjang. "Kenapa menangis, hem?" Tanya Queen sambil mengusap rambut Zeline dengan tangannya.


***


Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.


Sambil menunggu TSP update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Bukan Sekedar Menikahiđź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2