
Devlan senang dan bangga, saat dokter cantik itu mau memegang senjata air miliknya. "Mengapa ekspresi wajahnya terlihat biasa saja. Caranya memegang dan melihat milik ku, seperti tanpa ekspresi seperti ini. Apakah senjata milik ku tidak menarik untuknya, hingga dia terlihat biasa saja," batin Devlan.
Ia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Dalam kondisi apapun, senjata airnya tetap saja seperti ini, bila berdekatan dengan super Hero nya. Namun melihat ekspresi wajah Aira, membuat ia sedikit kecewa. Tiba-tiba saja wajahnya memerah menahan marah serta cemburu. Aneh memang, baru saja bertemu sore tadi, namun dirinya sudah bisa terbakar rasa cemburu. Baru membayangkan saja, darahnya sudah mendidih.
Aira yang sudah selesai membersihkan tubuh Devlan dan berniat untuk beranjak dari duduknya. Hari ini terasa sangat berat untuknya. Ia bertemu dengan pria sekarat yang sekarang dalam perawatannya. Rumahnya selalu diintai dan diawasi setiap waktu. Bahkan orang yang mengintai rumahnya datang secara langsung meskipun dengan alasan menyelamatkan temannya yang di begal.
Aira memandang tangannya dipegang erat Devlan. Gadis itu tampak bingung dan kembali duduk di tepi spring bed. "Ada apa?" Keningnya berkerut memandang Devlan.
"Katakan, apa kamu sering melihat barang milik laki-laki?" Wajahnya bertanya dengan ekspresi serius.
Aira diam memandang Devlan.
"Kenapa tidak menjawab," desaknya.
Hatinya pasti sakit dan tidak terima, bila Aira menyentuh miliki orang lain. Namun tetap saja ia ingin tahu.
"Mas Bimo lagi ngomong apa?"
"Apa kamu sering melihat yang seperti ini dan memegangnya?" Devlan semakin memperjelas pertanyaannya dan memegang benda kepemilikannya.
"Kalau iya kenapa?" Aira balik bertanya.
"Aku tidak suka, mulai sekarang tidak boleh." Devlan berkata dengan penuh penekanan.
Aira diam memandang wajah tampan si pria. Wajah Devlan semakin terlihat Maco, karena pipi serta dagu yang ditumbuhi rambut-rambut yang cukup kasar. Jambang dan jenggotnya tampak sangat dipelihara karena tumbuh dengan rapi.
Wanita mana yang mampu menolak pria yang nyari sempurna, dengan dada yang ditumbuhi rambut halus. Selama menjalani dokter, mungkin Devlan orang pertama yang mendapatkan predikat terganteng dan sempurna di mata Aira.
"Beby, aku tidak ingin." Kalimat yang akan keluar dari mulutnya terhenti saat Aira memotong ucapannya.
"Status saya dengan anda, hanya sekedar dokter dan pasien. Apa yang saya lakukan, itu bagian dari pekerjaan saja. Bila senjata air anda bisa seperti ini karena dekat dengan saya, ini artinya normal." Dengan sengaja Aira menjentik jarinya di kepala jamur milik Devlan.
"Auw baby, kamu sengaja menyiksaku." Devlan menatap mata Aira.
"Makanya jadi orang jangan mesum, kondisi sudah seperti ini masih mikir yang aneh-aneh." Aira tertawa kecil melihat ekspresi wajah Devlan.
__ADS_1
Devlan tertawa saat mendengar ucapan Aira. "Bukankah ini pertanda aku normal Beby?"
Aira hanya diam tanpa menjawab.
"Tapi aku serius aku tidak suka bilang kamu melihat banyak milik pria." Devlan kembali mengulang ucapannya.
"Aku ini seorang dokter mulai dari anak bayi sampai kakek-kakek aku melihatnya dan bahkan aku sering memotongnya." Aira tertawa kecil.
Devlan diam mendengar perkataan dari Aira. Tiba-tiba saja nyalinya menciut.
Aira semakin tidak habis pikir dengan ucapan si pria. Hubungan mereka hanya sebatas pasien dan dokter. Saat ini lelaki itu juga bisa menjadi pasiennya, karena masuk ke dalam rumahnya.
"Tidur." Aira tersenyum dan menarik hidung Devlan. sejak tadi ia sudah sangat geram melihat tingkah si pria.
"Aku tidak bisa tidur baby, di sini panas. Aku ingin tidur di kamarmu, aku janji tidak akan melakukan apapun. Aku hanya tidur saja," ucapnya bersungguh-sungguh.
"Bila berbicara seperti ini, lagi kamu tidur di luar ya mas."
"Aku akan tidur di sini saya Beby." Pria itu tersenyum dan memajukan bibir, berharap dapat kecupan sebelum tidur.
"Sakit beby, bukannya menciumku malah menarik rambutku." Devlan mengusap kepalanya sendiri.
Aira hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pasien mesum seperti Devlan.
"Aku akan tidur dikamar, capek," keluh Aira. Ia yang beranjak dari duduknya dan kemudian membawa wadah berisi air yang tadi digunakan untuk membersihkan tubuh si pria.
Devlan melihat Aira yang mematikan lampu dan menutup rapat pintu kamarnya.
Devlan senyum-senyum sendiri memandang pintu yang sudah tertutup rapat. Dia sungguh sangat membuat aku penasaran. "Jika Leo tidak berkhianat denganku, sudah pasti akan memberikan dia bonus yang sangat besar karena telah berhasil menemukanku dengan gadis yang begitu sangat cantik, pintar dan baik seperti Airin. Tapi sayangnya dia sudah menghianatiku dan bahkan berencana untuk membunuhku. Itu artinya tidak ada ampun untuknya." Devlan mengingat pria yang merupakan asisten pribadi, serta orang kepercayaannya tersebut.
Dengan sengaja pria itu menonaktifkan nomor ponsel yang selalu dipakainya. Ia tidak ingin pembicaraannya di sadap. Ia hanya mengaktifkan satu nomor dan nomor ini hanya diketahui beberapa orang terdekatnya saja. Mencari orang yang setia, bagaikan mencari jarum dalam jerami dan seperti itulah yang dirasakannya saat ini. Penghianatan yang dilakukan oleh asisten pribadinya membuat kepercayaannya luntur untuk semua orang. Namun saat ini, hanya ada satu nama yang tidak akan pernah diragukannya.
Devlan menghubungi nomor ponsel orang tersebut. Dengan cepat pria itu mengangkat sambungan teleponnya.
"Halo, mengapa meneleponku, mengganggu," oceh seorang pria di seberang sana.
__ADS_1
"Maafkan aku, paman, aku mengganggu kesibukanmu. Namun saat ini aku sangat membutuhkanmu. Di mana paman sekarang?" Devlan tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah kesal si paman di seberang sana.
"Aku sedang di Hongkong," jawaban singkat dari pria yang bernama Pram.
"Kembali ke Indonesia sekarang, ini sangat darurat. Aku tidak mungkin bisa memegang perusahaan saat ini karena kondisiku sangat tidak baik." Saat ini, hanya pamannya yang bisa diandalkannya.
"Apa yang terjadi?
"Leo menghianatiku, aku tidak tahu apa motif di balik perbuatannya. Aku belum bisa mencari tahu tentang hal ini," jelas Devlan. Terdengar suara sang paman yang mengumpat di sebelah sana.
"Sudah berapa kali aku katakan, dia bukan orang yang pantas untuk kau percaya, tapi kau tidak mau dengar ucapan dari pamanmu ini." Pram berkata dengan kesal.
Devlan bisa merasakan seperti apa kemarahan pamannya, kepada orang yang sudah mengkhianatinya. "Satu-satunya orang yang aku yakin tidak akan berkhianat hanya paman. Namun Paman tidak mau terikat dan memilih hidup bebas, beterbangan ke sana kemari seperti burung."
Pram diam saat mendengar Omelan dari keponakannya. "Kau seperti mommy mu, bila sudah mengomel." Terselip rasa rindu kepada kakaknya. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Ceritakan kepadaku apa yang dilakukan orang itu. Aku akan mengupas kulit kepalanya."
"Aku dijebak, Sopir pribadiku ternyata orang suruhan Leo. Aku tidak menyangka bahwa minuman mineral yang ada di mobilku sudah diberi obat. Setelah aku minum air mineral, aku merasa sangat ngantuk dan aku tidak tahu lagi. Begitu aku terbangun, aku sudah berada di kawasan yang tidak aku kenal. Mereka menyerang ku." Devlan kemudian diam
"Apa lagi?" Tanya Pram yang merasa tidak puas.
"Aku akan cerita, jika kita sudah berjumpa nanti." Devlan tersenyum. Sudah bisa dibayarkan, seperti apa penasaran sang paman saat ini.
"Dasar keponakan durhaka," umpat Pram. Pria itu semakin kesal ketika mendengar Devlan tertawa.
"Sekarang katakan, dimana kau berada? Aku akan menjemputmu."
"Aku berada di tempat yang aman paman."
"Aku yakin, kondisi mu tidak terlalu buruk, mengapa tidak pulang?"
"Aku masih agak lama di sini, aku masih ada urusan."
***
__ADS_1