Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 27


__ADS_3

Bab 27


Aira melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Sebenarnya, ia masih sangat betah berada di dalam kamar yang begitu sangat besar, bersih dan nyaman tersebut. Namun melihat sikap random Devlan, membuat dirinya ingin keluar dari kamar dan menghirup udara segar. Apalagi sejak tadi ada Melly, yang selalu mengamati apa yang mereka lakukan. Meskipun wanita itu menundukkan kepalanya, namun tetap membuat Aira tidak nyaman.


Rasa kagum terhadap istana milik Devlan seakan tidak pernah pudar. Selama ini ia hanya melihat rumah yang begitu sangat besar dan mewah di dalam film Hollywood yang menjadi favoritnya. Yang mana terdapat kamar-kamar besar, pintu-pintu besar berwarna hitam dengan dinding berwarna putih tulang dan dikombinasi wallpaper berwarna silver. Sungguh memberikan kesan mewah. Selain terdapat kamar-kamar yang berukuran besar, di ruangan lantai 2 ini juga memiliki tempat santai berupa sofa berkualitas ekspor berwarna hitam, TV berukuran 85 inci menempel di dinding. Lemari hias yang terbuat dari kayu jati pilihan dan bunga yang berukuran tinggi berada di sudut ruangan, hingga membuat ruangan ini semakin terasa nyaman. Ingin sekali Aira menanyakan, TV yang menempel di dinding, berapa ukurannya, namun dirinya malu.


"Baby rumah ini dilengkapi dengan lift , jika kamu ingin naik lift boleh. Hanya saja kalau ingin lihat-lihat kita pakai tangga manual. Kamu pilih yang mana baby?" Devlan bertanya dengan suara yang begitu sangat halus. Ia menunjukkan bahwa dirinya seorang pemilik rumah yang sangat baik, ramah dan memperlakukan tamunya sebaik-baiknya.


"Pakai tangga manual aja mas."


Devlan menganggukkan kepalanya dan memegang tangan gadis itu.


"DiLantai 2 ini, ada enam kamar dan salah satunya kamar yang kamu tempati. Kemudian kamar ku, kamar paman dan kamar papi dan mami. hanya saja Paman sangat jarang berada di sini jadi kamar itu lebih sering kosong. Aku juga sebenarnya tidak sering ke sini karena biasanya aku lebih sering tidur di apartemen." Devlan menjelaskan. Mansion ini hanya dikunjunginya sekali-kali saja. Namun entah mengapa, ia justru membawa Aira ke sini. Tempat yang penuh dengan kenangan bersama dengan kedua orangtuanya.


Aira menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Devlan. "Terkadang orang kaya itu aneh ya mas."


"Aneh kenapa baby?"


"Rumah secantik dan semewah ini, dilengkapi dengan pelayan, penjaga keamanan dan sebagainya, malah ditinggalin. Sedangkan penghuninya pergi ke tempat yang lain. Sedangkan aku, punya rumah seperti itu, senangnya bukan main. Kemanapun pergi, tetap yang ternyaman ya rumah sendiri." Aira tersenyum.


Devlan hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Aira. "Iya aneh memang," ucapnya yang membenarkan.

__ADS_1


Devlan membawa Aira, menuju ke lantai bawah. Melihat ekspresi wajah Aira, ia tahu bawa gadis itu sangat mengagumi rumah miliknya. Ada rasa bangga, terpancar di matanya.


Gadis itu tidak berkata apa-apa, ia hanya memandang kagum rumah yang begitu sangat besar dan mewah tersebut. Sejak tadi entah sudah berapa orang pelayan yang sudah berselisih dengannya. Ia yakin, pelayan itu, bukan orang yang sama. Aira bisa mengambil kesimpulan bahwa di rumah ini begitu banyak pelayan.


"Apa nggak capek mas punya rumah sebesar ini, perasaan ini rumah udah sama besarnya sama rumah sakit tempat aku praktek." Aira memandang ke sekeliling rumah.


Devlan tertawa kecil saat mendengar pertanyaan dari Aira. "Bisa jadi soalnya rumah ini memang dibangun di atas tanah yang berukuran 10 hektar. Namun 10 hektar tanah, itu tidak untuk rumah saja. Kakek membuat hutan lindung yang mana di dalam hutan memiliki satwa. Kolam renang, taman dan kebun buah.


Aira begitu sangat antusias mendengarkan apa yang disampaikan Devlan. Ia tidak menduga, rumah yang berada di tengah kota ini, memiliki ukuran tanah yang begitu sangat luas.


Pria berwajah tampan itu, begitu sangat bersemangat membawa gadisnya ke taman belakang. Tempat favoritnya bila di rumah. Melihat ekspresi wajah Aira, membuat dirinya tersenyum. "Apa kamu suka baby?"


"Suka dong, suka banget malah. Cukup ke taman belakang aja sudah ngasih pemandangan segar seperti ini." Aira tersenyum dan memandang hamparan rumput Rumput Swiss yang memiliki tekstur halus tersebut. Rumput ini terlihat rapi dan sangat terawat. Di taman belakang ini juga ada kursi santai, gazebo, rumah kaca yang masih membuat Aira penasaran dan taman bunga.


Wajah tampan Devlan berbinar ketika mendengar jawaban dari Aira. Ada rasa senang dan bahagia yang merambah di relung hatinya. Aira sangat suka di sini, itu artinya. Pria itu masih sangat menikmati elemen-elemen positif yang bersarang di tempurung kepalanya.


Aira diam dan bingung sendiri saat melihat respon dan wajah Devlan. Pria itu terdiam mematung dengan mata terbuka lebar, senyum dan mulut terbuka. Entah apa yang salah dengan ucapan yang tadi di katanya. " Mas, ada apa?" tanya Aira.


Devlan memandang Aira masih dengan ekspresi wajah yang sama. "Kamu tadi mengatakan sangat betah di sini baby?" Ia mengulang pertanyaan Aira.


Aira bingung untuk menjawab, pertanyaan itu, seakan memberikan makna yang ambigu.

__ADS_1


"Aku akan pastikan kamu selamanya di sini baby, I love you." Devlan tersenyum dengan sangat manis, menunjukkan ibu jari dan telunjuk yang dibuat selisih yang menjadi simbol cinta.


Aira bingung dan panik ketika pria itu merespon ucapannya seperti ini.


***


"Papa, apa yang terjadi." Wanita berwajah cantik itu, datang dengan wajah pucat.


"Tenanglah putri ku." Pria berusia sekitar 60 tahun itu menenangkan putri kesayangannya. Ia tampak santai duduk di balkon atas tepat di depan kamarnya.


"Bagaimana aku bisa tenang papa? Saat ini jantung ku seperti akan lepas." Wanita itu berkata dengan wajah cemasnya. Rasa kesalnya semakin berlipat ganda saat melihat papanya tertawa lepas seperti ini.


"Bagaimana mungkin papa bisa santai seperti ini bila Leo tertangkap.


"Meskipun dia tertangkap dia tidak akan mengatakan apapun jadi kamu tenang saja Selina.


Wanita itu berdecak kesal saat mendengar apa yang dikatakan oleh papanya. Begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi dan hal itu yang begitunya cemas. "Bagaimana caranya untuk aku bisa percaya?"


Pria tua itu tertawa lepas dan merasa geli mendengar ucapan putri kesayangannya. "Papa ini sudah tidak anak muda lagi. Papa sudah banyak makan garam nak. Jadi tidak pernah salah melangkah Selina."


Meskipun tidak bisa percaya begitu saja namun wanita itu tetap menganggukkan kepalanya. "Papa harus hati-hati," ucapnya mengingatkan.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, ingat tugas mu. Kau tahu, apa yang sudah papa lakukan terhadap tunangannya? Jangan pernah membuat usaha papa sia-sia." Pria itu tersenyum iblis memandang putri kesayangannya.


***


__ADS_2