
"Ingat pesan yang tadi aku sampaikan. Kamu harus pergi ke tempat yang jauh. Jaga anak kita baik-baik dan maafkan aku." Tubuh pria itu bergetar ketika menahan tangisannya.
"Kamu gak salah mas, aku yang salah. Aku yang terlalu menuntut terlalu banyak, padahal kamu belum mampu. Aku tahu apa yang kamu lakukan, bukannya melarang namun aku semakin mendukung usaha mu. Seharusnya aku juga berada di sini bersama dengan kamu." Wanita itu berusaha untuk menahan suara tangisannya.
Leo melepaskan pelukan di tubuh istrinya. "Aku yang berbuat semuanya dengan tangan ku dan kesadaran yang aku punya. Aku suami, aku harus bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan. Tugas kamu cukup jaga anak kita, aku pergi dulu." Pria itu mencium kening istrinya terlebih dahulu dan pergi bersama dengan petugas. Entah mengapa, saat melepaskan tangan Ayu, ia meras bahwa tidak akan pernah lagi bisa memegang tangan wanita tersebut.
Ayu terus menangis ketika suaminya dibawa oleh petugas untuk kembali ke dalam sel. Setelah Leo tidak terlihat oleh pandangannya, ia keluar dari ruangan sambil menarik tas travel bag miliknya. Ayu meletakkan tas-tas beroda itu di depan teras kantor polisi dan wanita itu kemudian duduk di kursi panjang yang berada di teras.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Ayu mulai berpikir ke mana dirinya akan pergi. Untuk masalah uang, dia tidak akan kesulitan untuk beberapa tahun ke depan, karena uang yang dimilikinya sangat banyak. Meskipun itu hanya dari perhiasan dan juga barang-barang mewah miliknya. Namun yang saat ini harus dipikirkannya adalah tempat untuk dirinya bersembunyi.
Dibukanya aplikasi taksi online di ponselnya dan kemudian memesan taksi lewat aplikasi. Ayu terus melamun sambil menunggu taksi yang di pesannya datang.
"Ibu Ayu." Seorang pria berdiri di dekat kursi yang diduduki Ayu.
"Iya pak," jawab Ayu kepada pria yang berusia sekitar 40 tahun tersebut.
"Pesan taksi?" Pria itu sedikit tersenyum.
"Iya," jawab Ayu.
"Mari saya bantu, mobil saya ada di sana." Pria itu menunjuk keluar pagar.
"Iya pak," jawab Ayu yang berjalan di belakang pria bertubuh tinggi tersebut, karena kedua tasnya dibawakan langsung oleh si sopir.
Ayu naik ke dalam taksi dan membiarkan sopir taksi memasukkan tasnya ke bagasi. "Katanya mobil yang jemput saya Agya kenapa yang datang mobil Brio." Ayu bertanya kepada sopir.
"Lokasi yang terdekat saya, jadi saya yang mengambil ibu Ayu," jelas pria itu dengan sedikit menolehkan kepalanya ke belakang dan kemudian menjalankan mobilnya.
"Kita mau ke mana Bu?" tanya si sopir.
Ayu diam dan berpikir.
__ADS_1
"Arah kanan atau kiri Bu." Si supir kembali bertanya.
"Kanan," jawab Ayu yang memang belum memiliki tujuan.
Ayu tidak memandang jalan yang saat ini dilaluinya kepalanya begitu sangat pusing dan memikirkan ke mana arah tujuan yang akan diambilnya. Ia begitu asik dengan pikirannya sendiri, tanpa menyadari bahwa mobil sudah berjalan sangat jauh.
"Ibu Ayu mau ke mana?" Pria itu menghentikan mobilnya tepat di tempat yang sepi.
Ayu diam memandang ke sekitar tempat tersebut. "Ini di mana pak?" tanyanya.
"Ini sudah arah mau ke Sumatera."
"Arah mau ke Sumatera?" tanya Ayu kaget. Ia tidak menduga bahwa mobil sudah sejauh ini.
"Iya bila kita menyeberang dengan naik kapa Veri, maka kita akan sampai di pulau Sumatra." Pria itu tersenyum sinis.
Ayu diam dan melihat mobil yang berhenti di depan mobil yang saat ini dinaikinya dan 4 orang laki-laki keluar dari mobil tersebut. Salah satunya orang yang menjemputnya di rumah dan mengaku anak buah suaminya.
Ayu diam memandang sopir taksi. Bagaimana mungkin pria itu mengetahui namanya.
Belum sempat ayu berbicara, pintu mobil sudah dibuka oleh salah seorang pria dan pria itu menyeretnya keluar.
"Ada apa ini? Mas Anto," panggil Ayu.
Pria yang bernama Anto itu tersenyum memandang Istri mantan bosnya. "Ternyata kita bertemu lagi di sini ya ibu Ayu. Jujur saja, saya sudah tidak menjadi anak buahnya Leo dan yang memerintahkan saya untuk membawa ibu Ayu bukan Leo namun bos saya. Leo itu sangat kejam. Karena dia, tangan salah seorang anak buah saya, harus diamputasi. Yang lebih membuat saya marah, dia tidak memberikan uang pengeboran dan uang jaminan hidup untuk rekan saya."
Wajah cantik wanita itu memucat. Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya. Dengan rasa takut, ia memeluk perutnya sebagai benteng perlindungan untuk calon bayinya.
"Maaf ibu Ayu, kami hanya menjalankan tugas dari bos kami." Si supir menjelaskan.
"Tu... tugas." Ayu berkata dengan gugup.
__ADS_1
"Hahaha, ibu Ayu ternyata pintar," jawab pria yang bertubuh tinggi tegak dengan warna kulit hitam.
"Apa yang ingin kalian lakukan? Tolong lepaskan saya." Ayu memberontak saat salah satu dari pria itu memegang tangannya.
"Tidak bisa ibu Ayu karena bagi kami nyawa ibu Ayu adalah uang," jawab sopir taksi tanpa ada rasa bersalah.
"Saya janji akan pergi sejauh-jauhnya tolong lepaskan saya." Ayu menangis dan berusaha menarik tangan pria tersebut. Namun tamparan keras yang mendarat di wajahnya membuat wanita itu pusing dan tubuhnya oleng.
Ayu tetap berusaha untuk mempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh. "Tolong ampuni saya, biarkan saya pergi. Saya janji tidak akan pernah kembali lagi ke sini. Saya akan pergi ketempat yang sangat jauh hingga tidak ada satu orangpun yang bisa menemukan saya." Wanita itu menangis dan memohon balas kasihan ke 5 pria itu.
"Tempat yang paling jauh dan sangat jauh, adalah neraka. Ha... ha... Maaf ibu Ayu, kami bukan lembaga sosial. Jika bos kami mengatakan bunuh, kami akan bunuh," jawabnya tanpa ada rasa kasihan.
"Saya mohon tolong jangan bunuh saya. Saya sedang hamil, tolong biarkan saya pergi." Ayu masih teringat pesan terakhir dari suaminya yang meminta untuk menjaga anaknya.
Burhan memang sangat kejam. Untuk menghilangkan jejak, ia akan menghabis sampai ke akarnya. Bahkan ia tidak akan memberikan ampunan untuk anak dan istri dari anak buahnya yang dianggap akan mengancam rahasianya.
"Tolong lepaskan saya." Ayu menjerit. Wanita itu terdiam sesaat ketika salah seorang dari pria itu meninju perutnya berulang-ulang kali. "Jika kau ingin menyelamatkan anakmu maka anakmu sudah kami lenyapkan terlebih dahulu," ucapnya pria berkulit hitam tersebut.
Ayu menangis menahan sakit. Dapat dirasakannya cairan hangat yang membasahi kakinya.
"Tolong kasihan saya." Ayu masih memohon walaupun apa yang dikatakannya tidak akan didengarkan oleh pria-pria berhati kejam tersebut.
"Jika saya mati, saya tidak akan pernah membuat hidup kalian tenang. Saya akan selalu datang menemui kalian." Ayu masih bisa mengatakan sumpahnya.
Namun para pria itu justru tertawa lepas. Mereka dengan sengaja membawa Ayu ke rel kereta api yang sepi. Setelah mengikat tangan wanita itu, mereka menidurkannya di tengah rel dan barang milik Ayu, dengan sengaja di letak di samping rel. Mereka terlebih dahulu menghilangkan sidik jarinya di tas tersebut dengan menyemprotkan cairan pembersih.
Kelima pria itu pergi sebelum kereta api lewat.
Ayu hanya diam dan pasrah menunggu ajalnya. Air matanya mengalir deras saat mengingat wajah suaminya. "Mas, aku berangkat duluan bersama anak kita. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji untuk menjaga anak kita dan mengunjungi kamu lagi. Aku akan menunggu kamu untuk menyusul kami." Ayu memejamkan matanya saat mendengar suara kreta api yang semakin dekat dengannya. Dalam waktu sekejam saja, tubuh wanita itu sudah hancur di lindas ular besi tersebut.
***
__ADS_1