Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 18


__ADS_3

Setelah meminta Devlan untuk pergi dari rumahnya, Aira pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Jika nanti pria itu pergi meninggalkan rumah, apakah rumah ini akan terasa sepi. Aira duduk di kursi makan dengan pikiran yang jauh melayang.


Entah mengapa ia merasa nyaman bersama dengan Devlan, meskipun pria itu menyebalkan. Namun walau bagaimanapun, pria itu harus pergi dari rumahnya. Apalagi kondisi Devlan yang sudah sangat membaik. Jadi tidak ada alasan untuk pria itu tetap tinggal.


Setelah cukup lama termenung, Aira baru teringat dengan sarapan yang rencana akan dibuatnya. Gadis itu membuat sandwich isi daging, sesuai dengan selera Delvan yang lebih menyukai roti isi daging dari pada nasi.


"Setelah dia pergi, apakah dia masih akan sering-sering datang ke sini, meski hanya sekedar bertamu saja." Aira berkata saat membalikkan roti yang sudah menguning.


Entah apa yang terjadi dengan dirinya, sungguh tidak dimengerti oleh dirinya sendiri. Entah mengapa ia berharap bisa selalu dengan dengan pria yang nyaris sempurna tersebut.


Aira memasukkan sandwich yang sudah menguning itu ke dalam piring kemudian membuat secangkir kopi dan segelas minuman coklat untuknya. Pagi ini ia ingin sekali menikmati sarapan bersama dengan Delvan. Setelah ini, pria itu akan pergi dari kehidupannya.


Sedangkan di dalam kamar, Devlan mulai uring-uringan. Meskipun sudah tahu bahwa ia harus pergi ketika kondisinya sudah membaik seperti ini, namun tetap saja di dalam hati kecilnya tidak ingin pergi.


Pria itu mulai sibuk memikirkan apa tindakan yang harus dilakukannya. Bertahan untuk tinggal di rumah dokter yang sudah menyelamatkannya, tidak mungkin. Mengingat di rumah ini hanya ada Airin seorang. Bagaimana jika seandainya rumah ini digerebek warga dan mereka dinikahkan? Ya jujur saja bila hal itu terjadi, Devan tidak akan keberatan. Bahkan sangat senang menerima pernikahan yang wajib di lakukan karena dianggap berbuat zinah. Namun bagaimana dengan Airin yang pastinya akan merasa malu dan reputasinya sebagai dokter pun akan hancur


Devlan duduk kemudian berdiri, berjalan mondar-mandir kemudian duduk lagi. Memikirkan hal sederhana seperti ini saja, mengapa membuat dirinya pusing. Biasanya permasalahan rumit sekalipun tidak akan membuat kepalanya pening seperti ini.


"Airin, kamu sudah membuat aku gila." Pria itu mulai frustasi.


"Mas Bimo, mas Bimo." Aira mengetuk pintu kamar Devlan


Dengan cepat Devlan membuka pintu kamar. "Iya beby, apa sarapannya sudah selesai?" Devlan tersenyum memandang Aira yang berdiri di depan pintu.


"Sudah, ayo sarapan," ajak Aira.

__ADS_1


Devlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian berjalan menuju ke meja makan.


"Kamu membuat sandwich beby?"


"Iya sandwich daging," jelas Aira.


"Aku sangat menyukai ini," Devlan tersenyum. Ia berharap, pagi besok ia masih sarapan bersama dengan Airin.


"Kalau gitu ayo kita sarapan." Aira tersenyum dan duduk di kursi yang ada di sebelah Devlan.


"Berhubung kondisi ku sudah sangat baik, maka aku yang akan menyuapi kamu." Devlan tersenyum dan mengarahkan roti sandwich tetap di depan bibir Aira.


"Aku bisa makan sendiri mas," tolaknya. Ia sangat malu bila makan di suapi seperti ini. Rasanya juga tidak nyaman dan tidak sebebas makan sendiri.


"Aku tidak ingin kamu menolak Beby. Bayangkan jika seandainya aku sudah tidak di sini, kamu pasti akan sangat merindukan aku beb." Devlan menatap sendu wajah cantik dokter muda tersebut. Tiba-tiba saja ia dilanda rasa cemburu saat membayangkan gadis itu memeriksa pasien laki-laki, dan memberikan obat dan penanganan untuk pasien laki-lakinya.


Devlan mengigit roti bekas gigitan Aira. Rasa roti sandwich itu semakin enak karena dimakan berdua seperti ini.


"Beb, aku cemburu bila membayangkan kamu memeriksa pasien laki-laki." Devlan berkata dengan jujur.


Aira memandang Devlan dengan mengerutkan keningnya. "Mas Bimo aneh."


"Ini bukan aneh beb, aku menyukai mu." Ia berharap gadis cantik itu, mau membalas cintanya.


Aira diam tanpa berkata apa-apa lagi. Bersyukur pria itu baru berkata masalah cinta, setelah satu roti sandwich habis.

__ADS_1


***


Wajah Leo semakin memuncak saat melihat rekaman video istrinya.


"Bagaimana, istri dan calon anak mu, sangat baikkan?" Pria itu tertawa puas.


Leo semakin kesal saat pria itu tertawa. Jika tidak karena haus harta dan kekuasaan, hal buruk ini tidak akan pernah terjadi.


"Jangan lukai istri dan calon anak ku." Bisa di katakan, inilah kelemahan terbesarnya sebagai laki-laki. Suami mana yang mampu melihat istri dan calon bayinya terluka bahkan harus meregang nyawa.


"Aku akan lakukan seperti apa yang sudah aku katakan, jika kau buka mulut. Namun bila kau tutup mulut, hidup istrimu akan tetap terjaga. Ia akan tetap bisa menikmati hidup mewah dengan berbagai fasilitas mewah, meskipun Pram sudah menyita semua harta dan membekukan semua rekening mu dan rekening istrimu. Aku akan membiayai semua kebutuhannya bersama dengan calon anak mu. Ha... Ha... Ha...


Leo diam dengan hati yang hancur. Bagaimana mungkin ia akan menyerahkan istrinya kepada seorang penjahat. "Bagaimana caranya kau bisa menculik istriku?" Dadanya naik turun menahan amarah. Ia sudah memberi tahu istrinya untuk segera pergi, namun mengapa istrinya bisa di tangkap pria tersebut.


"Mudah saja, aku meminta orang ku untuk menjemputnya dan mengatas namakan perintah dari mu. Ha ... Ha ...


Tentu saja salah seorang dari orang yang menjemput, anak buah yang sering kau pakai. Jelas saja, istrimu tidak akan curiga walaupun secuil. Saat ini dia bahkan sedang bersantai sambil menonton televisi.


"Licik," lirih Leo.


"Aku tidak ingin melakukan pemaksaan terhadap istri mu. Karena aku tahu, dia sedang hamil dan hal itu sangat tidak baik untuk anakmu. Ha... Ha ... Cara ku sangat halus bukan." Pria itu tertawa lepas dan menutup sambungan telepon.


Sebelum melangkah sejauh ini, ia sudah tahu, bahwa kehancuran akan datang jika rencananya gagal. Namun hidupnya akan bergelimang harta dan kekuasaan jika berhasil. Ia yakin apa yang sudah terencana akan berjalan dengan baik namun ternyata, Dewi Fortuna tidak berada di sisinya. Saat ini yang ada hanya penyesalan.


Belum hilang rasa terkejut, melihat video istrinya, kini Leo harus merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketika melihat pintu ruangan Pram terbuka. Pria berwajah tampan itu masuk dengan riak wajah tentang namun begitu sangat mengerikan.

__ADS_1


Bagaikan maling yang ketahuan, wajahnya pucat pasi dan keringat bercucuran di pelipis keningnya. Saat ini saja, ia sudah tidak sanggup untuk menahan air seni dari kantong kemih yang sudah terasa sakit. Hanya satu doanya, agar Pram tidak tahu apa yang telah dilakukannya terhadap Delvan. Jika seandainya pria itu tahu, sudah pasti, pria itu tidak akan memberi ampun untuknya. Sebelum diantar ke tahan, ia pasti sudah kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Membayangkan ini saja, sudah membuat darahnya berdesir dan detak jantung yang semakin tidak menentu.


***


__ADS_2