
"Selamat pagi pak. "Alicia masuk ke dalam ruangan Pram. Sekretaris cantik itu meletakkan map di atas meja. "Ini berkas yang bapak minta."
"Terima kasih, apa sudah kamu putuskan?" Pram bertanya dengan mata yang masih fokus ke layar laptopnya.
"Apa yang mau diputuskan pak?" Tampak jelas wajah bingung gadis itu saat mendengar pertanyaan dari sang bos.
Pram mengangkat kepalanya dan memandang sekretaris cantik tersebut Melihat wajah Alicia bingung seperti ini, Pram juga ikut bingung.
"Apa yang mau diputusin sih pak, nggak ada juga kok yang mau diputusin," jawab Alicia setelah berhasil mencerna pertanyaan bos nya.
"Maksud kamu?" Kini Pram yang balik bertanya.
Gadis cantik itu menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan. "Saya ini jomblo pak, nggak ada yang mau diputusin," jawabnya kemudian.
Pria tampan itu menggaruk hidung mancungnya dengan telunjuk jari. Entah apa yang ada di dalam kepala wanita muda itu hingga lain pertanyaan lain jawaban.
"Kenapa pak, jangan dikira saya nggak punya pacar karena saya jelek. Saya cantik kok, yang suka sama saya juga banyak." Gadis cantik itu membela dirinya sendiri.
"Oh jadi yang suka kamu banyak. Kenapa kamu tidak mau?" tanya Pram.
"He... he.... ceritanya panjang pak." Gadis itu tersenyum nyengir.
Pram diam memandang wajah cantik sekretarisnya. Bila dilihat dari penampilannya, Alicia tidak seperti sekretaris pada umumnya. Yang berpenampilan seksi, menarik, dan sudah pasti riasan wajah full make up. Berbeda jauh dengan Alicia, gadis itu berpenampilan sopan namun tetap modis dan elegan. Make up nya juga tidak terlalu tebal, namun tetap terlihat sangat cantik. Pram mengusap wajahnya dengan kasar, ketika memberikan penilaian meskipun hanya dalam pikirannya.
"Saya tidak tanya tentang kamu jomblo atau enggak, yang saya tanyakan, kamu sudah putuskan ikut saya atau Devlan?" Pram memperjelas pertanyaannya.
Wajah gadis cantik itu merah karena malu setelah mendengar ucapan dari Pram.
Pram ingin tertawa ngakak ketika melihat wajah Alicia yang sudah merah seperti tomat masak. Namun jujur, dia tidak tega untuk menertawakan, karena gadis itu pasti akan semakin malu.
"Sudah," jawab Alicia yang sudah tidak ngerocos seperti tadi.
"Apa?" Tanya Pram. Jika Alicia ingin kembali menjadi sekretaris Devlan, itu artinya ia harus mencari sekretaris yang baru.
"Apa saya boleh jadi sekretaris bapak saja." Tanyanya dengan sedikit ragu. Entah mengapa ia lebih suka dan ingin menjadi sekretaris Pram. Meskipun belum tahu seperti apa cara kerja serta aturan yang akan diberlakukan si bos.
"Kamu sudah cukup lama menjadi sekretaris Delvan dan sudah sangat mengenalnya. Jika kamu dengan saya, takutnya kamu justru tidak nyaman. " Pram berkata dengan raut wajah seriusnya.
"Iya sih pak, tapi sepertinya saya milih ikut bapak aja, apa boleh?"
__ADS_1
"Boleh kalau memang kamu ingin ikut saya, jadi saya tidak perlu lagi mencari sekretaris baru."
"Pak, saya permisi keluar, jika sudah tidak ada lagi yang bapak perlukan." Alicia sudah tidak tahan untuk berlama-lama di dalam ruangan bosnya. Jujur saja ia begitu sangat malu.
"Iya," jawab Pram yang membuka berkas yang tadi diberikan oleh Alicia.
"Alicia." Pram memanggil gadis itu ketika sedang akan memutar kenop pintu.
"Ya pak." Alicia memutar tubuhnya dan memandang Pram.
"Umur kamu berapa?"
"21 tahun pak, saya baru lulus kuliah sekitar 6 bulan yang lalu dan alhamdulillah, saya langsung mendapatkan pekerjaan di sini. Apa bapak tahu kenapa saya langsung mendapatkan pekerjaan di sini?" Alicia berbicara dengan penuh semangat.
Pram menggelengkan kepalanya.
"Bapak pasti tidak percaya, kalau saya lulus terbaik dengan predikat cumlaude. Saya mahasiswa yang memiliki IPK tertinggi di universitas saya dengan IPK 3,98 dan hanya membawa satu nilai B+. Saat saya memasukkan lamaran di sini, saya langsung dipanggil dan diminta untuk interview. Saya juga nggak nyangka sih, kalau saya bisa lulus dan dipanggil bekerja menjadi sekretarisnya pak Delvan. Padahal yang ikut tes interview dengan saya, sangat cantik-cantik." Gadis itu menghentikan niatnya untuk keluar dan justru duduk di depan Pram.
Perang tersenyum kecil ketika melihat tingkah lucu Alicia. "Kamu sangat hebat," pujinya.
"Bapak pasti tidak percaya lagi kalau saya ceritain."
"Apa itu?" Tanya Pram yang jadi penasaran.
"Oh ya?" Mata Pram membulat.
"Iya kalau nggak dapat beasiswa, mana mungkin saya jadi sarjana." Alicia tersenyum.
"Mengapa seperti itu?"
Gadis itu meringis pelan ketika mendengar pertanyaan dari Pram.
"Kenapa?" tanya Pram
"Saya anak yang dibesarkan di panti asuhan pak. Dan ibu panti tidak sanggup untuk membiayai pendidikan saya ke jenjang universitas. Makanya sewaktu kuliah, saya kerja paruh waktu. Saya juga dapat beasiswa. Jadi saya tidak perlu membebani ibu Panti." Alicia sedikit tersenyum.
"Kamu gadis yang hebat dan kuat." Hanya kalimat ini yang bisa dikatakan Pram. Sungguh dirinya dibuat kagum saat mendengar apa yang disampaikan oleh Alicia.
Alicia tersenyum bangga ketika mendengar ucapan Pram
__ADS_1
"Sejak kapan kamu tinggal di panti?" Pram bertanya.
"Sejak lahir kata ibu panti. "
Pram diam seakan ingin kembali bertanya atau memilih diam. "Kenapa kamu bisa ada di panti, orang tua kamu ke mana? kalau kamu tidak mau jawab tidak apa-apa Saya tidak memaksa."
"Saya juga nggak tahu pak kenapa saya ada di pantai. Orang tua saya di mana, Saya juga nggak tahu. Yang pasti saya anak yang ditemukan di dekat sampah. Jadi saya diantarkan warga ke panti asuhan. Karena alasan ini, kebanyakan cowok yang tahu tentang sejarah hidup saya, akan langsung lari, he... He...," Alicia tertawa nyengir. Setelah bercita panjang lebar seperti ini, ia malu sendiri dan menyadari kebodohannya. Mengapa ia harus bercerita kepada si bos tentang kehidupan pribadinya.
"Tapi nggak juga sih, mereka lari karena nyatanya saya sibuk kerja dan kuliah, jadi nggak punya waktu untuk pacaran." Alicia berbicara tanpa berani memandang Pram. Selama menjadi sekretaris Devlan, ia tidak pernah berbicara seperti ini. Bahkan membuka cerita tentang kehidupan pribadinya. Tapi entah mengapa, dengan Pram, begitu mudahnya ia bercerita panjang lebar seperti sekarang.
Pram hanya diam memandang wajah gadis cantik tersebut.
"Maaf ya pak, karena saya malah cerita tentang kisah hidup saya. Saya permisi ke meja saya dulu."
Pram tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Gadis yang lucu," ucapnya ketika Alicia sudah keluar dari ruangannya.
***
Setelah berpisah di ruangan berkunjung dengan istrinya, Leo merasa tidak tenang. Pria itu mondar-mandir di dalam kamar dan entah sudah jam berapa sekarang. Berada di tempat terkurung seperti ini, membuatnya tidak tahu jam. Yang menjadi penentu waktu hanya waktu sholat saja. Berhubung sudah selesai shalat isya, mungkin sekarang sudah jam 8 malam.
Entah di mana istrinya bersembunyi karena dirinya tidak memberitahukan tempat yang harus dikunjungi oleh Ayu. Leo hanya berpesan untuk pergi jauh.
Leo berdiri sambil memegang jeruji besi dan memandang ke depan. Jantungnya berdegup dengan cepat saat melihat sosok yang jalan mendekat ke arahnya. Wanita itu datang dengan wajah yang begitu sangat cantik dan masih memakai mini dres berwarna maron seperti tadi siang.
"Sayang kamu masih di sini?" Leo tersenyum dan memegang tangan istrinya.
Ayu tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kamu bisa datang ke sini?" Leo masih tidak percaya ketika istrinya bisa tahu kamar tahanan yang di tempati.
"Apa sih yang aku gak tahu tentang kamu. Aku tadi minta izin sama mas penjaga." Wanita itu masih tersenyum. Raut wajahnya berbeda dengan tadi siang yang penuh dengan kesedihan.
"Kenapa kamu belum pergi?" Leo tersenyum.
"Aku mau jemput kamu, kita pergi sama-sama. Kita akan berkumpul bersama. Aku gak mungkin meninggalkan kamu sendiri."
Leo menggeleng pelan saat mendengar ucapan istrinya. "Aku gak bisa keluar dari sini. Kamu jangan mencemaskan aku. Kamu harus pergi bersama anak kita. Aku yakin, dia akan bisa menjaga ibunya." Leo masih terus memberikan semangat dan keyakinan untuk istrinya.
"Kami ingin pergi bersama dengan kamu. Kami datang untuk menjemput kamu. Masalah untuk keluar dari sini, pasti ada jalan." Ayu tersenyum dengan sangat manis.
__ADS_1
Leo hanya diam mendengar ucapan istrinya. Pria itu melihat Ayu yang melepaskan tangannya dan kemudian pergi sambil melambaikan tangannya.
***