Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 42


__ADS_3

Setelah beberapa hari mendapat penanganan medis dari rumah sakit akhirnya Leo diantar ke dalam tahanan. Rumah yang akan di tempatnya dalam waktu yang lama. Bahkan ia sendiri tidak akan tahu, apakah akan kekal berada di dalam tahanan ini hingga ajal menjemput.


Kamar yang berukuran 3X3 dan dihuni oleh 6 orang narapidana, sungguh begitu sangat kecil, panas dan pengap.


Tubuhnya yang belum sepenuhnya sehat, membuat rasa sakit di tubuhnya semakin bertambah karena harus tidur tanpa alas kasur. Leo akhirnya duduk termenung sambil memegang jeruji besi. Wajah tampannya sudah tidak terlihat lagi. Wajahnya penuh memar, bibir luka dan bengkak. Lingkar mata kiri dan kanan, berwarna ungu pekat dan bengkak. Melihat wajahnya saat ini, sungguh membuatnya takut sendiri. Beberapa jarinya di balut perban. Begitu juga dengan telinganya yang menempel perban.


Namun bukan bentuk fisik yang membuatnya berpikir keras. Sampai saat ini pria itu terus memikirkan istrinya dan mencemaskan Ayu serta calon anaknya. Menyesal, perasaan ini membuat hatinya semakin terasa sakit.


"Ayu maafkan mas." Kalimat ucapan kata maaf yang tidak didengar oleh istrinya, namun berulang kali terucap di bibirnya yang kering dan pecah.


"Jika seandainya mas menjadi pria yang bisa memegang prinsip dan memberikan makanan yang halal untukmu dan juga calon anak kita semua ini tidak akan pernah terjadi." lagi-lagi Leo menangis. Apa yang dilakukannya sudah menghancurkan keluarganya.


Sedangkan di ruang berkunjung, Ayu duduk dengan gelisah di kursi kayu yang disediakan untuk mengunjungi tahanan. Ditariknya napas panjang dan kemudian menghembuskan secara berlahan-lahan. Hal ini dilakukannya untuk menenangkan dirinya. Jujur, ia belum sanggup untuk untuk bertemu dengan suami tercintanya.


"Maafkan mama nak, mama salah. Mama terlalu egois dan lupa diri. Karena mama, papa Kamu berada di sini. Mama mohon, Jangga benci mama." Ayu berusaha untuk menahan tangisnya. Ada rasa sesak yang meremas jantungnya sehingga membuat wanita itu kesulitan untuk bernafas.


Ayu melihat pria yang berjalan dengan mengunakan baju berwarna oranye. Dulu melihat orang memakai baju oranye seperti ini hanya di berikan kriminal saja, namun sekarang matanya melihat dengan nyata.


Pria yang merupakan narapidana yang berjalan di samping petugas tahanan itu berjalan ke arahnya. Ayu hanya diam karena tidak mengenali pria tersebut. Ia memandang ke kiri dan ke kanan, namun tidak ada keluarga napi yang berkunjung selain dirinya dan beberapa orang napi yang sudah sibuk berbicara dengan keluarganya.


Ayu menutup mulutnya agar suara jeritannya tidak terdengar. Hanya postur tubuh yang tinggi dan bentuk fisik tubuh suaminya yang masih dikenalinya. Dalam beberapa detik ia merasakan tubuhnya yang lemas dada yang sakit dan air mata yang menetes. Tidak diduganya bahwa kondisi Leo strategis ini.


Leo tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat melihat datang wanita yang dirindukan dan selalu di cemaskannya. Jika sebelum terjadi peristiwa ini, pria itu akan mampu melindungi istrinya namun sekarang dia tidak bisa melakukan apapun terhadap keselamatan istri dan juga calon anaknya.


Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir wanita pucat yang sedang mengandung tersebut. Atu hanya menangis sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


"Jangan menangis sayang," bujuk Leo. Pria itu berusaha untuk tersenyum sebagai bukti bahwa dirinya baik-baik saja.


"Bagaimana mungkin aku tidak menangis, jila melihat kondisi kamu seperti ini." Ayu memperhatikan wajah, kemudian telinga dan juga tangan suaminya. Wanita itu masih berpikir, tiga jari yang dililit perban dan juga telinga, hanya terluka saja.


***


"Baby tolong berhenti marah kepadaku, ini semua bukan salahku. Mereka yang menyukaiku. Para wanita itu yang tergila-gila dan menginginkan aku. Kamu lihat sendiri, tingkat ketampanan ku sudah level tidak ketolongan. Jadi wanita mana yang mampu menolak pesona Devlan Alvaro." Devlan berbicara dengan raut frustasi. Pria berwajah tampan itu sudah lelah membujuk gadisnya yang sejak tadi merajuk.


Aira semakin kesal mendengar pria itu yang begitu sangat narsis dan menyanjung dirinya sendiri. "Untuk pertama kalinya aku datang ke sini dan ini rambut aku sudah ditarik mas. Aku nggak tahu berapa banyak lagi kekasih kamu yang akan menyerang aku seperti tadi?"


Devlan diam dan sulit untuk menjawab.


"Kamu tidak bisa menjawab mas?" dari respon yang diberikan pria itu, Aira dapat mengambil kesimpulan bahwa Devlan memiliki banyak kekasih atau partner bercintanya.


"Kejadian itu tidak akan terulang lagi baby, Melly akan selalu melindungimu." Kalimat ini yang bisa diucapkannya.


"Tentu tidak baby, jika mereka tidak melakukan hal seperti itu. Baby tolong berhenti marahnya, perutku sudah keroncongan aku belum sarapan pagi." Devlan merengek sambil mencolek dagu gadisnya.


Meskipun menu hidangan untuk makan siangnya sudah tertata di atas meja namun Aira sejak tadi tidak ingin menyentuhnya gadis itu masih terus mengomelinya.


"Baby kamu juga lapar kan, ayo kita makan."


Aira sudah tidak ingin berdebat dan akhirnya memilih untuk makan tanpa berbicara sama sekali.


Setelah peristiwa ini Devlan semakin cemas kalau Aira semakin takut untuk menjalin hubungan dengannya. Kini otak cerdasnya masih terus berpikir bagaimana caranya untuk mengejar cinta gadis tersebut. Devlan mengunyah potongan daging di dalam mulutnya sambil berfikir. "Mana mungkin aku berguru dengan dokter pea seperti Vandra, dia saja gagal mendapatkan cinta Aira," batinnya.

__ADS_1


Setelah selesai makan, dua orang cleaning service masuk ke dalam ruangannya dan membersihkan meja kaca tersebut.


"Baby aku belum bisa mengantarmu pulang, aku masih ada rapat. Apa mau tidur di sini?" tanya Devlan.


Aira memandang pria itu dengan mengerutkan keningnya.


"Ini kamar biasanya aku pakai untuk beristirahat. Kamu, boleh tidur di kamar ini." Devlan menunjukkan ruangan yang ada di belakangnya.


Mulut Aira membulat ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pria tersebut. "Bagaimana dengan Mbak Melly?" tanyanya


"Dia akan berjaga untuk kamu di depan ruangan."


Aira menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sorot mata tajam. "Sejak semalam dia tidak tidur."


"Kamu tidak usah cemas baby, karena dia biasa tidak tidur bahkan sampai 10 hari berturut-turut." Devlan sedikit tersenyum.


"Mas mbak Merry itu manusia bukan robot," bantah Aira.


"Jadi mau kamu bagaimana baby?" Devlan pusing sendiri..


"Kalau aku tidur di kamar, biarkan Mbak Melly juga ikut tidur di kamar," jawab Aira.


"Baiklah kalian tidur di kamar, aku akan meminta dua orang pengawal untuk berjaga di depan pintu." Devlan akhirnya mengalah.


Devlan dan Aira menghentikan obrolannya ketika mendengar suara pintu dikutuk dari luar dan tanpa menunggu jawaban orang itu sudah membuka pintu dan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu? Paman begitu sangat mencemaskanmu." Seorang pria yang berusia sekitar 55 tahun langsung memeluk Devlan.


***


__ADS_2