
Leo sangat senang saat melihat kondisi istrinya yang sudah sangat baik dan kembali cerita seperti biasa. Mungkin Ayu sudah siap menerima keadaan sehingga bisa terlihat tegar seperti ini. Hanya ini yang ada di pikiran Leo.
Belum lama Ayu pergi meninggalkan kamar tahanannya, seorang petugas datang dan membuka pintu besi tersebut. "Ayo ikut saya, Briptu Amri ingin berbicara kepada anda."
Leo hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah petugas tersebut. Ia masuk ke dalam ruangan tempat Briptu Amri menunggu.
"Selamat malam pak Leo, silahkan duduk." Pria berseragam coklat itu mempersembahkan.
Leo duduk di kursi yang berada di depan pria bertubuh tegap tersebut. "Ada apa pak?"
"Apa anda mengenali tas ini?" Pria itu mengangkat tas sandang wanita berwarna hitam.
Leo menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia begitu sangat mengenali tas tersebut. "Ini tas istri saya pak," jawabnya.
"Ini?" Pria itu menunjukkan 2 tas travel bag besar yang di temukan tidak jauh dari mayat Ayu.
"Ini juga punya istri saya pak. Istri saya mungkin meninggalkan barangnya karena sedang ke kamar mandi." Leo berkata dengan yakin. Setelah berjumpa dengan Ayu dan berbicara, ia tahu bahwa wanita itu masih ada di kantor polisi.
Pria itu diam memandangnya. "Barang-barang ini saya dapatkan di lokasi tempat istri anda meninggal."
Leo diam dan memandang wajah pria tersebut. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Anda jangan bercanda pak, istri saya masih hidup, dia juga sehat. Baru saja saya berjumpa dengan dia, dia juga masih di sini. Jika bapak tidak percaya, saya akan mencari istri saya di sini."
__ADS_1
Pria itu kembali diam memandang Leo. Ada rasa sedih di hatinya ketika harus memberi tahu hal ini kepada sang napi. "Saya tidak bercanda. Ibu Ayu meninggal dunia karena ditabrak kereta api. Beliau baru di temukan saat jam 6 sore di kawasan sepi. Yang menemukan beliau, seseorang pemulung. Di prediksi, meninggal jam 3 sore."
Leo diam dan kemudian tersenyum. Mata saya memang sedang tidak baik pak. Tapi saya masih bisa melihat dengan jelas. Belum lama ini, istri saya datang ke kamar tahanan saya. Dia sehat dan baik-baik saja. Saya yakin anda salah orang. Jika anda tidak percaya, saya akan mencarinya di sekitar tempat ini. Mungkin sekarang dia sedang ke kamar mandi atau sedang makan di kantin." Leo kukuh dengan pendapatnya.
Pria itu memperlihatkan foto mayat di ponselnya. Meskipun tubuhnya hancur, namun bagian dada hingga ke kepalanya masih utuh tanpa luka. Wajahnya nampak seperti sedang tidur dan sedikit tersenyum.
Leo diam memandang foto tersebut. Ia kemudian melihat vidio yang diputar polisi tersebut. Tiba-tiba saja ia merasakan tubuhnya membeku dan lemas.
"Anda bisa melihat sendiri. Bagian dada hingga ke atas, dalam keadaan utuh."
Leo diam tanpa memberikan respon apapun.
"Dimana istri saya sekarang berada pak?" Tanyanya.
"Di rumah sakit, 15 menit yang lalu jasadnya sudah di jemput pihak m
Keluarga."
Leo masih teringat perkataan istrinya saat tadi datang melihatnya. "Saya boleh memeriksa tas istri saya."
"Iya silahkan," jawab Briptu Amri.
__ADS_1
Leo mengecek isi tas istrinya. Isi dalam tas itu masih lengkap terkecuali ponsel yang sudah tidak ada. Leo bisa mengatakan lengkap, karena Dia tahu semua perhiasan, jam-jam mahal dan aksesoris mewah milik istrinya. Uang di dalam dompet juga masih utuh.Pria itu memang mengetahui hal mendetail tentang istrinya.
"Pak, saya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Selama ini yang menjadi pengganti orang tua saya, adalah kedua mertua saya. Tolong berikan semua barang-barang ini kepada mertua saya. Saya minta tolong, agar bapak menghubungi pak Delvan atau pak Pram. Saya ingin berbicara dengan beliau secepatnya." Leo berkata dengan tenang. Tidak terlihat kesedihan di wajah. Ekspresi yang diberikannya, jauh berbeda dari apa yang dibayangkan Amri.
"Baiklah. Saya akan menyerahkan barang-barang milik istri anda ke orang tuanya, setelah penyelidikan selesai.
Leo menganggukkan kepalanya. Tolong sampaikan maaf saya untuk kedua mertua saya. Dan sampaikan juga kepada mereka, bahwa saya ingin mereka tetap hidup layak dan makan yang bergizi."
"Saya akan sampaikan," jawab Briptu Amri.
Leo kembali ke kamar tahanannya dan duduk di sudut ruangan dengan menyandarkan punggungnya ke dinding. Air matanya mengalir saat mengingat apa yang tadi di sampaikan polisi. "Kau tidak menepati janji Burhan. Bahkan kau tidak memberikan ampunan untuk wanita yang sedang hamil seperti istri ku. Padahal dia tidak tahu apa-apa." Leo mengepalkan tangannya.
Setelah pertemuannya dengan Burhan, 3 bulan yang lalu , Leo seperti sedang memakan buah simalakama. Saat Burhan mengajaknya bekerja sama, Leo berulang kali menolak. Namun pria itu akhirnya menerima saat Burhan tahu kelemahannya. Pria berhati iblis itu, mengancam akan mencelakai istrinya dan menjamin bahwa calon anaknya tidak akan pernah melihat Dunia. Karena alasan ini, Leo menerima kerja sama dengan Burhan. Setidaknya dengan bekerja sama dengan Burhan dan menghianati Devlan, istri dan calon anaknya bisa selamat. Ia juga mendapatkan harta berlimpah dan jika sukses, akan memiliki jabatan tertinggi di perusahaan Devlan.
Didalam kamar ini, Leo tidak berbicara dengan penghuni napi yang lain. Pria itu hanya diam dan menyendiri, sejak hari pertama ada di sini. Hal ini yang membuatnya tidak mengenali teman satu kamar.
Lampu mulai di padamkan, pertanda waktu para napi untuk tidur. Leo tidak bisa memejamkan matanya. Ia masih terus terbayang setiap kenangan yang telah dilaluinya bersama dengan Ayu. Rumah tangga yang awalnya penuh dengan bahagia, hancur dalam sekejap mata. Berulang kali pria itu meninju dadanya sendiri, dan berharap rasa sakit dan sesak di dadanya bisa berkurang. Namun apa yang dilakukannya, tidak bisa mengurangi rasa sakit di dadanya. Bahkan ia tidak bisa melihat jasad istrinya.
Leo merasakan kepalanya pusing dan memilih untuk berbaring dan memejamkan mata. Namun tiba-tiba saya, ada yang menutup wajahnya dengan bantal. Sedangkan kedua tangan dan kedua kakinya dipegang hingga ia tidak bisa untuk melawan.
***
__ADS_1