
"Saya tidak yakin kematiannya mendadak seperti ini, begitu juga dengan kematian istrinya. Entah mengapa, saya curiga ada yang sudah merencanakan ini semua" Pram tidak puas dengan apa yang disampaikan Briptu Amri.
"Kami juga berpikir seperti itu pak Pram, dan kami masih menyelidiki kasus ini. Sampai saat ini, anggota tim saya masih meminta melakukan interogasi dengan napi yang satu kamar dengannya. Kita akan mencocokkan informasi dari napi. Setelah tahu tentang kematian istrinya, semalam Leo sempat meminta saya untuk menghubungi pak Pram atau pak Delvan karena dia ingin berbicara. Namun ternyata pagi ini beliau sudah tiada," sesal Briptu Amri.
Pram diam dan memandang Devlan. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Briptu Amri, Pram benar-benar yakin dengan kecurangannya. "Apakah ini semua ada kaitannya dengan rencana pembunuhan terhadap Devlan beberapa Minggu yang lalu," batinnya.
"Apa saya bisa melihat jasadnya?" tanya Devlan.
"Mari, saya akan mengantarkan Anda ke ruang belakang," ajak Briptu Amri.
Devlan dan Pram berjalan mengikuti Briptu Amri hingga mereka berada di ruangan paling belakang. Ketiga pria itu masuk ke dalam ruangan.
Devlan diam saat melihat kantong jenazah di letak di lantai. Ada rasa sedih yang menyesakkan dadanya. Kenangan yang dulu pernah ia lewati bersama dengan mantan orang kepercayaan itu, kini melintas dalam pandangannya. Namun pria bertubuh tinggi dan tegap itu, mencoba untuk terlihat tenang, guna menutupi rasa sedihnya. Tidak pernah terbayang olehnya, bahwa akhir hidup Leo, akan seperti ini.
Devlan membuka resleting kantong mayat dan melihat jasad Leo yang sudah tegang. dipandangnya dari atas hingga ke bawah. Memang tampak tidak ada kekerasan yang di alami pria itu. Bekas lebam dan luka di tubuhnya, masih luka lama yang didapatnya beberapa sekitar 1 Minggu yang lalu.
Tatapan matanya tertuju kearah tangan kiri Leo yang mengepal. Begitu juga tangan kanannya. Tampak jelas bahwa pria itu kesakitan sebelum ajal menjemput. Berlahan-lahan Devlan membuka jari-jarinya yang tertutup. Ia sedikit terkejut saat melihat ada tulisan di telapak tangan Leo.
Meskipun sulit untuk mengembangkan jari-jari tangan yang sudah menegang, namun Devlan tetap membuka satu persatu jari Leo, agar bisa membaca tulisan yang ada di telapak tangan.
"Paman." Devlan memandang Pram.
"Ada apa?" tanya Pram.
"Lihat ini." Devlan menunjukkan telapak tangan Leo yang sudah terbuka. Ia dapat membaca dengan jelas tulisan di telapak tangan pria yang sudah kaku tersebut.
"Burhan." Pram membaca tulisan tersebut.
"Apa maksudnya?" Tanya Devlan.
__ADS_1
Pram mengambil ponselnya dan kemudian memoto tulisan di tangan Leo.
Briptu Amri memperhatikan Pram dan juga Devlan. Pria itu memandang ke arah telapak tangan jenazah. Dikeluarkannya ponsel dari dalam saku celananya dan mengambil foto telapak tangan Leo.
"Semalam sebelum dia pergi kembali ke kamar tahanan, Leo meminjam pena saya." Briptu Amri memberi tahu.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" Pram berharap ada petunjuk.
"Tidak ada, beliau hanya meminta untuk berbicara dengan pak Pram atau pak Delvan dan dia minta secepatnya. Hanya saja waktu berkunjung sudah habis dan saya berencana untuk menghubungi anda berdua pagi ini. Apa pak Pram atau pak Devlan mengenal orang yang bernama Burhan?" Tanya Briptu Amri.
"Burhan Paman saya, beliau adik kandung papi saya," jelas Devlan.
"Apakah selama ini mereka berhubungan sangat baik?" Briptu Amri bertanya.
"Leo cukup mengenali Paman Burhan namun kalau jika ditanya seperti apa hubungan mereka. Menurut saya sangat biasa." Devlan berkata sesuai dengan apa yang selama ini diketahuinya. Selama ini Devlan tahu bahwa Leo tidak pernah akrab dengan pamannya.
"Jenazah akan diapakan setelah ini?" tanya Devan.
"Sekitar 10 menit lagi ambulans dari rumah sakit Bhayangkara akan datang menjemput dan dilakukan otopsi sebelum dikembalikan ke keluarga. Ataupun jika tidak ada pihak keluarga yang menerima, akan langsung disemayamkan oleh pihak kepolisian." Briptu Amri memandang jam di pergelangan tangannya.
"Berapa lama waktu yang diperlukan untuk melakukan otopsi?" Tanya Devlan.
"Jika kematian terjadi karena hal yang wajar, dalam artian korban tidak mengkonsumsi obat, racun atau ada hal-hal lain yang harus melakukan pemeriksaan organ dalam. Bisanya tidak lama, sekitar 3 jam pemeriksaan. Jenazah sudah bisa diambil oleh pihak keluarga.
"Saya akan mengurus langsung jenazah Leo dan juga jenazah istrinya," ungkap Devlan. Ia sudah berniat untuk mengurus kedua jenazah hingga pemakaman selesai. Devlan sangat dekat dengan Leo, hingga ia tahu seperti apa Leo mencintai istrinya. Karena alasan ini, mereka akan dikebumikan di satu liang lahat.
Briptu Amri menganggukkan kepalanya. "Setelah proses otopsi selesai, maka jenazah akan langsung diantarkan ke rumah mertuanya.
***
__ADS_1
Burhan duduk di meja makan sambil menikmati sarapan pagi bersama anak-anak dan istrinya. Pria paruh baya itu menikmati kebahagiaannya bersama dengan keluarga yang utuh dan sempurna. Sebentar lagi, kebahagiaan keluarganya akan semakin sempurna, tentunya jika sudah berhasil mendapatkan seluruh harta keluarga Anderson.
Burhan sudah bertemu dengan Aira, melihat sikap keponakannya itu, dia tahu bahwa Devlan menyukai gadis tersebut. Hal ini tidak akan pernah dibiarkannya terjadi. Devlan tidak boleh menikah dengan siapapun. Jika hal itu terjadi, maka akan semakin mempersulit langkahnya. Apalagi jika Devlan sampai memiliki anak dan pewaris. Yang membuatnya frustasi, mengapa harus Melly yang menjadi pengawal pribadi dokter Aira. Burhan terus berpikir dan mencari jalan bagaimana caranya untuk menyingkirkan dokter muda nan berparas cantik tersebut. Lagi-lagi Burhan kesal, mengapa Devlan menjadikan Melly untuk menjadi pengawal pribadi Aira.
"Sayang kenapa melamun?" Wanita cantik itu tersenyum dan mengusap punggung tangan suaminya.
Burhan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Pria itu menyeruput kopinya yang masih mengepulkan asap. Sampai detik ini Burhan terus menunggu informasi dari anak buahnya.
"Mami sangat senang, akhirnya kamu mau menetap di Indonesia." Wanita yang bernama Erni itu tersenyum memandang putri sulungnya.
"Iya mi soalnya papi minta aku untuk pulang ke Indonesia agar bisa membantu perusahaan. Aku juga akan tetap melanjutkan karir aku sebagai model, karena mami tahu sendiri ini memang hobiku." Shelina tersenyum memandang wanita yang telah melahirkannya.
"Mami senang dengarnya, kasihan papimu kerja sendiri. Apalagi papi sekarang sudah tua, pasti butuh banyak waktu istirahat." Wanita itu tertawa kecil ketika melihat sorot mata suaminya yang memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Kamu bilang aku tua?" Burhan memprotes.
"Tidak sayang, aku tidak mengatakan Kamu tua. Maksudku kamu sudah tidak muda lagi." Wanita itu tersenyum dengan sangat manisnya.
Meskipun dia bukanlah pria yang setia dan selalu suka bermain dengan banyak wanita. Namun tetap saja, bagi Burhan, Erni adalah rumah tempat dirinya pulang.
"Kamu harus cepat menyelesaikan kuliah kamu, biar bisa seperti kakak." Erni memandang Putri keduanya yang bernama Jessica.
Jessica hanya diam sambil memajukan bibirnya. "Kenapa sih harus membandingkan aku sama kak Selina. Kalau kak Selina sudah bisa membantu papi dan juga sudah sukses dengan profesinya sebagai seorang artis dan model, wajar saja. Usia kakak sudah berapa, sedangkan aku baru lulus SMA dan baru saja kuliah. Disuruh cepat tamat emang bisa kuliah 1 tahun."
"Maksud mami, kamu itu coba kuliah tapi juga belajar untuk berbisnis atau mungkin menjadi seorang model seperti kakak kamu."
Jessica hanya diam dan kembali melanjutkan sarapannya. Percuma rasanya bila harus melawan perkataan orang tuanya. Walau bagaimanapun yang selalu diagungkan, hanya kakaknya saja.
***
__ADS_1