
Pram menatap Melly dengan rasa prihatin. Ia menjadi saksi kepedihan yang dialami gadis tersebut. Pram juga mengetahui secara detail bagaimana cara para penjahat itu menghabisi keluarga Jeremi. "Kemungkinan itu ada, "jawab Pram.
Melly diam saat mendengar jawaban dari Pram. Sampai saat ini wanita itu belum bisa merasakan ketenangan di dalam jiwanya karena belum mampu membalaskan dendam keluarganya. peristiwa yang terjadi sekitar 11 tahun yang lalu masih terekam jelas di ingatannya.
Pada saat itu Melly berusia 14 tahun. Gadis itu pergi ke sekolah lebih awal karena di sekolahnya sedang melakukan MOS untuk siswa baru. Selaku pengurus OSIS, Melly datang lebih awal dengan sepeda motor besar miliknya. Melly memang sangat menyukai motor. Bahkan memilih motor gede untuk tunggangannya ke sekolah. Disaat peristiwa pembantaian keluarganya terjadi, ia tidak berada di rumah. Sang ayah, ibu serta adiknya yang berusia 5 tahun tewas dengan tragis. Ibunya tewas lebih dulu karena melindungi anaknya. Wanita itu akhirnya mengembuskan napasnya saat satu peluru menembus kepalanya.
Sedang adik Melly yang di perintahkan lari oleh ibunya, mencoba untuk berlari dan mencari tempat yang aman. Namun salah satu dari penjahat itu menembak kakinya hingga ia tidak bisa lagi berjalan. Anak laki-laki itu menangis kesakitan dan ketakutan. Namun para penjahat itu malah tertawa dan menembak bahu, dada, perut dan kepalanya. Meskipun anak itu sudah tidak bergerak lagi. Namun para penjahat itu tetap menembak. Melly bisa merasakan rasa sakit sang adik. Disaat tubuh kecilnya merasakan timah panas yang merenggut nyawanya. Mereka tidak memiliki sedikit saja rasa kasihan terhadap anak laki-laki berusia 5 tahun tersebut.
Ayah Melly yang mendengar keributan dari lantai bawah, segera berlari menuju ke lantai bawah dan pria itu diserang 5 orang pria yang memiliki kemampuan bela diri dan membawa samurai. Ayah Melly yang memiliki kemampuan bela diri, tidak bisa menang melawan penjahat bersenjata tersebut. Kekuatan fisiknya melemah saat tangan dan kakinya sudah di tembak. Akhirnya beliau tewas saat kepalanya di bacok hingga terpenggal. Melly bisa melihat seperti apa kekejaman dirumahnya dari rekaman Cctv.
Sejak itu Melly dirawat dan dibesarkan oleh Pram. Gadis itu juga dibekali ilmu bela diri dan kemampuan intelektual yang tinggi. Pram mengikuti permintaan ayah Melly, tiga hari sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Beliau meminta agar putrinya dilatih untuk menjadi pelindung di keluarga Andersson. Karena keluarga Melly, sudah turun temurun mengabdi dengan keluarga Andersson. Melly memiliki darah blasteran. Ayahnya asli Amerika sedangkan ibunya asli Indonesia.
"Paman tahu selama ini aku selalu ingin menemukan orang itu namun tetap saja aku tidak mendapatkannya. Sedangkan orang-orang yang langsung terlibat dalam pembunuhan kepada keluargaku, lebih dulu mati sebelum bertemu dengan aku." Melly menghabiskan masa remajanya untuk berlatih dan mencari tahu pembunuhan keluarganya. Ia akan membalas para penjahat yang membunuh ayah, ibu serta adiknya dengan tangannya sendiri. Namun saat sudah mengetahui siapa saja penjahat-penjahat itu, Melly kalah cepat. Kedelapan orang yang terlibat langsung dalam pembunuhan orang tuanya, sudah habis tanpa sisa dalam kecelakaan mobil yang hangus terbakar di jalan tol, sebelum ia menghabisi dan menanyakan siapa dalang sesungguhnya.
"Ini sudah malam tidurlah Pram kemudian beranjak dari duduknya setelah menghabiskan kopi di dalam cangkir.
"Baik paman. Masih belum beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir aku akan mencari tahu semuanya Pram tersenyum dan mengusap kepala gadis tersebut.
Melly tersenyum dengan sangat manisnya. Senyum yang begitu sangat jarang dilihat oleh siapapun.
"Berhentilah masuk ke dalam kulkas, nanti kamu bisa beku." Pram tersenyum dan mengusap kepala gadis tersebut.
***
Apa yang diharapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti itulah fakta yang saat ini diterima oleh seorang pria tampan yang sedang menatap layar raksasa sambil menonton film.
Awal mula Devlan mengira jika menonton film di bioskop akan memberikan kesan romantis. Mengingat ini kencan pertamanya dengan dokter cantik Aira. Namun ternyata harapan itu sirna dan kini pria itu hanya menutup telinga ketika mendengar suara teriakan dari para penonton di dalam studio. Dipandangnya gadis cantik yang saat ini menutup kedua matanya karena tiba-tiba saja hantu datang secara mendadak. Tentu saja hal itu membuat jantung para penonton seakan mau lepas.
Setelah suasana menegangkan, kini kembali tenang. Devlan memegang tangan Aira, namun gadis itu dengan cepat menarik tangannya dan kembali menutup matanya.
"Aku mau menerima diajak menonton film horor karena aku pikir jika menonton film horor dia akan memelukku karena ketakutan eh nyatanya tidak." Devlan merasa kecewa.
"Akhirnya filmnya habis juga." Devlan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ada rasa lega ketika film yang ditontonnya sudah berakhir.
__ADS_1
"Ayo mas kita langsung pulang." Aira berdiri lebih dulu setelah menonton film yang ingin di tontonnya.
Devlan tersenyum dan ikuti beranjak dari duduknya.
"Filmnya seru banget ya mas." Aira berkata dengan riang.
"Iya," jawab Devlan yang ikut tersenyum saat melihat wajah gadisnya bahagia seperti ini.
"Masih ada season 2 nya mas, nanti kita nonton lagi ya, kalau sudah tayang." Aira tersenyum.
Devlan menelan air ludahnya dengan kasar saat mendengar permintaan Aira.
"Mau ya mas." Aira menepuk lengan pria tersebut.
"Iya," jawab Devlan pasrah. "Apa gak mau jalan-jalan lagi?"
"Gak, aku sudah capek, pengen pulang." Aura tersenyum dan memegang tangan Devlan.
__ADS_1
Devlan merasakan ada sengatan listrik saat Aira memegang tangannya. Namun hanya sebentar saja, gadis itu melepaskan tangannya. Devlan tersenyum saat memandang Aira yang tersenyum malu-malu.
***