
Aira memandang Devlan dan merasakan denyutan di dadanya. Mengapa ia begitu bodoh dan mudah percaya dengan rayuan gombal si pria playboy. Meskipun belum menyatakan perasaannya, namun ia sudah mulai larut dalam pesona dan rayuan gombal si pria. Seharusnya Aira sudah tahu, bahwa Devlan dan dokter Vandra sama.
Devlan tersenyum saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita berparas cantik dengan tubuh yang aduhai. Apa lagi penampilan si wanita yang begitu sangat modis dan full makeup. Jauh berbeda dari Aira. Gadis simple yang tampak sederhana namun begitu anggun dan mempesona.
Tatapan mata Alena beralih ke arah gadis yang saat ini berdiri di samping Devlan. Dipandangnya dari atas hingga ke bawah untuk menilai sang wanita. Namun sialnya dia harus mengakui bahwa gadis itu sangat cantik dan masih sangat muda. Meskipun tidak tahu hubungan antara gadis itu dengan Devlan, namun dadanya sudah terasa panas dan terbakar. Namun Alena tidak ingin gegabah, karena tidak tahu siapa wanita muda itu dan hubungannya dengan Devlan. Pada akhirnya ia menyembunyikan rasa cemburu dan dan bersikap sebaik mungkin demi mendapatkan simpati dari pria yang selama ini diinginkannya. "Dia ini siapa?" Dev tanyanya.
Aira diam dengan air mata yang sudah siap meluncur. Berada di posisi ini, tidak pernah terbayang olehnya. Kakinya gemetar dan dadanya bergemuruh dengan hebatnya. Sungguh ia takut dan ingin pergi segera. Masalahnya dengan Devlan akan di selesaikan nanti.
Devlan memandang Aira dengan tersenyum. Genggaman tangannya yang sudah dilepaskan Aira, dibiarkannya begitu saja. Pria itu sedikit menarik tubuh ramping milik Aira hingga semakin merapat dengannya. "Calon istriku jawabnya sambil merangkul pinggang ramping sang gadis.
Aira diam mendengar jawaban Devlan. Sungguh tidak diduga, bahwa pria itu akan mengatakan hal ini.
"Jangan bercanda Dev, aku tahu kamu melakukan ini hanya untuk mengerjai aku. Kamu marah karena aku yang terlalu fokus mengejar karirku.
"Kamu salah paham Alena, selama ini aku tidak memiliki rasa terhadapmu." Devlan berkata dengan mengangkat susut bibirnya sebelah kanan.
kalimat yang keluar dari bibir laki-laki itu sungguh membuat hatinya terasa sakit dan juga perih. Senyum yang tadi begitu sangat manis kini berubah dengan tatapan penuh kemarahan. "Apa maksudmu Dev?"
"Aku rasa kamu tahu seperti apa aku, Alena. Aku tidak terikat hubungan dengan siapapun termasuk kamu." Dengan santainya kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Kau tidak bisa berbuat seperti ini kepadaku, dev." Alena berteriak hingga mereka menjadi pusat perhatian para karyawan yang berada di lantai 1.
"Kau tidak punya hak untuk marah." Devlan mengacungkan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Alena berkata dengan suara serak.
"Itu urusanmu."
"Aku tidak terima kau perlakukan seperti ini. Dari London aku datang ke Indonesia, namun apa yang kau berikan untukku." Alena semakin tersulut emosi.
"Aku tidak menyuruhmu datang ke sini. kau datang dan pergi sesuka hati mu, aku juga tidak pernah melarang. Kau ingin mengejar karirmu, aku tidak pernah melarang. Bahkan aku tidak pernah mempermasalahkan hubungan mu dengan para pria lain. Kita tidak ada hubungan apa-apa, kau bebas, aku bebas." Devlan berkata dengan tersenyum.
"Kau jahat Dev." Meskipun jarak mereka hanya 1,5 m, namun Alena tetap berteriak.
"Jahat seperti apa yang kau maksud Alena? Bukankah kau selama ini juga bebas melakukan apapun, bahkan berhubungan dengan siapapun. Apa kau kira aku tidak tahu semuanya."
Wajah wanita itu pucat pasih ketika mendengar cecaran yang diberikan Devlan. Sebagai seorang artis dan juga model, memiliki hubungan dengan banyak pria bahkan melakukan hubungan diatas ranjang dengan pria yang berbeda-beda, itu adalah hal yang biasa untuknya.
Alena sangat marah apa yang dikatakan Devan bukan hanya didengar oleh telinganya saja namun oleh para karyawan yang berdiri di sana. Di mana letak harga dirinya sebagai seorang artis terkenal dan model dengan bayaran fantastis untuk sekali berjalan di catwalk.
"Aku sangat sibuk Alena, jadi silakan pergi."
"Dev, kau jahat," teriaknya.
"Tidak usah berteriak karena ini akan semakin mempermalukan mu." Devlan berkata dengan tatapan dingin.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, aku akan membalas mu. Wanita itu, kau lihat saja seperti apa aku membalasnya." Kalimat ancaman itu ingin keluar dari mulutnya namun wanita itu menahannya karena dia tidak ingin emosi akan menghancurkan rencananya.
__ADS_1
"Ayo baby, kita ke ruanganku." Devlan tersenyum memandang Aira. Wajahnya yang tadi terlihat dingin berubah drastis saat menatap wajah cantik, gadis pujaan hatinya.
Aira masih terkejut dengan perkelahian yang baru saja ditontonnya. Dari tatapan wanita itu saja, ia bisa mengetahui, bahwa wanita itu membencinya dan berniat untuk membalasnya.
Devlan menggandeng pinggang Aira dan berjalan menuju lift khusus untuknya.
Aira yang baru saja melangkahkan kaki bersama dengan Devan menjerit kesakitan ketika rambutnya di tarik dengan keras hingga berbunyi.
"Apa yang kau lakukan Alena?" Devlan marah ketika melihat tangan wanita itu menggenggam rambut Aira dengan kuat.
Aku tidak akan melepaskannya dan jika kau mendorongku rambutnya akan habis di jariku.
Aira merasakan kepalanya mendongak ke atas dengan rambut yang terasa akan lepas dari kulit kepalanya. "Mas, tolong, sakit," ucapnya sambil menangis.
"Karena pelacurrr kecil ini, kau menolak ku, Dev." Alena kesetanan. Ia menjerit dan semakin menarik rambut Aira dengan keras. Wanita itu juga meletakkan ujung gunting di leher Aira. Alena tidak terima dengan perlakuan Devlan.
Melly yang baru saja masuk ke dalam gedung, dengan cepat melepaskan barangnya. Langkah kakinya begitu ringan hingga tidak menimbulkan suara sama sekali. Ia semakin mendekat dan melipat jaraknya dengan wanita tersebut.
Alena yang baru menyadari kehadiran Melly di belakangnya, wanita itu hanya bisa menjerit kesakitan saat lehernya di patahkan ke arah kiri.
Melly tersenyum, menghadapi seekor tikus seperti Alena, tidak sulit baginya. Hanya dengan satu geraan saja, wanita itu langsung pingsan.
***
__ADS_1