
Setelah memeriksa isi dalam kulkas, akhirnya gadis itu memutuskan untuk membuat sop daging sapi. Berhubungan pria yang menjadi pasiennya, sedang terluka dan daging sapi tidak akan memberikan rasa gatal untuk luka yang dialami si pria.
"Kamu sedang memasak apa?" tanya Devlan. Sejak tadi, ia hanya diam dan memperlihatkan apa yang dikerjakan Aira. Terkadang senyum mengembang di bibirnya, padahal hanya mendengar suara wajan yang beradu dengan Sutil.
"Untuk sementara ini, kamu tidak boleh makan ikan laut, ayam potong, makan seafood seperti udang berserta teman-temannya." Belum sempat melanjutkan ucapannya, pria itu sudah menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.
"Jadi apa yang aku bisa makan? Bila aku tidak boleh makan semuanya, aku bisa mati." Setelah mendengar apa yang disampaikan Aira, pria itu panik.
Aira terawat ketika mendengar pertanyaan lucu Devlan. Ekspresi wajah pria itu, sungguh sangat menggemaskan.
"Kenapa kamu tertawa?" Pria itu terlihat bingung.
"Daging sapi, ayam kampung, ikan sungai, boleh. Disarankan untuk mengkonsumsi ikan gabus, karena semakin mempercepat penyembuhan luka." Aira menjelaskan setelah puas mentertawakan Devlan.
"Sepertinya aku harus mencatat apa yang kamu sampaikan, agar aku tidak salah makan nanti. "Devlan tersenyum.
"Iya boleh, nanti akan aku berikan catatannya. Kamu juga tidak boleh makan makanan instan seperti mie instan, makanan kaleng, dan berbagai macam makanan siap saji lainnya " Dengan sengaja Aira tidak ingin memandang Devlan. Ia takut tidak mampu menahan tawanya, saat melihat tampilan dan wajah si pria.
"Coba aja tadi nurut, mau pakai selimut untuk nutupin anu nya, pasti nggak bakalan aku kasih daster seperti ini," batinnya. Meskipun ada rasa bersalah terhadap pria itu, namun menurut Aira, ini merupakan solusi terbaik.
"Besok, jika situasi di luar sudah aman, aku akan ke pasar untuk membelikan kamu baju dan ikan gabus." Aira berkata sambil memotong kentang.
"Aku tidak suka ikan gabus." Mendengar nama ikan itu saja, sudah membuatnya ragu untuk mencoba.
"Rasa ikannya sangat enak, kamu harus mencobanya dulu."
Devlan hanya diam saat mendengar ucapan gadis tersebut.
__ADS_1
Aira sudah tidak berbicara lagi. Gadis itu mulai sibuk dengan menu yang akan dimasaknya.
Sebenarnya ia ingin beranjak duduknya dan berdiri di samping Aira. Ia ingin melihat secara langsung, apa yang sedang di masakan oleh gadis tersebut. Namun luka-luka ditubuhnya terasa amat sakit, perih, nyeri dan berdenyut-denyut, hingga membuat pria itu memilih untuk tetap duduk
"Apa sudah selesai? "Devlan memandang Aira yang menuang sup ke dalam mangkok. Dari aromanya saja, sudah terbayang rasa lezatnya.
"Sudah kita bisa makan, namun aku tidak membuat sambal. Aku juga tidak terlalu menyukai makanan yang pedas." Aira tersenyum dan meletakkan mangkok yang berisi sup.
"Aku juga tidak begitu suka yang pedas. Sepertinya ini sangat enak." Devlan menghirup aroma wangi dari sup tersebut.
"Kamu coba dulu rasanya, apakah enak atau tidak. Jujur saja, aku tidak pandai dalam memasak." Aira tersenyum memandang si pria. Setiap kali melihat wajah Devlan, membuatnya ingin selalu tertawa namun dengan susah payah ditahannya. Ia takut si pria merasa curiga dengan baju yang melekat di tubuhnya.
"Dari aromanya aku yakin rasanya enak." Devlan sudah tidak sabar untuk segera menikmati hidangan lezat yang sudah dimasak langsung oleh gadis yang saat ini mencuri perhatiannya.
Aira hanya tersenyum dan memasukkan nasi ke dalam piring, lengkap dengan daging, sayur, wortel dan kentang. Diletakkannya piring di depan Devlan.
"Terima kasih." Devlan tersenyum. Perutnya sudah terasa amat lapar saat ini. Pria itu ingin segera menyantap makanan malamnya, namun tangannya terasa nyeri dan sakit ketika diangkat. Pria itu juga kesulitan ketika memegang sendok dengan mengunakan tangan kirinya yang sedang terpasang selang infus.
Dengan cepat Devlan menganggukkan kepalanya. Kesempatan seperti ini, tidak akan dilewatkannya begitu saja. "Tangan ku ternyata sakit bila di angkat, sedangkan yang satunya di infus dan aku tidak terlalu pintar menggunakan tangan kiri untuk bekerja."
Aira hanya tersenyum mendengar penjelasan si pria. Ia berpindah posisi dan duduk di samping Devlan.
Devlan fokus memperhatikan gadis yang duduk di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan jantung yang berdegup dengan cepat. Selama ini, ia tidak pernah menyukai wanita lebih dulu. Pada umumnya, wanitalah yang lebih dulu tertarik kepadanya. Para wanita itu, akan dengan suka rela memberikan tubuhnya hanya untuk mendapatkan pria yang nyari sempurna tersebut. Namun walau mereka sudah memberikan semuanya, Devlan tidak pernah mau terikat hubungan apapun dengan para wanita yang mendambakannya.
"Rasanya sungguh sangat lezat. Masakan kamu, tidak kalah enaknya dengan rasa sup daging yang ada di restoran." Pria itu menikmati rasa lezat sup daging yang saat ini disantapnya.
"Ngarang." Aira merasa malu dengan apa yang didengarnya. Gadis itu memukul lengan Devlan.
__ADS_1
Devlan hanya tersenyum meringis menahan sakit.
"Eh, maaf aku tidak sengaja." Dengan cepat Aira mengusap lengan si pria.
"Tidak apa-apa." Pria itu mengulum senyumnya.
"Apa kamu serius?" Aira menatap wajah Devlan dengan mata yang terbuka lebar.
"Iya, ini sangat lezat." Devlan tersenyum. Mulutnya kembali menyambar sendok yang sudah dekat dengan bibirnya.
"Jujur saja, aku tidak begitu pandai memasak. Bisa dibilang sangat tidak pintar dalam memasak. Hanya saja, disini aku harus mandiri. Karena sulit mencari warung makan. Pasar juga cukup jauh." Aira tersenyum dan kembali memasukkan nasi ke dalam mulut Devlan yang sudah terbuka. Ia sangat senang dengan pujian si lelaki yang diyakininya, 50% bohong.
Devlan hanya tersenyum ketika mendengar ucapan gadis tersebut. "Aku rasa kamu harus mencicipinya biar tidak penasaran dengan apa yang kukatakan."
"Aku sudah mencoba tadi, tapi aku tidak yakin dengan perkataan mu. Menurutku, rasanya biasa saja."
Devlan tersenyum memandang gadis berwajah cantik tersebut. "Apa kamu tahu, bagiku sekarang kamu adalah superheroku," ucapnya.
"Kamu tidak perlu berkata seperti itu. sudah kewajiban ku untuk menolong semua orang, tanpa terkecuali," balas Aira.
"Apa kamu dokter?" Devlan bertanya untuk mengusir keraguannya.
"Apa mungkin, aku akan menjahit perut mu, bila aku tidak dokter?"
Devlan hanya tertawa saat mendengar pertanyaan dari Aira. Bodoh sekali bila ia menanyakan hal ini. Melihat keahlian si gadis, seharusnya ia sudah menebak tanpa harus bertanya. Namun melihat wajah Aira yang masih sangat muda, membuatnya ragu. Bila dilihat dari wajahnya, gadis itu seperti seorang mahasiswa, bukan dokter. Bahkan bila memakai seragam SMA, menurutnya masih cocok.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa mengalami hal seperti ini?" Melihat apa yang terjadi dengan Devlan, Aira tahu bahwa ini sudah masuk ke dalam kasus kriminal.
__ADS_1
"Aku dijebak." Devlan tersenyum dan kembali memakan nasi yang sudah berada di ujung bibirnya.
***