Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 15


__ADS_3

"Mas tunggu sebentar, aku mau ambil air dan sabun dulu, untuk bersihin badan mas." Aira beranjak dari duduknya. Apakah karena Devlan pasiennya sehingga ia selalu menuruti kemauan pria itu? Atau ada alasan lain. Selalu saja, ada rasa kasihan dan tidak tega setiap kali melihat wajah si pria.


Dengan cepat Devlan menganggukkan kepalanya. Hatinya sangat senang, akhirnya gadis itu tidak menolak keinginannya. Lagi-lagi dia selalu berpikir bagaimana untuk mendapatkan perhatian full dari dokter cantik yang sudah menyelamatkan nyawanya. Ia juga ingin memanfaatkan waktunya selama di sini, untuk bisa mendapatkan hati sang dokter. "Beby, jangan lupa sikat gigi dan juga odol aku tidak bisa bila tidak menyikat gigiku."


Aira hanya diam dan kemudian pergi meninggalkan kamar. Gadis itu kembali dengan membawa perlengkapan untuk membersihkan tubuh Devlan dan juga sikap serta odol gigi.


Ia hanya fokus membersihkan tubuh Devlan dengan memakai kain yang sudah dikasih sabun dan kemudian membersihkannya dengan kain basah. Pekerjaan seperti, sungguh membuatnya tidak nyaman. Karena itu, ia ingin secepatnya bisa menyelesaikan pekerjaan mengurus bayi tua seperti ini. Ada rasa yang berbeda ketika mata pria itu hanya tertuju kepadanya. Namun dengan bersusah payah Aira menyembunyikan rasa tersebut. Ia tidak ingin pria itu besar kepala karena menganggap dirinya sudah jatuh cinta.


Devlan hanya diam saat Aira membersihkan tubuhnya. Dalam posisi seperti ini, ia dengan bebas menatap wajah cantik sang dokter.


"Mas sikat giginya belum dibeli. Jadi untuk sementara pakai punya aku ya." Aira memegang sikat gigi berwarna pink di tangannya.


"Tidak masalah beby," jawab Devlan dengan tersenyum. Rasa sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya seakan hilang sudah, bila mendapatkan perhatian full seperti ini.


Aira meletakkan odol di bulu sikat kemudian meminta pria itu untuk membuka mulutnya. Dengan sangat sabar gadis itu menyikat gigi Devlan.


"Aku tidak bisa bayangkan jika kamu menjadi istriku beby. Pasti hidup ku akan semakin bahagia, karena memiliki istri secantik dan sebaik kamu." Devlan menatap Aira tanpa berkedip.


Aira menghentikan gerak tangannya. "Jangan banyak berangan-angan."


"Hahaha, aku akan membuktikan kalau aku tidak sedang berangan-angan beby." Devlan mengedipkan sebelah matanya.


"Umur mas berapa sih?" Meskipun sudah tahu namun Aira tetap bertanya, guna menguji kejujuran si pria.


"10 tahun lebih tua dari kamu. Tapi jarak usia kita sangat cocok Beby. Aku sudah matang dan kamu sudah dewasa. Aku yakin kita bisa menjadi pasangan yang sempurna." Idenya tidak ada habisnya untuk merayu si gadis.

__ADS_1


Aira menarik napas panjang dan kemudian mengembuskan secara berlahan-lahan. Jika yang berbicara tidak pria tampan ataupun pria yang memiliki wajah ala kadarnya, pasti ia tidak akan salah tingkah seperti ini. namun pria yang berbicara begitu sangat sempurna. Jika ia mengambil foto pria itu dan memamerkan dengan teman-teman di rumah sakit, pasti akan menjadi topik hangat. Namun lagi-lagi ia harus mampu mempertahankan dirinya agar tidak masuk ke dalam rayuan gombal si pria. "Apa tidak memiliki istri?"


"Tentu tidak beby." Devlan menjawab dengan mantap.


"Jangan bohong, nggak mungkin sudah tua, tapi gak punya istri."


"Aku berani bersumpah beby, aku belum menikah. Aku pria bebas tanpa status." Devlan mencoba untuk meyakinkan si gadis.


"Kekasih atau calon istri ada?" Aira menatap mata Devlan. Ia sungguh sangat penasaran ingin tahu.


Devlan menggelengkan kepalanya.


Melihat jawaban yang diberikan Devlan, membuat Aira semakin tidak percaya. Mana mungkin pria setampan Devlan tidak memiliki kekasih ataupun calon istri. "Apa sudah pernah menikah?"


Aira diam dengan sorot mata penuh kecurigaan.


"Aku tidak berbohong beby, aku tidak memiliki kekasih apalagi calon istri dan rencananya aku ingin menjadikan kamu sebagai calon istri sekaligus menjadi istriku nanti." Devlan tersenyum dengan gaya jenaka.


"Mana mungkin aku percaya sama apa yang mas katakan. Ketemu aja karena masalah sekarat." Aira dengan sengaja menolak percaya.


Devlan tertawa saat mengingat pertemuan mereka yang begitu unik. Bagaimana mungkin ia bisa masuk ke dalam rumah seorang dokter. Jika mengingat ini semua, terasa seperti skenario sinetron yang sudah dikemas semenarik mungkin. "Aku tidak berbohong beby, aku tidak memiliki hubungan dengan wanita manapun, aku bebas."


Aira masih tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Devlan. Bagaimana mungkin pria yang sudah


sangat mapan dan usia yang sudah tidak muda lagi, tidak memiliki pasangan. Matanya terbuka lebar memandang Devlan. "Apa mas normal?"

__ADS_1


"Apakah kurang beby, dengan bukti senjataku yang seperti ini setiap kali dekat denganmu." Devlan tersenyum sambil memandang ke bawah.


Wajah Aira sungguh sangat merah saat mendengar jawaban dari pria itu. Bagaimana mungkin dia lupa bahwa Devlan dalam kondisi polos. Tanpa mau mengundur waktu lagi Aira menyelesaikan ritual membersihkan tubuh si pria. Ia kemudian memasangkan pakaiannya secara terburu-buru.


***


Pram duduk di depan monitor komputer. Ia memeriksa laporan yang diberikan Herman. Matanya dengan jeli memandang deretan angka yang tersusun rapi di dalam tabel. "Ini laporan 3 bulan terakhir?" tanyanya tanpa beralih pandang .


"Iya pak, laporan keuangan sudah di manipulasi lebih dulu sebelum diberikan kepada pak Devlan." Herman menunjukkan laporan yang sudah di print out, agar Pram lebih mudah untuk mengoreksinya.


Pram kembali fokus dengan laporan yang ada di layar monitor dan di map spiral. "Dalam waktu 3 bulan, dia sudah mengelapkan uang perusahaan 5 milyar?"


"Iya pak, dalam 1 hari dia mengambil 10 juta paling sedikit. Hari ini, dia sudah mengelapkan uang 300 juta." Herman menjelaskan.


Pram sangat marah melihat laporan keuangan tersebut. Dengan bukti-bukti laporan yang saat ini dipegangnya, sudah menjadi bukti bahwa pria itu korupsi uang perusahaan.


"Apa yang harus kita lakukan pak, apa kita diam saja dengan apa yang sudah diperbuat oleh Leo?" pak Herman bertanya. Baru saja kembali ke jabatannya, pria berkacamata itu sudah dikejutkan dengan laporan keuangan yang sudah di manipulasi.


"Perintahkan security untuk mengawasinya. Aku tidak ingin dia lepas." Pram memberikan perintah.


"Baik pak." Herman beranjak dari duduknya.


Pram masih terus mengamati layar komputernya. Apa yang selama ini aku katakan benar dan sekarang dia sudah tidak bisa mengelak lagi."


***

__ADS_1


__ADS_2