
"Apa kau tahu mengapa aku memanggilmu ke ruangan ku?" Pram bertanya sambil memandang Leo.
Leo menggelengkan kepalanya.
"Apa kau gugup?" Pram tersenyum dengan mengangkat sudut bibirnya.
Leo tidak menjawab pria itu hanya diam dan merasakan keringat yang semakin membanjiri pelipis kening dan juga tubuhnya. Bahkan pria itu mengusap keringatnya dengan memakai lengan jasnya.
"Jika kau tidak tahu mengapa kau sangat gugup sekali." Pram tersenyum mengejek Leo.
"Tidak pak," jawab Leo yang mencoba untuk tetap tenang.
"Baiklah, aku tidak akan membuat rasa gugupmu semakin bertambah karena itu aku akan menjelaskan terlebih dahulu." Pram membuka map berisi laporan keuangan yang diserahkan Leo kepada Pram. Pria itu juga membuka laporan keuangan di laptopnya.
"Aku sudah memeriksa laporan keuangan yang kau berikan untuk Devlan dan aku sudah mengecek laporan yang asli. Ternyata kamu sudah memanipulasi keuangan perusahaan. Ini total uang yang sudah kamu gelapkan, 5 miliar. 5 miliar ini baru yang kamu ambil 3 bulan terakhir. Aku belum memeriksa korupsi yang kau lakukan sebelumnya.
Leo hanya diam. jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya.
"Karena itu aku akan menyita semua harta milikmu termasuk dua buah mobil mewah, rumah yang sekarang kau tempati berserta rumah yang telah kau bangun untuk mertuamu. Aku juga membekukan semua rekening mu. Semua harta yang kamu miliki akan dipakai untuk mengganti rugi uang perusahaan yang telah kau curi. Aku sudah menghitung berapa nominal harta yang sekarang kau punya." Pram berkata dengan tegas.
Setelah ini, ia akan menjadi gelandangan yang tidak memiliki apa-apa lagi. Mungkin yang bisa tidak diambil perusahaan, hanya mobil yang biasa dibawanya untuk ke kantor yang hanya bernilai sekitar 200 juta.
Sebenarnya aku ingin mengasuskan kamu ke polisi namun karena barang yang kusita sudah mencukupi dari apa yang kamu curi maka aku tidak melakukannya dan aku memecat mu mulai saat ini.
Leo hanya diam dengan tubuh yang gemetar. Namun ada rasa lega di hatinya ketika Pram tidak mengetahui apa yang telah diperbuatnya dengan Devlan.
"Mulai detik ini kamu sudah tidak menjadi karyawan di perusahaan ini dan silakan kemasi barang-barang mu." Pram memecat Leo dengan tidak hormat.
Leo menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi meninggalkan ruangan. Meskipun semua harta yang dimilikinya habis namun setidaknya ia tidak berurusan dengan polisi dan dia masih bisa bertemu dengan istrinya dan memulai hidup yang baru.
Pram memandang Leo yang sudah keluar dari ruangannya. "Ha... ha... kau terlalu berani Leo. Tidak semudah itu bisa lepas dariku," ucapnya kemudian.
Pram mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya kemudian menghubungi seseorang. Dengan sangat cepat nomor yang dihubungi mengangkat panggilan telepon yang dilakukannya.
__ADS_1
"Halo tuan."
"Lakukan seperti aku perintahkan," ucap Pram.
"Baik tuan."
"Aku tidak ingin kau gagal dan dia lolos."
"Kami yakin semuanya akan berjalan seperti yang Tuhan minta. Saya akan memberitahukan bahwa istrinya sudah tidak ada lagi di rumahnya tuan."
"Tidak apa, aku tidak butuh istrinya yang aku butuhkan dia."
"Baik tuan."
Prama memutuskan sambungan telepon setelah mengatakan perintahnya kepada orang suruhannya. Ia kemudian menghubungi sekretaris pribadinya.
"Cia tolong datang ke ruanganku sekarang."
"Baik pak."
"Ada apa pak?" tanya sekretaris Pram yang bernama Alicia.
"Apa aku masih memiliki agenda yang penting?" tanya Pram.
"Untuk hari ini tidak ada pak."
"Kalau gitu aku ingin keluar, aku ada urusan di luar."
"Iya pak, oh iya pak maaf saya ingin tanya. Apa pak Devlan belum ada kabar?" Wanita cantik itu bertanya untuk menghilangkan rasa cemasnya.
Pra memandang sekretarisnya dan kemudian menggelengkan kepalanya. Bila nanti Devlan datang kembali ke perusahaan, kamu ingin jadi sekretaris siapa?" tanyanya.
"Saya tidak masalah pak mau ikut pak Devlan atau ikut bap Pram," jawab Alicia dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
Pram hanya sedikit menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi meninggalkan ruangannya.
***
Aira berada di dalam kamarnya. Setelah sarapan pagi, ia hanya berkurung dan tidak ada keluar dari kamar. Gadis itu ingin menata hatinya, agar bisa melepaskan sang pria. Saat sarapan pagi tadi, ia sudah meminta devlan untuk pergi meninggalkan rumahnya.
Semakin lama berada di dalam kamar bukan membuat suasana hatinya membaik, namun menjadi semakin semakin buruk. "Sebaiknya aku tidak berkurang di sini. Seharusnya aku memanfaatkan waktu singkat ini untuk bersama dengannya."
Aira beranjak dari tempat tidur. Ia menyisir rambut dan mengingat penuh ke atas. Aira memandang dirinya dari pantulan cermin. Setelah yakni bahwa saat ini wajahnya sudah cantik, barulah gadis itu keluar dari dalam kamar.
Jantungnya seakan mau lepas saat melihat Devlan berdiri di depan pintu kamarnya. Entah sudah berapa lama pria itu berdiri di depan pintu, Aira tidak tahu.
"Beby, aku ingin bicara dengan mu."
"Bicara apa?" Aira memandang Devlan yang terlihat kacau.
"Baby apakah aku masih boleh di sini 5 hari lagi?" Devlan mencoba untuk merayu Aira. Ia sungguh tidak ingin pergi meninggalkan rumah ini. Meskipun jauh dari kata mewah namun rumah ini begitu sangat nyaman untuknya. Bahkan lebih nyaman dari apartemen mewah yang selama ini di tempatnya, ataupun rumah mewah yang menjadi kediaman keluarganya.
"No," jawab Aira singkat. Sebenarnya ia tidak tega menyuruh Devlan untuk pergi, namun walau bagaimanapun mereka tidak boleh tinggal serumah seperti ini. Apalagi Devlan dinilainya memiliki hasrat yang tinggi. Sebelum semuanya terlambat dan terjadi sesuatu yang akan membuatnya menyesal, Aira lebih memilih untuk menjauh.
Devan menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan.
"3 hari baby?" Pria itu menarik napas panjang saat gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Baby, 2 hari
"Gak bisa mas." Aira menjawab tanpa memandang wajah si pria, agar prinsipnya tidak goyah.
"Aku minta 1 hari lagi, setelah satu hari lagi, aku akan pergi."
Aira mengangkat kepalanya dan kemudian memandang Devlan. "Baiklah kalau mas minta satu hari." Gadis itu akhirnya memenuhi permintaan pria tersebut.
"Terima kasih Baby, aku sangat senang. Terima kasih karena kamu mau mengizinkan aku untuk tetap di sini." Meskipun waktu satu hari tidak cukup untuknya, namun ia tetap senang karena Aira mau memberikan ia tetap tinggal di sini.
__ADS_1
"Ingat ya mas, 1 hari." Aira mengangkat 1 jarinya. Meskipun hatinya sangat senang namun sebisa mungkin, ia menutupinya, agar Devlan tidak tahu.
***