Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 13


__ADS_3

Leo memimpin rapat dengan sangat baik. Secara tidak langsung, ia menunjukkan kepada semua orang, bahwa dirinya jauh lebih baik dari pada Devlan. Kecerdasan otaknya, tidak perlu di ragukan. Apa permasalahan yang terjadi di perusahaan, dan bagaimana cara mengatasi masalah, semua sudah diketahuinya secara detail. Karena dia orang kepercayaan Delvan. Apa yang disampaikannya saat ini, merupakan ide pikiran sang direktur. Pria itu hanya bersikap sok cerdas di depan semua orang dan bersikap bahwa ini semua ide yang dimilikinya.


Mereka yang ada di dalam ruang rapat, awalnya fokus memandang Leo yang memimpin rapat. Dari berbagai macam gagasan yang disampaikan oleh pria itu, membuat mereka yang hadir di sana merasa kagum. Ide-ide yang dicetuskan Leo memang sungguh sangat brilian dan memberikan keuntungan yang besar untuk perusahaan dan juga bagi mereka pemilik saham.


"Untuk di kepulauan Riau, kita akan menambah titik pengeboran minyak sebanyak 38. Yang mana tempat pemboran minyak ini memang sudah terdeteksi. Bahkan di sini sumber minyak lebih banyak dari tempat pengeboran sebelumnya. Hanya saja, kita akan melakukan pemborosan secara bertahap. Untuk awal bulan depan, kita akan melakukan pemboran di 3 titik." Leo menjelaskan dengan memandang ke arah infokus.


Melihat pintu terbuka, membuat Leo merasa marah. Sudah menjadi aturan di perusahaan ini, bahwa pintu di ruangan rapat tidak boleh ada satu orang pun yang membuka. Andaikan itu urusan penting maka harus menunggu sampai rapat selesai. Dia tidak akan memaafkan siapapun yang berani melakukan tindakan yang tidak sopan seperti ini.


Wajahnya semakin memerah ketika melihat seluruh peserta rapat berdiri.


Matanya ikut memandang ke arah pintu. Jantungnya berdetak dengan cepat ketika melihat sosok yang masuk ke dalam ruangan. Pria itu berjalan dengan gagahnya dan penuh wibawa. Meskipun rambutnya panjang seleher namun terikat dengan rapi.


"Pak Pram, kami tidak menyangka Anda bisa datang di rapat ini." Sapa Herman yang merupakan Karyawan terlama di perusahaan ini. Pria itu sudah mengabdi selama 40 tahun. Namun beberapa bulan yang lalu, jabatannya di geser. Yang biasanya memegang keuangan perusahaan, namun kini berpindah ke bagian laporan barang masuk dan barang keluar saja. Diusianya yang sudah tua, pria itu harus keluar masuk gudang untuk memeriksa barang-barang yang datang dan memeriksa barang-barang yang keluar secara terperinci.


Pram tersenyum dan menjabat tangan pria yang sudah berusia 57 tahun tersebut. "Aku senang melihat pak Herman, sehat seperti ini. Ini rapat penting, mana mungkin aku meninggalkannya."


Pria itu hanya membalas ucapan Pram dengan tersenyum. Dipindahkan dengan jabatan yang jauh lebih rendah memang tidak bisa diterima olehnya, mengingat apa yang telah dilakukannya selama ini. Selama ini, ia tidak pernah merugikan perusahaan dan selalu bekerja dengan baik. Namun satu hal yang selama ini membuat pria itu tetap bertahan, ia ingin mengungkapkan satu rahasia yang sampai saat ini masih terus disimpannya.

__ADS_1


"Pak Pram Alio." Salah seorang pemilik saham langsung menyalami tangan Pram yang sekarang sudah berdiri di depan mereka.


Pram tersenyum dan menjawab sapaan dari pria tersebut.


"Pak Pram, bukankah anda berada di Hongkong?" Leo bertanya untuk mendapatkan jawaban atas keterkejutannya. Tidak mungkin, delvan yang menghubungi pamannya. Ia yakin pria itu hanya tinggal nama. Saat ini para anak buahnya, sedang mencari jenazah si pemilik perusahaan.


Pram tertawa lepas saat mendengar pertanyaan dari Leo. "Aku baru kembali pagi tadi. Aku datang ke sini, karena ulah anak itu. Dia sibuk menghubungi ku setiap waktu, sehingga aku menjadi tidak tenang."


"Kapan pak Devlan menghubungi anda?" Leo panik.


"Ya sekitar 5, 4, 3, 2 hari yang lalu. Bisa dikatakan setiap hari dia selalu mengingatkanku." Pram berkata dengan raut wajah kesal.


"Kami senang melihat anda datang. Kami berharap Anda bisa kembali lagi di perusahaan ini dan membantu pak Devlan memimpin perusahaan," ucap Haryono.


"Pak Pram begitu sangat sibuk dengan hobinya. Beliau tidak mungkin mau duduk manis di kursi kerja dan menghabiskan waktu untuk memandang layar komputer. Lagi pula, pak Pram sudah sangat banyak uang tanpa harus bekerja. Untuk perusahaan, aku akan mengurus dan bekerja sebaik mungkin." Leo berkata dengan tersenyum ramah. Bila Pram kembali ke perusahaan, itu artinya, apa yang telah direncanakannya akan berantakan. Ia sudah mengatur semuanya dengan sangat baik. Target utama yang harus tersingkir, Devlan dan akan dilanjutkan dengan Pram. Leo sudah menyiapkan berbagai rencana yang akan dilakukannya untuk menghabisi Pram di Hongkong. Bila kedua pria itu sudah tersingkirkan dan mati, maka ia akan menguasai perusahaan ini.


"Usiaku sudah tua, sepertinya aku sudah bosan berkelana, hanya sekedar mencari kesenangan dengan hobiku saja. Karena itu aku akan kembali ke sini." Pram berkata dengan senyum mengembang di bibirnya.

__ADS_1


Wajah Leo merah padam saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir pria bertubuh tinggi dan tegak tersebut. Bagaimana mungkin pria itu bisa datang di saat seperti ini. Dia tahu bahwa Pram berada di Hongkong untuk melakukan hobi balapnya. Mustahil rasanya bila pria itu mau meninggalkan hobinya tersebut.


"Leo apa kau tidak melihatku." Pram memandang Leo dengan mengerutkan keningnya.


"Pagi ini saya memimpin rapat," jelas Leo. Pria itu tidak ingin beranjak dari duduknya.


Pram tersenyum dengan mengangkat sudut bibirnya sebelah kanan. "Apakah lupa siapa dirimu?"


"Bukan seperti itu maksud saya pak Pram. Anda baru saja datang, anda pasti belum mengetahui apa saja yang sedang kita bahas saat ini." Leo mencoba untuk tetap tenang. Pria itu menyembunyikan rasa marah karena Pram sudah membuatnya malu.


Pram tertawa lepas. Apa yang dikatakan Leo seakan lelucon bagiannya. Yang membuat wajah lawan bicaranya semakin memerah, hampir semua yang ada di dalam ruangan ikut tertawa.


"Apa kau mengira aku sebodoh itu, pak Leo. Apa kau mengira aku tidak mengetahui apapun tentang perusahaan ini. Di manapun aku berada, perusahaan ini tidak pernah lepas dari tanganku. Di manapun aku berada, Devlan selalu menghubungiku dan membahas tentang masalah perusahaan. Apapun yang terjadi di sini, semuanya aku ketahui. Jadi untuk hal ini, kamu tidak perlu ragu terhadapku. Bahkan apa yang sudah kamu sampaikan saat ini di rapat ini, hasil buah pikiran aku bersama dengan Devlan. Kami sudah membahas masalah ini tiga bulan sebelum memutuskan di rapat ini. Untuk tambahan alat pemboran minyak, dan tenaga kerja, semua sudah kami persiapkan." Pram tersenyum mengejek Leo.


Perkataan sarkas dari pria itu, membuat Leo marah dan malu. Dengan rasa kesal, ia berpindah posisi duduk di kursi yang berada di belakang Pram.


"Pak Herman, mulai hari ini, pak Herman akan kembali ke posisi semula." Pram tersenyum memandang Herman.

__ADS_1


***


__ADS_2