
"Siapa kalian?" Leo panik saat melihat empat orang pria mendekat kearahnya. Saat ini ia berada di parkiran mobil dan berencana untuk segera pergi meninggalkan perusahaan. Sebelum semuanya terlambat, ia ingin melarikan diri.
"Ha... Ha ... Anda tidak perlu tahu siapa kami." Pria itu semakin mendekat.
Ia tidak akan tinggal diam. Hanya tinggal selangkah lagi, kakinya akan sampai ke mobilnya yang terparkir. Dalam kondisi seperti ini yang dilakukannya harus tenang dan tetap fokus dengan tujuan untuk bisa masuk ke dalam mobil. Namun sayang langkahnya dihadang oleh pria tersebut.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, jadi pergilah." Leo geram. Pria itu tidak mampu menutupi rasa takut dan gugupnya. Urusannya dengan Pram dan Nevtex grup sudah selesai. Semua harta miliknya sudah di sita perusahaan. Pram juga sudah memintanya untuk pergi. Namun mengapa ada orang yang menghalangi langkahnya. Tiba-tiba saja wajahnya memucat saat memikirkan kemungkinan yang terjadi. Apa ini orang suruhan Burhan? Namun mengapa pria itu masih berniat untuk menangkapnya. Bukankah Burhan sudah menyandar Ayu, istrinya. Leo mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi.
Mencoba untuk melawan ketika keempat pria itu menyerangnya. Namun kemampuannya jauh di bawah keempat pria tersebut sehingga dengan sangat cepat pria bertubuh besar itu menangkap tangannya yang sedang ingin menyerang. Leo menjerit kesakitan ketika tangannya dipilin ke belakang dan begitu juga dengan tangan satunya lagi. Dalam waktu singkat keempat pria tuh begitu sangat mudah melumpuhkannya.
"Bodoh, lepaskan aku." Leo memberontak. ketika kedua tangannya sudah dikunci ke belakang dan diikat.
"Siapa kalian, apa yang kalian inginkan. Lepaskan aku brengsek." Mulutnya terus saja memaki ke empat pria tersebut.
"Berhentilah berbicara." Salah seorang dari pria itu melayangkan satu pukulan di bibirnya. Untuk mengahadapi pria seperti Leo, tidak sulit untuk mereka. Bahkan ini pekerjaan yang terasa sangat enteng.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, lepaskan aku." Ia mengeraskan suaranya, agar mengundang perhatian orang lain. Namun sayangnya di parkiran ini, kondisi sedang kosong dan tidak ada yang melintas.
"Ini lebih baik untuk menutup mulut mu." Salah seorang dari mereka, menutup mulut Leo dengan lakban.
Tanpa bisa melakukan perlawanan Leo diseret masuk ke dalam mobil milik keempat pria tersebut.
Tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia tetap menggerakkan tubuhnya sebagai perlawanan namun tiba-tiba saja kain hitam menutupi wajahnya hingga tidak bisa lagi melihat.
Leo tidak tahu ke mana dirinya di bawah. Cukup lama mobil itu melaju dan kemudian berhenti. Keempat pria kembali menyeretnya masuk ke dalam sebuah rumah.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia hanya diam ketika tubuhnya di dudukan di kursi dan kaki diikat. Hingga sampai saat ini, matanya masih tertutup kain hitam dan mulutnya tetap.
***
Pram duduk di kursi sambil menghisap rokok di tangannya. Meskipun tidak perokok aktif, namun sekali-kali ia akan menghisap rokok untuk menenangkan dirinya. Tatapan matanya tidak sedikitpun beralih dari pria yang saat ini duduk di depannya. Pria yang duduk dengan kaki dan tangan terikat.
"Tuan, tolong maafkan saya, saya tahu saya sudah salah karena mengelapkan uang perusahaan. Namun anda sudah menyita semua aset saya." Leo berkata dengan memohon setelah kedatangan Pram, dia baru tahu ternyata orang yang menculiknya adalah Pram bukan Burhan.
Entah apa yang akan dilakukan Pram kepadanya. Leo begitu sangat gugup keringat bercucuran di pelipis keningnya.
"Dimana Devlan." Pria itu bertanya dengan tatapan membunuhnya.
"Saya tidak tahu tuan. "Leo tidak berbohong. Hingga sampai saat ini, dia tidak tahu keberadaan Devlan. Namun dia berharap pria itu sudah mati dan hanya tinggal menunggu mayatnya ditemukan.
"Aku ingin jari telunjuknya." Pram berkata kepada anak buahnya.
Leo ketakutan ketika melihat gunting yang dipegang oleh pria bertubuh tinggi tersebut. pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan memohon. "Tolong jangan lakukan," ucapnya yang sudah sangat ketakutan.
Apa yang di perintahkan Pram bukan hanya gertakan saja. Pria bertubuh besar itu, dengan sangat santainya memotong jari Leo dengan menggunakan gunting yang tajam tersebut. Leo menjerit dan menangis menahan rasa sakit. bekas potongan jarinya sudah bercucuran darah.
"Siapa yang memerintahkan?" tanya Pram.
"Tidak ada jawab Leo dengan suara begitu sangat kecil."
"Aku ingin kelingkingnya."
__ADS_1
Wajahnya kembali pucat ketika mendengar ucapan pria tersebut. Rasa sakit kehilangan jari telunjuknya belum hilang, kini pria itu kembali menjerit dan menangis menahan rasa sakit. Baginya mati mungkin lebih baik daripada harus disiksa seperti ini. Dua pertanyaan yang diberikan Pram sudah menghilangkan dua jarinya.
"Aku akan tetap bertahan demi istri dan calon anakku," batin Leo. Demi keselamatan istrinya yang sedang mengandung, Leo menerima semua siksaan yang diberikan untuknya.
"Apa kau lupa, kau hanyalah sampah yang diberikan jabatan tinggi oleh keponakanku dan mengapa kau tega menghianati dan bahkan membunuhnya?" Pram kembali memberikan pertanyaan.
"Aku tidak melakukan hal itu. Aku begitu sangat setia terhadap tuan Devlan dan aku tidak akan pernah menghianatinya," ucap Leo.
Pram tertawa lepas seakan ucapan Leo, merupakan suatu hal yang lucu dan menggelitik perutnya. "Jempolnya." pram kembali memberikan perintah kepada anak buahnya.
Leo merasa seakan ingin pingsan ketika pria itu kembali memotong jarinya. Hanya karena tergiur dengan janji kekuasaan dan uang, ia mau melakukan kerja sama dengan Burhan untuk menikam Devlan dari belakang. Saat ini hanya kesakitan dan kepedihan yang dirasanya.
"Apa kau tahu Leo, aku selalu memberikan daging manusia pengkhianat untuk santapan terlezat harimau peliharaanku. Sudah beberapa tahun ini si Titol tidak pernah mendapatkan daging enak." Pram tersenyum sinis.
Tubuh Leo membeku ketika mendengar ucapan yang disampaikan oleh Pram. Dijadikan santapan harimau, begitu sangat menyedihkan dan dirinya tidak ingin berakhir di dalam perut harimau tersebut.
"Namun buaya peliharaan ku juga sudah merindukan daging manusia." Pram tertawa lepas. Ia tidak pernah melepaskan siapapun yang berniat mencelakai keponakan kesayangannya. Setelah kedua orang tua Devlan meninggal, Pram selalu berada di bagian terdepan untuk melindungi sang keponakan. Dari keturunan Alvaro, hanya Devlan yang masih tersisa. Karena faktanya Pram hanya anak angkat dari kakek Devlan.
Leo menggelengkan kepalanya. Tolong lepaskan aku. Aku tidak tahu di mana tuan Devlan. Aku juga tidak ada yang memerintahkan orang untuk membunuhnya." Pria itu mencoba untuk membersihkan dirinya.
Pram tertawa lepas telinganya. ", Telinganya. Satu kalimat saja kau berbohong, maka satu anggota tubuhnya akan hilang." ucapnya
Leo menjerit kesakitan ketika telinganya dipotong. Ia tidak menduga, hidupnya akan menyedihkan seperti ini karena berhadapan dengan Pram.
"Aku akan memberikan kesan terindah untukmu Leo, sebagai bukti pengkhianatanmu terhadap keluargaku. Aku sudah pernah memperingatimu agar kau berhati-hati karena aku tidak pernah segan-segan melakukan apapun yang aku mau. Namun nyali mu sangat besar. Terlalu mengejar hal yang tinggi sampai lupa bahwa kau dulu hanyalah sampah yang dipungut oleh keponakanku.
__ADS_1
"Paman." Suara Devlan mengejutkan Leo. Wajahnya yang tadi pucat kini semakin memucat ketika melihat Devlan datang.
***