Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 28


__ADS_3

Aira diam saat memandang Devlan. Pria itu sudah bersiap-siap untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Baby kenapa kamu melihatku seperti itu?" Devlan bertanya dengan mengerutkan keningnya. Entah mengapa, ia berharap mendapatkan pujian dari gadis bermata bulat tersebut.


Aira diam sejenak kemudian menggelengkan kepalanya.


"Apa aku sangat tampan baby, sehingga kamu selalu menatapku?" wajah Devlan bersemu merah ketika mengatakan hal tersebut. Memalukan memang, pria yang dianggap sebagai Playboy itu bisa bersikap malu-malu seperti ini di depan seorang gadis belia.


Aira tidak mampu memungkiri bahwa pria itu sangat tampan apalagi saat ini dia memakai jaket kulit berwarna hitam yang membuat penampilannya semakin terlihat macho. Namun bukan itu yang membuat gadis itu menatap dia itu dengan lekat. "Yang bawa mobil sopir, jadi biar sopir saja yang ngantar aku, kamu nggak usah ikut.'


"Aku harus ikut baby, aku harus mengantarkanmu hingga selamat hingga ke tujuan." Devlan tersenyum.


"Kondisi kamu belum sehat benar mas." Aira mengingatkan pria itu.


"Apa kamu tahu baby, aku menggendongmu dari dalam kamar hingga ke mobil. Kemudian dari mobil hingga ke dalam kamar yang saat ini kamu tempati. Rumah ini sangat luas dan besar, apa kamu masih meragukan seperti apa sehatnya aku." Pria itu berkata dengan gaya angkuhnya.


Aira berdesak kesal ketika mendengar jawaban Devlan. "Perut kamu itu tidak boleh angkat berat untuk sementara waktu, karena luka cukup dalam." Aira mengingatkan.


"Bagiku, kamu tidak berat baby." A mengulum senyumnya.


Aira yang malas berdebat akhirnya menurut saja. Apapun yang dikatakannya, akan selalu mendapatkan jawaban dari pria tersebut. Ia duduk di kursi bagian penumpang dan Devlan duduk di kursi sebelahnya. Aira mengerutkan keningnya ketika melihat Melly juga ikut masuk ke dalam mobil. Wanita itu duduk di samping sopir dengan pakaian yang tidak seperti pelayan. Wanita yang memiliki postur tubuh tinggi dan langsing itu, tampak begitu sangat cantik dengan memakai setelan blazer hitam dan juga celana hitam. Dengan rambut penuh diangkat diikat ke atas.


"Baby, aku baru tahu, mengapa langit berwarna abu-abu." Devlan berkata dengan wajah serius.


"Kenapa?" Dengan bodohnya Aira bertanya.


"Karena semua warna ada di mata kamu." Pria itu berkata dengan malu-malu.


Aira diam mendengarkan gombalan receh si pria.


"Baby, apa kamu tahu bedanya kamu sama daun?" Devlan tersenyum.

__ADS_1


"Gak tahu," jawab Aira.


"Kalau daun jatuhnya ke tanah, kalau kamu jatuhnya ke hatiku." Devlan tersenyum lebar. Pria berwajah tampan itu berharap bisa membuat gadis itu jatuh cinta.


Aira hanya tersenyum geli ketika mendengar gombalan receh yang diberikan oleh Devlan.


"Baby, Jepang bikin robot, Jerman bikin mobil. Sedangkan kamu bikin kangen." Seakan tidak kehabisan ide, pria itu terus saja memberikan gombalan yang terdengar lucu dan menggelitik.


Aira hanya bisa tersenyum saat mendengar gombalan Devlan. Entah dari mana pria itu mendapatkan gombalan receh seperti ini. Jujur saja dari gaya Devlan merayu, tidak mencerminkan Playboy banget. Namun lebih mengarah ke pria lugu yang sedang jatuh cinta.


Mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadinya sampai di rumah sakit tempat Aira bekerja. "Kita sudah sampai," ucap pria yang sedang menoleh ke belakang.


Devlan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya mas, besok aku pulang jam 06.00 pagi jadi aku akan langsung pulang ke rumah saja. Aku minta kunci rumah." Aira tersenyum dan menadahkan tangannya.


"Tidak sayang, aku akan menjemputmu. Kamu tidak boleh pulang ke rumah, sampai kondisi di yakini aman." Devlan berkata dengan raut wajah cemas.


Devlan tertawa dan menarik hidung Aira dengan gemas. "Tidak masalah baby, aku akan tetap menjemputmu."


Aira menarik napas pelan dan menghembuskannya. "Iya kalau gitu aku tunggu besok," jawabnya.


Devlan ingin keluar dari dalam mobil namun ia menghentikan niatnya ketika melihat sambungan telepon yang masuk dari Paman Pram dengan cepat pria itu mengangkat telepon tersebut.


"Halo Paman." Devlan diam sesaat. "Iya aku akan langsung ke sana." Pria itu menutup panggilan telepon dan menyimpan alat komunikasi itu kedalam satu jaket kulit yang di pakainya.


"Baby aku tidak bisa mengantarmu hingga sampai ke dalam. Ini kamu pegang." Devlan memberikan sebuah kartu untuk Aira. Ia tahu semua barang gadis itu tinggal di rumah terkecuali handphone yang di bawanya.


Mata Aira terbuka lebar ketika melihat kartu yang diberikan Devlan. Bagaimana mungkin pria itu begitu yakin memberikan karu tersebut. Berulang kali ia melihat kartu berwarna hitam yang di pegang Devlan.


"Kamu boleh pakai untuk apa saja baby, bebas."

__ADS_1


"Nggak usah mas, aku minta uang aja." Aira menolak. Bisa geger rumah sakit bila mengetahui dirinya memegang kartu berwarna hitam tersebut.


Devlan tersenyum dan mengeluarkan uang dari dalam dompetnya beserta back card yang tadi diberikannya. ini baby, kartunya kamu pegang saja. Besok aku akan menemanimu mengambil barang-barang penting di rumah dan untuk sementara kamu pakai tas ini dulu." Devlan sudah menyediakan sebuah tas kecil untuk Aira.


"Mas ini uangnya kebanyakan, aku nggak perlu sebanyak ini. Aku cuman butuh duit untuk beli makanan."


"Tidak apa-apa dokterku, aku belum membayar jasamu sedikitpun. Jadi ini masih kurang." Devlan memasukan uang dan kartu ke dalam tas kecil Aira.


"Jasa perawatan mas nggak sampai segini banyaknya." Aira tahu uang lembaran uang 100 ribu itu dan tampak tebal. Namun dirinya tidak tahu berapa nominal jumlah uang tersebut.


"Tidak apa-apa baby, kamu pegang saja semuanya. Jujur saja uang saja, ini semua belum cukup untuk membalas jasamu kepadaku. Karena kamu, aku masih hidup hingga sekarang, ini ambil." Devlan kembali memberikan tas di tangannya.


"Semua itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai dokter, jadi jangan ngomong seperti itu." Aira mengambil tas yang di berikan Devlan. Meskipun sikapnya menolak dan terlihat tidak butuh, padahal di dalam hatinya begitu sangat senang dan ingin melompat. Tidak terbayang olehnya bisa memiliki kartu yang bebas limit dan bisa dipakai untuk beli apapun.


Ia membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil. Melihat Melly juga ikut turun dari mobil. menimbulkan rasa tanya untuknya. "Kenapa Mbak Melly turun?" tanya Aira.


"Saya akan menjaga nona dan melayani semua yang anda butuhkan." Wanita itu berkata dengan sangat sopan.


"Tapi ini di luar rumah mbak." Aira kesal.


"Kemanapun nona Aira pergi, saya akan selalu ada untuk nona." Wanita itu sedikit tersenyum.


Aira memandang Devlan dengan kesal.


"Aku sengaja memintanya untuk menjagamu baby, jadi jangan takut. Kamu akan aman dan aku pastikan tidak akan ada yang berani untuk mendekat." Devlan tersenyum.


"Aku di sini bekerja mas, jangan seperti ini. "Aira kesal ketika Devlan memperlakukan dirinya seperti ini. Pria itu terlalu menganggap remeh dirinya dan menganggap dia begitu sangat lemah. Hal ini membuat Aira tidak suka.


Aira hanya diam dengan muka yang masih bengong hingga mobil yang dinaiki Devlan pergi meninggalkannya. Bahkan dia tidak tidak mengetahui ketika pria itu berpamitan.


***

__ADS_1


__ADS_2