
Bab 37
Devlan menarik napas lega setelah rapat selesai. Dengan cepat ia menyimpan semua barang-barangnya di atas meja agar bisa secepatnya meninggalkan ruang rapat. Pikirannya masih tidak fokus dan hanya tertuju ke gadis cantik yang sedang tertidur di dalam mobil.
"Mau ke mana? Kenapa terburu-buru?"
Pram langsung memberi pertanyaan dengan sorot tatapan mata tajam ciri khasnya.
"Calon istri aku tadi tidur di mobil Paman, jadi aku ingin melihatnya. Aku ingin memastikan secara langsung apa Aira sudah bangun atau belum. Paman tahu kan Melly itu sangat menyebalkan. Hari ini saja aku sudah kena palak dua kali lipat dari uang gajinya. Aku yakin dia tidak akan memberikan informasi apapun kepadaku tentang calon istriku." Devlan begitu sangat malas untuk menghubungi bodyguard-nya tersebut, walaupun hanya sekedar bertanya apakah Aira sudah bangun atau belum. Dia lebih memilih untuk melihat langsung keberadaan gadis pujaan hatinya.
Pram yang tadinya kesal melihat Devlan tiba-tiba saja tertawa ngakak. Rasa sakit hatinya karena ditertawakan serta di ejek sang keponakan, kini hilang sudah dan digantikan dengan rasa bahagia. Ya Pram bahagia melihat Devlan di siksa Melly sang bodyguard.
"Jangan menertawakan ku, Paman. Jika seandainya ada Melly, Melly yang lain aku akan memilih Melly yang lain untuk menjaga Aira. Aku sungguh sangat pusing dibuat Melly yang sekarang itu," curhat Devlan. Bagaimana tidak frustasi, baru melihat senyum sinis Melly ketika di ajak bekerja sama saja, dia harus membayar 3 kali lipat gaji Melly. Yang itu artinya Devlan harus membayar 75 juta untuk bulan ini.
"Hahaha mimpimu terlalu tinggi." Pram kembali tertawa lepas. "Melly itu makhluk langka, mana mungkin ada kembaran yang sama sepertinya. Satu Melly saja sudah membuat kepalamu pening, apalagi sempat ada kembaran Melly yang lain." Pram kembali tertawa ngakak.
__ADS_1
"Paman juga sama seperti aku, berani ngomelin Melly kalau di belakang. Coba aja di depan Melly, pasti gak berani." Devlan menantang. Lucu dan memalukan sebenarnya. Ketika kedua pria bertubuh tinggi dan tegap dengan tangan berotot dan perut kotak-kotak seperti roti sobek kata orang, harus takut terhadap gadis cantik yang bernama Melly.
"Aku bukannya takut dengan dia, hanya saja aku malas berurusan dengan wanita." Pram berkilah.
"Jangan berkilah paman, kalau memang jago taklukin tuh si Melly. Paman jangan hanya bisa pamer ketika bisa menaklukkan mobil balap McLaren MP4/4 saja." Devlan tersenyum miring sebagai bentuk merendahkan sang paman.
"Hahaha aku lebih memilih menaklukkan seekor harimau daripada dia." Pram sangat pandai mengendalikan dirinya dan tidak ingin masuk dalam perangkap keponakannya.
Devlan tertawa ngakak saat mendengar ucapan pamannya.
"Apa kau tidak memerintahkan agar Melly membawa Aira ke ruangan mu?" Pram mengerutkan keningnya.
"Sudah Paman, makanya aku mau antar barang dulu ke ruanganku setelah itu aku langsung ke parkiran kalau Aira belum bangun," jelas Devlan.
Pram hanya mengangkat kedua bahunya pertanda pria itu no comment.
__ADS_1
Pram memperhatikan Devlan yang tampak begitu berlebihan saat dekat dengan Aira. Hal ini membuat pria itu sedikit tercengang. Selama ini sang keponakan tidak pernah mau tahu dengan wanita dan tidak pernah terikat hubungan apapun. Namun kali ini, Devlan tampak serius dengan perasaannya. Ia sudah mendengar cerita gadis itu dan Aira bukanlah orang yang harus dicurigainya, namun tetap saja dia bukanlah jenis orang yang begitu mudah percaya kepada siapapun termasuk Aira yang memang secara tanpa sengaja bertemu dengan Devlan dan gadis itu pun menyelamatkan nyawa keponakannya.
"Kenapa sekarang semuanya semakin runyam." Pram mengerang kesal. Bagaiman mungkin ia bisa tenang dan santai bila otak kejahatan belum di ketahui.
***
Ayu berada di dalam sebuah rumah yang cukup mewah. Selama berada di dalam rumah ini, ia diperlakukan dengan sangat baik. Orang-orang yang diperintahkan Leo untuk menjaganya, benar-benar melakukan pekerjaan dengan baik dan bahkan begitu sopan terhadapnya. Hal ini yang membuat Ayu nyaman dan tidak merasakan kecurangan apapun. Apa saja yang di butuhkan dan maunya, akan dengan cepat di kabulkan oleh orang suruhan suaminya. Sampai saat ini, ia tidak tahu tentang rumah yang dihuninya. Berdasarkan informasi dari pria-pria yang membawanya ke sini, rumah ini merupakan rumah yang sudah disiapkan Leo dan memintanya untuk menunggu. Namun tetap saja wanita itu merasa tidak tenang, cemas dan juga tidak nyaman.
Ayu memandang layar ponselnya. Meskipun Leo melarang untuk menghubunginya, namun tetap saja ia melakukan panggilan ke nomor telepon suaminya, dan berharap panggilan itu tersambung. Namun nyatanya sampai saat ini sambungan telepon yang dilakukan belum juga tersambung.
Ayu berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Sudah beberapa hari dirinya terkurung tanpa boleh melakukan rutinitas di luar rumah. Wanita itu juga tidak diperbolehkan melakukan komunikasi dengan siapapun termasuk keluarganya sendiri. Ayu ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, namun dia harus bertanya kepada siapa? setelah lelah berjalan mondar mandir ia akhirnya memilih untuk duduk menyandarkan punggungnya yang terasa pegal.
"Apa aku selama ini salah meminta segala sesuatu yang berlebihan? Apakah yang mas Leo lakukan sudah terungkap?"
***
__ADS_1