Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 33


__ADS_3

Bagaimana mungkin kaum hawa tidak terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Devlan. Tubuhnya memiliki tinggi sekitar 185 cm. Kulit putih yang menandakan bahwa ia bukan asli Indonesia. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, yang membuat penampilannya semakin terlihat mempesona. Apalagi si pria yang tidak ada henti-hentinya memberikan senyum termanisnya setiap kali bertemu dengan wanita yang menyapa. Senyum yang diberikannya, membuat wanita-wanita menjadi salah arti dan menganggap pria itu menyukai mereka Padahal senyuman itu diberikan sebagai senyuman sapaan saja.


"Devlan." Seorang pria memanggilnya.


Mendengar namanya dipanggil Devlan memandang ke sebelah kiri untuk mencari asal suara. Benar saja, dia melihat seorang pria yang melambaikan tangan kepadanya.


Devlan memandang pria itu dengan mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat siapakah pria tersebut.


"Lama tidak bertemu, apa kau masih mengingatku? Kita dulu sempat satu sekolah di saat SMA." Pria itu tersenyum dan mengingatkan.


"Vandra." Devlan menyebut nama, sekaligus membuat dadanya terasa panas.


"Hahaha ternyata kamu tidak melupakan aku, Dev. Kamu masih ingat tidak, dulu kita menjadi incaran senang para gadis." Vandra mengingatkan pria itu tentang ketampanan yang mereka miliki ketika masih sekolah. Sehingga menjadi incaran para gadis-gadis di sekolahnya.


"Tentu saja aku ingat," jawab Devlan.


"Setelah tamat sekolah, ini untuk pertama kalinya aku melihatmu." Vanda menepuk pundak Devlan. Ia melihat penampilan temannya dari atas hingga ke bawah.


"Iya aku menyelesaikan studi S1 dan S2 ku di Amerika," jawabnya.


"Kamu keren sekali," puji Vandra. sebenarnya dia tidak pantas memuji Devlan seperti itu, mengingat Devlan memang bukan orang biasa. Jadi mau kuliah di Amerika atau di kutub Utara sekalipun, sudah pasti tidak akan membuat dirinya merasa itu hal yang hebat. Berbeda dengan Vandra yang bisa mendapatkan gelar dokter dari uang bea siswa. Saat masih sekolah, ia dengan suka rela menjadi kacung Devlan. Guna untuk terlihat keren dan dianggap kaya. Pria itu juga memanfaatkan fasilitas yang di berikan Devlan seperti motor, termasuk uang jajan. Ia juga mendapatkan bea siswa dari perusahaan milik Devlan.


"Iya aku kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studiku, dan aku sibuk mengurus perusahaan keluargaku."


"Aku dokter di rumah sakit ini, bagaimana jika kita ngobrol di ruangan ku saja." Vandra berkata dengan sombong. Ia ingin memperlihatkan kehebatannya yang bisa sukses meskipun berasal dari keluarga miskin.


"Lain kali saja, pagi ini aku sibuk," tolak Devlan.


Vandra menganggukkan kepalanya ketika mendengar jawaban Devlan. "Kalau boleh tahu, ada apa kamu datang ke sini?" tanya Vandra.


"Tentu saja ingin menjemput calon istriku," jawab Devlan.


"Apa calon istrimu sedang sakit?"


"Tidak," jawab Devlan cepat.

__ADS_1


"Jadi bila tidak sakit, apa dia bekerja di rumah sakit ini?" Vandra kembali bertanya.


"Iya dia bekerja di sini."


Siapa namanya aku akan memanggilnya lewat informasi. Sehingga kamu tidak perlu berkeliling-keliling, cukup tunggu di sini saja." Vandra memberi usulan.


"Tidak usah, kebetulan aku ingin tahu ruangannya, agar tidak sulit untuk bertemu dengannya. Istriku seorang dokter," Devlan menjelaskan panjang lebar.


"Dokter? siapa namanya?" Vandra Semakin penasaran. Di rumah sakit ini, hanya ada beberapa orang dokter perempuan yang masih gadis.


"Aira." Devlan membuka kacamata hitamnya dan memandang Vandra dengan tersenyum sinis.


*


"Dok ini laporan pasien yang masuk tadi malam." Seorang perawat meletakkan map di atas meja Aira.


"Terima kasih," jawab Aira yang membuka map tersebut. Mata gadis itu memandang ke arah perawat cantik yang berdiri di samping mejanya. Perawat itu terlihat tidak tenang dan kasak-kusuk. "Ada apa?"


"Tidak ada dokter Aira, tapi," ucapan perawat itu tergantung.


"Apa?" Aira penasaran.


"Cowok ganteng?" Aira bertanya dengan gaya acuh tak acuh nya.


"Iya dokter, pagi ini ada cowok ganteng yang datang. Asli, kalau lihat itu cowok seperti lihat Liam Hemsworth sewaktu masih muda." Perawat itu berkata dengan gaya centil. Paras tampan pria itu, masih terbayang olehnya.


Aira hanya diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Saya cek dulu nanti ambil lagi."


"Iya dok, saya keluar dulu takut cowoknya pergi." Dengan cepat perawat itu berlari dan membuka pintu namun kembali masuk ke dalam ruangan Aira.


Aira yang merasa heran memandang perawat yang bernama Luna tersebut. "Kenapa tidak jadi lihat Liam Hemsworth?"


"Orang nya di depan pintu, sepertinya mau masuk ke sini." Gadis itu tersenyum dan berdiri di samping Aira.


Aira hanya diam dan kembali fokus dengan riwayat pasien yang sedang di bacanya.

__ADS_1


"Dok, lihat dia masuk ke sini bersama dokter Vandra." Luna bersisik dan merasakan degup di jantungnya. Ia masih teringat betapa tampannya saat pria itu tersenyum ketikannya.


Aira menghentikan pekerjaannya dan memandang ke depan. Mulutnya sedikit terbuka saat mengetahui Devlan datang ke ruangannya. Aira baru tahu yang di katakan perawatnya ternyata Devlan.


"Selamat pagi baby." Siapa Devlan dengan sangat manisnya. Pria itu juga tersenyum memandang Aira.


"Iya pagi," Aira dengan sedikit tersenyum. "Ngapain juga dia datang


Devlan tersenyum dan melangkahkan kakinya semakin mendekat ke meja dokter cantik tersebut. Karena mengetahui ada pria yang mendekati gadis pujaan hati, semalam ia tidak tidur. Jujur saja, rasa rindu sudah memenuhi ruang hatinya. Tanpa aba-aba, pria itu menyambar bibir Aira dengan cepat. Hal ini membuat perawat Luna dan Vandra patah hati berjamaah.


Wajah Aira begitu amat merah ketika mendapat kecupan di bibirnya dan tepat di depan dokter Vanra dan seorang perawat. Hal ini sungguh sangat membuat dirinya malu. Dengan kesal gadis itu memukul dada Devlan. "Kenapa main cium aja sih mas," omelnya.


"Namanya juga sayang dan rindu sama calon istri." Devlan tersenyum nyengir.


Aira akhirnya memilih diam daripada berdebat panjang dan dilihat oleh dokter Vanra dan juga perawat Luna. Setelah pulang nanti dari rumah sakit, ia berencana untuk marah habis-habisan.


Vandra terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Awalnya ia tidak percaya bahwa Aira calon istri Devlan. Untuk memastikan secara langsung, dokter berwajah tampan itu langsung ikut ke ruangan Aira. Melihat apa yang terjadi, membuatnya percaya dengan apa yang di katakan teman SMA nya tersebut. Ada rasa sakit di dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sakit dan bahkan hatinya seperti di remas tangan berduri tak kasat mata. Untuk pertama kalinya, ia merasa sakit dan patah hati seperti ini. "Aku belum sempat mengatakan cinta. Aku baru berencana mengajak Aira berkencan. Namun aku sudah merasakan patah hati lebih awal," batinnya.


"Sudah selesai jam dinasnya?" Devlan tersenyum dan mengusap kepala Aira.


"Iya sudah, tapi tunggu sebentar, aku cek laporan pasien dulu." Aira kembali fokus dengan kertas yang berada di atas mejanya.


"Nggak tidur ya semalaman?" Devlan tersenyum menatap mata Aira.


"Tidur bentar, soalnya ada pasien masuk," jelas Aira.


"Nanti gitu pulang langsung istirahat ya. Tapi harus sarapan dulu." Devlan memandang Aira dengan rasa iba. Meskipun tahu bahwa ini pekerjaan dari seorang dokter, namun tetap saja tidak tega.


Aira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mbak Luna, ini ya laporannya." Aira memberikan laporan yang sudah selesai diperiksanya kepada perawat Luna.


"Iya dok," jawab perawat itu yang tampak lemas.


Aira merasa tidak enak hati dengan perawatnya. Ia juga tidak menyangka bahwa ternyata pria yang dihebohkan adalah Devlan. Pria yang sudah dekat dengannya dalam waktu beberapa minggu ini.

__ADS_1


"Dev aku mau ke ruanganku. Vandra sudah tidak mampu untuk melihat kemesraan di depan matanya. Gadis yang selalu menjadi pujaan hatinya dan yang sedang diperjuangkannya ternyata sudah menjadi milik orang lain dan yang lebih menyakitkan, mengapa saingannya harus Devlan. Dilihat dari sudut manapun, pasti dia akan jauh kala.


***


__ADS_2