Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 20


__ADS_3

"Stop jangan peluk aku, apa lagi cium." Aira memberikan peringatan sebelum Devlan mendekat dan memeluknya.


Devlan menelan air ludah, dan kecewa.."Oh Baby, aku hanya ingin mengekspresikan kebahagiaan ku." Devlan tersenyum Canggu. Niat untuk memeluk dan mencium, akhirnya kandas karena dokter cantik itu sudah bisa membaca pikirannya.


Aira hanya diam sambil memandang Devlan. "Dasar mesum," batinnya.


"Baby menurutmu situasi sudah aman belum? Aku bosan di dalam rumah selalu. Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan dan makan ke restoran. Ini hari terakhir aku di sini, karena itu aku ingin memanfaatkan waktu yang singkat ini." Devlan berkata dengan raut wajah serius.


"Sebaiknya jangan, nggak enak kalau sempat ada warga yang melihat," tolak Aira dengan tegas.


"Aku benar-benar mirip seperti orang yang sedang melakukan pelarian baby." Devlan mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Sepertinya bukan mirip mas, tapi memang benar, pelarian." Aira tertawa lepas karena berhasil mengejek Devlan.


"Kamu mengejekku baby?" Devlan bersikap seakan dirinya kesal. Namun pada kenyataannya, hatinya sangat senang melihat ketawa Aira yang begitu sangat manis. Entah seperti apa nanti hari-hari yang akan dijalanin ketika jauh dari gadis tersebut. Untuk pertama kali dalam hidupnya, merasa takut kehilangan seorang gadis.


"Siapa yang ngetawain mas," jawab Aira dengan wajah tanpa dosa.


"Kalau tidak menertawakan, apa namanya?" Devlan melipat tangannya dengan gaya marah.


Aira sangat gemas ketika melihat tingkah pria tersebut. "Itu bukan ngejek atau menertawakan. Aku hanya berbicara sesuai fakta," ucapnya yang kemudian tertawa ngakak.


Devlan hanya diam memandang Aira. Ia merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat dan suasana hati yang begitu sangat senang setiap kali berada di dekat gadis cantik tersebut.


"Baby apa aku boleh minta diperiksa?" tanya Devlan dengan wajah serius.


"Apa mas yang sakit?" Aira mendekat dan memangkas jarak antara mereka.


"Dadaku baby." Devlan memegang dadanya sendiri.


"Kalau begitu ke kamar ya mas Bimo, aku akan ambil tas." Aira meninggal Devlan setelah membantu pria itu merebahkan diri di atas tempat tidur.

__ADS_1


Devlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Layaknya seorang anak yang begitu sangat patuh dengan perintah ibunya pria itu pun hanya diam dan menunggu Aira datang.


Aira datang dengan membawa tas yang berisi perlengkapan medisnya. Ia mengeluarkan Stetoskop dari dalam tas. Setelah meletakkan alat kecil itu di telinganya, ia meletakkan benda berbentuk bulat di dada Devlan. Aira memandang devlan dengan kening yang berkerut. "Bisa jelaskan seperti apa gejalanya?"


"Jantungku berdetak lebih cepat." Devlan memegang tangan Aira dan meletakkan di dadanya.


"Penyakit mas Bimo, bukan penyakit ringan yang harus disepelekan. Aku akan menyuntikkan obat, agar bisa secepatnya sehat." Aira mengulum senyumnya dan mengeluarkan suntik besar dan jarum yang besar. Biasanya jarum suntik berukuran besar ini dipakai untuk mengambil sampel darah pasien.


Wajahnya memucat saat melihat suntik dan besarnya jarum yang di pakai. "Baby, aku tidak mau di suntik, aku tidak sakit separah itu. Aku hanya merasakan jantung berdetak lebih cepat bila di dekat kamu baby."


Aira berusaha menahan senyumnya. Ia merasa kesal karena Devlan mengerjakannya. "Beneran?" Ia kembali memasukkan jarum ke dalam tas nya.


"Yes Baby, kamu seorang dokter, kamu pasti tahu apa yang menyebabkan jantung ku berdetak lebih cepat saat bersama dengan mu." Devlan mengambil tangan Aira dan meletakkan di dadanya.


Aira dapat merasakan detak jantung si pria. Bukan hanya Devlan yang merasakan jantung berdegup cepat seperti ini, gadis itu juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, ia lebih pandai dalam menyembunyikan perasaannya.


Bukannya jawaban manis yang didapatnya, pria itu malah meringis menahan sakit ketika dokter cantik itu mencubit pinggangnya dengan keras


"Baby aku ikut menemanimu, ingat waktu ku disini hanya 1 hari kamu berikan. Jadi karena itu, aku ingin selalu bersamamu." Devlan berkata dengan tersenyum.


Aira menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan. "Terserah mas deh," jawabnya kemudian. Bila nanti pria itu sudah tidak ada di rumahnya, ia akan merindukan keusilan dan kekonyolan Devlan yang seperti ini.


Aira dan Devan menghentikan langkahnya yang berjalan menuju ke dapur ketika mendengar suara ketukan pintu.


"Mas ada yang datang." Aira sedikit berbisik.


"Iya baby aku akan bersembunyi di kamar."


"Iya mas, aku akan buka pintunya," jawab Aira yang kemudian membuka pintu setelah Devlan masuk ke dalam kamar.


Aira diam ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Apa benar ini rumah dokter Aira?" Tanya si pria.


"Iya." Aira memandang pria bertubuh tinggi dan tegap tersebut. Pria tampan itu membuka kacamata hitamnya dan tersenyum ramah.


Aira hanya diam memandang pria yang memiliki paras wajah yang nyaris sempurna. Pria itu memiliki tubuh yang tinggi, hidup mancung dan runcing, alis tebal, rahang tegas dan memiliki jambang yang rapi. Namun ketampanan Devlan, tidak kalah dengan pria itu. "Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aira.


"Adik kecil, om ingin meminta kamu memanggilkan dokter Aira. Om ada perlu dengan beliau."


Aira memandang pria itu dengan memajukan bibirnya. Penampilannya memang seperti gadis usia 17 tahun. Ia hanya memakai piyama berwarna pink dengan rambut panjang yang diikat ke atas dan wajah polos yang hanya sedikit memakai lipstik dan bedak secara tipis.


"Hai adik kecil, kenapa hanya diam. Apa dokter Aira ada?" Pria itu bertanya dengan sangat lembut, layaknya berbicara dengan seorang anak kecil.


"Yang buat pasien aku sepi setiap kali ketemu, karena mereka meragukan kemampuan aku dan mengatakan aku mahasiswa yang sedang melakukan praktikum di rumah sakit," batin Aira.


"Hai kenapa diam saja?" Pria itu tersenyum dengan manis.


"Yang anda cari itu saya." Aira berkata dengan kesal.


Pria itu tertawa lepas memandang wajah Aira. Ini untuk pertama kalinya ia tertawa lepas seperti ini. Seakan apa yang dikatakan gadis itu sebuah lelucon untuknya.


Aira semakin kesal dan ingin menutup pintu rumahnya, namun dengan cepat pria itu menahannya.


"Adik kecil jangan marah dong, Om beneran cari dokter Aira. Tapi kamu malah ngajak bercanda," ucapnya dengan tersenyum.


"Dokter Aira itu saya," jawab Aira yang semakin kesal, namun tetap berusaha meyakinkan si pria.


"Jika kamu mengaku dokter, Om yakin tidak akan ada pasien yang mau menjadi pasienmu."


Ucapan sarkas dari pria itu semakin membuat Aira kesal. Namun hal itu menang benar.


"Baiklah om, dokter Aira sedang keluar. Jadi om pulang aja." Aira sudah malas untuk berdebat. Gadis itu berencana untuk menutup pintu.

__ADS_1


***


__ADS_2