
Devlan menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan mengangkat sudut bibirnya melihat raut wajah vandra yang patah hati seperti ini membuat hatinya senang.
"Dokter Vandra." Aira memanggil nama pria yang sudah membalikkan tubuhnya ke arah pintu. Melihat Aira memanggil nama dokter yang menjadi saingannya membuat Devlan kesal. Wajahnya merah seketika.
"Dok, pasien yang semalam masuk, langsung dirujuk ke dokter ya. Soalnya pagi ini harus segera di operasi." Aira tersenyum.
"Ya," jawabnya dengan lemas. Hatinya sudah senang ketika mendengar Aira memanggilnya, namun setelah mengetahui apa yang disampaikan oleh gadis itu, membuat dirinya kembali kecewa. Pria itu keluar dari ruangan Aira dengan wajah menunduk. Untuk pertama kalinya, ia merasakan seperti apa sakitnya patah hati. Apakah seperti ini rasa sakit yang selama ini ditinggalkannya untuk para wanita yang menjadi korban cintanya. Apakah karena rasa sakit itu yang membuat beberapa orang wanita berniat untuk bunuh diri. Namun hal itu tetap tidak membuat Vandra tersentuh dan merasa kasihan. Bahkan tidak sedikitpun berniat untuk membatalkan tekadnya, untuk mengakhiri hubungan dengan para wanita yang sudah membuatnya bosan. Jahat, brengsek dan tidak berhati, seperti itulah gambaran sifat yang dimilikinya.
Usianya sudah tidak muda lagi. Pria itu sudah berusia 32 tahun dan bahkan sebentar lagi akan memasuki usia 33 tahun, namun sampai saat ini Vandra masih menikmati status melajangnya dan bermain-main dengan para wanita. Melihat Aira, entah mengapa dia bertekad untuk membina sebuah rumah tangga dan tentunya bila Aira bersedia menerimanya untuk menjadi suami. Namun apa yang saat ini terjadi membuat dirinya lemas seketika.
Rasa kesalnya semakin bertambah-tambah ketika melihat wajah wanita cantik yang selalu menatapnya dengan tatapan sinis. Bahkan sekarang sudut bibir wanita itu terangkat sebelah ketika memandang Vandra. Seakan menandakan bahwa gadis itu menertawakannya.
"Walaupun wajah mu cantik, tapi aku tidak tertarik denganmu, judes, galak. Belum lagi tatapan matanya, serem." Vandra berkata dalam hati. Melly salah satu wanita yang dicoretnya di dalam daftar nama calon kekasihnya. Vandra tidak menyukai wanita galak seperti Melly. Dia menyukai wanita yang kalem, lembut, feminim dan cerdas. Tidak terbayang bila dia bersama dengan gadis tersebut. Sudah pasti burungnya tidak akan bebas terbang ke sana kemari. Patuk sana, patuk sini, seperti yang sudah-sudah. Bila ia nekat melaksanakannya, bisa saja kepala burungnya diputar sampai patah. Membayangkan hal ini saja sudah membuat bulu roma nya berdiri.
Entah mengapa, hatinya begitu sangat senang dan bahagia ketika melihat wajah si dokter mesum. Ingin sekali Melly tertawa lepas untuk mengekspresikan rasa bahagianya saat ini. Namun hal itu terpaksa ditahannya demi menjaga image.
__ADS_1
Setelah bersitatap dengan Melly beberapa saat, Vandra kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke ruangannya. Pagi ini ia sudah datang ke rumah sakit karena akan melakukan visit terhadap pasiennya. Apalagi pasien yang tadi malam ditangani Aira, akan menjadi pasiennya karena pasien itu harus melakukan operasi di bagian kepalanya.
*
"Baby, kenapa diam saja?" Devlan yang duduk di sebelah Aira tersenyum. Pria itu kemudian mengusap pipi mulus sang gadis. Namun dengan cepat Aira menepis tangannya.
"Baby kenapa marah?" Devlan mengulum senyumnya. Kenapa Aira marah, sudah pasti pria itu tahu jawabannya. Namun tetap saja memakai wajah polosnya seakan tidak bersalah sama sekali.
"Mas kenapa sih cium-cium kayak gitu depan dokter Vandra dan perawat Luna." Aira kesal. Sejak tadi ia ingin mengomeli Devlan, namun hal itu harus diurungkannya. Mengingat di rumah sakit begitu sangat ramai rekan kerjanya dan dia tidak ingin menjadi pusat perhatian di sana. Rasa kesalnya bertambah berkali-kali lipat saat melihat para wanita yang menatap ke arah Devlan tanpa berkedip.
Aira menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengarkan alasan yang disampaikan Devlan. "Mas, dokter Vandra itu rekan kerjaku dan dia juga atasanku. Kamu nggak harus bersikap seperti itu."
Devlan tidak menjawab ucapan Aira. Pria itu hanya diam dan menatap mata gadis tersebut. Ada rasa kesal dan marah saat mendengar Aira memberikan pembelaan untuk playboy cap gayung tersebut.
"Mas, mau apa?" Aira panik saat Devlan semakin mendekatkan wajahnya dengan sorot mata yang tajam. Saat ini mobil melaju kencang dan ia tidak akan bisa melakukan apa-apa bila pria itu melakukan hal yang buruk.
__ADS_1
Tanpa berkata apa-apa, ia mencium bibir Aira.
Aira mencoba untuk menolak, namun Devlan menahan tekuk lehernya hingga kepalanya tidak bisa menjauh. Kecupan yang saat ini diberikan Devlan berbeda dengan kecupan yang sudah beberapa kali diberikan pria itu. Selama ini Devlan hanya mencium bibirnya sekilas dan sekedar mencuri saja.
Rasa cemburu membuat pria itu lepas kendali. Ia mencium bibir Aira dengan penuh hasrat dan sedikit kasar. Bukan hanya menghisap dan menggigit kecil bagian bibir saja. Lidahnya juga menerobos masuk ke dalam mulut Aira dan bermain di sana. Devlan merasakan bahwa gadis itu belum mahir melakukan adegan ini. Ia bisa mengetahui dari cara Aira menerima dan beberapa kali mengigit lidahnya.
Cukup lama menikmati bibir Aira, Devlan menghentikannya saat gadis itu menepuk-nepuk dadanya dan memberikan isyarat bahwa ia sudah kesulitan bernapas.
Wajah Aira begitu amat merah. Marah dan malu, bercampur menjadi satu. Ia akhirnya hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Melihat Aira yang menundukkan kepala menahan rasa kesalnya, membuat ia merasa bersalah. Untuk pertama kalinya, Devlan merasa bersalah setelah mencium paksa bibir seorang gadis. Devlan menempelkan jari telunjuknya di dagu Aira dan mengangkat wajah gadis tersebut. "Lihat aku baby, aku laki-laki, aku tahu dan bisa membaca pikiran orang itu, hanya dari tatapan matanya saja."
Aira tidak menjawab, hanya air matanya yang menetes sebagai ungkapan kekecewaannya. Mungkin terkesan kolot untuk wanita yang seusianya dengan status dokter. Yang masih memegang teguh untuk tidak bebas beradu bibir dengan lawan jenis yang tidak terikat hubungan spesial. Bahkan Aira sudah bertekad untuk melakukan adegan ciuman hanya bersama dengan pria yang sudah menjadi suaminya.
***
__ADS_1