Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 41


__ADS_3

Aira terkejut ketika melihat apa yang dilakukan Melly terhadap wanita yang diketahuinya bernama Alena. Hanya dengan satu kali gerak saja, wanita cantik itu tergeletak tak berdaya di lantai.


"Apa kamu tidak apa-apa baby." Devlan bernapas lega dan memeluk tubuh Aira. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa pria itu sangat mencemaskan gadisnya.


Aira diam dengan tubuh gemetar. Apa yang terjadi saat ini membuat dirinya merasa takut. Apalagi ketika melihat apa yang dilakukan Melly terhadap Alena, sehingga wanita itu kini sudah tergeletak di lantai.


"Ayo baby kita ke ruanganku." Devlan mengusap air mata yang mengalir deras di pipi Aira.


Aira menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa mas, aku harus memeriksa wanita itu dulu. Aku harus membantunya, siapa tahu dia masih hidup." Dokter muda itu panik dan menangis.


"Nona tidak perlu khawatir, dia tidak mati, hanya patah leher saja." Melly tersenyum.


Mendengar jawaban Melly membuat Aira semakin takut. Senyum sang bodyguard juga berbeda. Tidak senyum sinis seperti biasa. Namun seperti seorang psikopat yang tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang telah di lakukannya.


"Bahwa wanita ini!" Melly memberi perintah kepada kedua security yang berdiri di dekat Melly.


"Aku akan memeriksa kondisinya terlebih dahulu." Aira tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang Melly katakan. Saat ini, ia berada di kantor milik Devlan, sudah pasti orang yang berada di dalam sini akan melakukan semuanya berdasarkan perintah pria tersebut. Meskipun Alena sangat jahat kepadanya, namun sebagai seorang dokter Aira tidak boleh abai dengan nyawa orang lain.


"Nona tidak perlu khawatir, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan." Melly tersenyum penuh kepuasan.


Melly berkata dan mengikuti kedua security yang membawa wanita yang sudah dalam kondisi tidak bergerak tersebut.


"Tunggu!" Aira menghentikan dua orang security yang menyeret Alena.


Devlan masih diam dan melihat apa yang akan dilakukan gadisnya.


Aku akan memeriksa kondisinya terlebih dahulu.

__ADS_1


Devlan memberikan gerak dagunya kearah dua orang scurity, sebagai isyarat untuk meletakkan tubuh wanita tersebut.


Kedua pria yang bertugas menjaga keamanan itu, meletakkan wanita tersebut di lantai.


Aira memegang denyut nadi si wanita. Asa rasa lega saat tahu bahwa wanita itu dalam keadaan hidup. Ia mengeluarkan alat Stetoskop dari dalam tasnya dan mulai melakukan pemeriksaan.


Para karyawan yang berdiri dan menyaksikan keributan tersebut, berusaha menutup mulut dengan rapat.


Mereka seakan tidak percaya ketika melihat gadis yang begitu sangat mudah dan cantik itu melakukan pekerjaan dokter. Awalnya mereka beranggapan bahwa Aira mainan baru sang bos dan bisa saja bosnya sudah memiliki gula bayi seperti kebanyakan yang dilakukan oleh pria berduit yang tidak ingin terikat dengan hubungan pernikahan.


"Langsung antar dia ke rumah sakit dan hati-hati dengan kepalanya, jangan sampai cedera di lehernya bertambah parah." Aira berkata setelah memeriksa Alena dan memasukkan alat medisnya ke dalam tas.


"Baik nona," jawab security itu dengan patuh.


Devlan tersenyum tipis ketika melihat Aira. Sifat gadis kecilnya yang seperti ini, yang membuat dirinya semakin kagum.


Aira masih begitu sangat kesal dan hanya diam sambil berjalan mendahului Devlan.


"Jangan sombong baby, ini adalah kantorku dan kamu baru sekali ke sini. Kamu tidak akan tahu di mana ruanganku sedangkan gedung ini memiliki 20 lantai dan ratusan jumlah ruangan." Pria itu tertawa kecil. "Bahkan aku sendiri tidak tahu berapa banyak jumlah ruangan di sini," ucapnya jujur.


Aira yang baru menyadari hal tersebut hanya bisa diam dengan menunjukkan wajah kesalnya."Seperti ini kalau datang ke sangkar buaya. Baru datang untuk pertama kali saja, sudah habis nih rambut di jambak," sindirnya. Bersyukur ada Melly, kalau tidak mungkin rambutnya sudah habis ditarik dan kepalanya botak dibuat wanita itu.


"Maafkan aku baby, dia bukan kekasihku hanya saja wajahku ini terlalu tampan sehingga membuatnya gelap mata."


Aira berdecak kesal saat mendengar pembelaan dari pria tersebut. Kali ini ia tidak melarang ketika Devlan memegang tangannya karena memang ia tidak tahu harus ke mana.


***

__ADS_1


Wajah Ayu memucat ketika mendengar apa yang disampaikan oleh pria bertubuh tinggi di depannya. Wanita itu masih tidak percaya jika suaminya menjadi seorang narapidana. Malu dan sedih bercampur menjadi satu. Mengapa Leo masih ditangkap. Padahal semua aset yang mereka miliki dan diketahui perusahaan, sudah disita.


"Maafkan saya nyonya, saya harus memberitahukan ini kepada Anda. Jujur sebenarnya saya tidak tega apalagi kondisi anda sekarang sedang hamil." pria itu berkata dengan raut sedih


"Suamiku hanya ditahan sebentar saja kan?" Ayo bertanya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia berharap berita ini tidak sampai terdengar di telinga teman-teman sosialitanya. Ayu begitu sangat malu jika ada yang mengetahui kasus yang menimpa keluarganya.


"Untuk hal ini belum bisa dipastikan nyonya. Hanya saja dari kasus yang menjerat tuan Leo. Yang memberatkan kasus percobaan pembunuhan yang akan dilakukannya kepada tuan Delvan. Tuan Leo tidak bisa mengelak karena mereka memiliki bukti yang kuat." Dengan sengaja pria itu memberikan informasi yang lengkap, dengan harapan istri Leo itu frustasi dan semakin terpukul.


Ayu diam dengan tubuh yang terasa lemas. "Aku ingin melihat suamiku."


"Saya akan memesankan taksi untuk anda."


Ayu menganggukkan kepalanya. Wanita itu sangat senang karena masih ada orang yang mau membantunya. Padahal kondisinya sudah seperti ini, namun anak buah suaminya dengan sukarela menolongnya.


"Saya ambil tas dulu." Wanita itu masuk ke dalam kamar dan keluar dengan tas sandang di bahunya.


"Silakan nyonya taksinya sudah menunggu di depan."


"Terima kasih," jawab Ayu yang langsung keluar menuju ke arah mobil taksi yang sudah menunggunya.


Meskipun tubuhnya terasa lemas, namun wanita itu tetap masuk ke dalam taksi dan harus bertemu dengan suaminya.


Ayu tidak tahu di mana suaminya ditahan, namun sepertinya sopir taksi itu sudah mengetahui tujuannya dan si supi memberhentikan taksinya tepat di depan kantor polisi.


"Untuk uang ongkosnya sudah dibayar." Sopir taksi itu memandang penumpangnya.


"Terima kasih," jawab Ayu yang kemudian turun dari dalam mobil.

__ADS_1


***


__ADS_2