Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 8


__ADS_3

"Airin." Devlan memanggil gadis yang sedang merapikan meja makan.


"Iya mas," jawab Aira. Setelah melakukan perdebatan panjang untuk sebuah panggilan, akhirnya Aira memanggil pria itu dengan sebutan mas. Karena si pria tidak ingin terlihat tua bila di panggil om, atau uncle.


"Apa kamu merasa kalau rumah ini sedang dipantau dari luar?" Devlan bertanya dengan raut wajah serius.


"Iya mas, tadi aku mengintip di jendela. Masih ada 2 orang yang terus memandang ke sini." Aira berkata dengan santai.


Devlan diam ketika mengetahui ternyata gadis itu mengetahui hal tersebut. Namun Aira terlihat santai tanpa ada ketakutan di wajahnya. Padahal saat ini keselamatannya sedang terancam. "Apa kamu tidak takut?"


"Takut sebenarnya, tapi ya mau gimana lagi. Pengennya bersembunyi di dalam ruang bawah tanah, tapi sayangnya nggak punya. Jadi ya hanya bisa pasrah." Aira tersenyum.


Devlan menarik napas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan-lahan. "Maafkan aku yang sudah menyeret mu ke dalam permasalahan ini," sesalnya.


"Jangan ngomong gitu mas, kalau sudah takdir, tidak bisa dielakkan. Kita tidak tahu seperti apa jalan hidup yang akan di lalu. Kita akan berjumpa dengan siapa dimasa depan," jawab Aira.


"Senang sekali bisa berjumpa dengan l gadis cantik dan sangat pintar seperti kamu." Devlan memuji.


Aira hanya tersenyum ketika mendengar pujian kecil dari pria tersebut. Bila ditanya takut tentu saja dirinya sangat takut namun tidak mungkin bisa bersembunyi ataupun pergi dari rumahnya sendiri. Apalagi kondisi Devlan sekarang tidak memungkinkan untuk keluar dari rumah.


"Bila mereka datang ke sini, aku masih bisa menghadapinya, jadi kamu jangan cemas ya." Devlan tersenyum.


Aira hanya tertawa kecil ketika mendengar ucapan si pria.


"Kamu meragukan ku?" Devlan sadar bahwa Aira sedangkan menertawakannya.


"Gimana mau bertarung, makan aja susah," ejek Aira.


Devlan diam memandang Aira. Mengapa dirinya yang lebih merasa takut dari pada dokter muda tersebut. "Apa semua pintu sudah dikunci dengan baik?"


"Sudah, di sini rumah cukup rapat, jadi kemungkinan mereka untuk menggedor pintu sangat kecil." Aira menejelaskan. Ia tidak ingin bila Devlan cemas.


"Semua barang-barang yang berkaitan denganku, tolong disimpan ditempat yang tidak terlihat oleh siapapun."

__ADS_1


Aira yang memahami apa yang dicemaskan oleh Devlan langsung menganggukkan kepalanya. Gadis itu mencuci piring makan kemudi pergi mengambil barang-barang milik Devlan. Seperti sepatu, dan pakaian yang tadi di cucunya. Disimpannya barang-barang itu ditempat yang tertutup. Sedangkan kapas yang dipakai untuk membersihkan luka, sudah dibuang ke dalam tong sampah.


"Aku sudah menyimpan semuanya." Aira berkata setelah memastikan tidak ada benda milik Devlan yang terlihat.


"Apa di rumahmu ada benda tajam seperti sabit, atau golok?"


Aira diam, senjata tajam memang dibutuhkan Devlan untuk melindungi diri mereka, bila ada yang datang untuk menyerang. Namun tetap saja ngeri ketika mendengar pertanyaan dari pria tersebut.


"Apa ada?" Devlan tidak mungkin bisa menghadapi serangan tanpa ada senjata, mengingat kondisi tubuhnya yang terluka.


Aira menganggukkan kepalanya. Ia mengambil perkakas senjata tajam yang di simpannya. "Mas pilih saja."


"Kamu membutuhkan alat ini untuk apa?" Devlan melihat alat yang dikeluarkan Aira. Sabit, palu, gergaji, Kampak, parang, cangkul, lingis dan beberapa alat pertukangan lainnya.


"Tentu saja di pakai bila perlu," jawab si gadis dengan tersenyum. "Ada yang mengetuk pintu." Wajah Aira memandang Devlan.


Devlan menganggukkan kepalanya. Ia juga mendengar suara ketukan dari luar.


"Kamu harus bersembunyi."


Suara ketukan pintu semakin keras, membuat otaknya tidak bisa banyak berpikir.


"Aku akan bersembunyi di dalam kamar. Aku akan mengawasi mu dari kamar. Kamu jangan takut." Devlan mengusap kepala Aira.


Aira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Matanya melotot memandang Devlan yang mencium bibirnya. Bila tidak dalam kondisi genting, sudah pasti akan diomelin nya pria itu habis-habisan.


"Sakit sayang." Devlan tersenyum menggoda si gadis. Entah setan mana yang merasukinya hingga mencium bibir Aira.


"Jangan cari kesempatan."


"He... he... maafkan aku sayang. Aku sangat gugup." Devlan beralasan. Sedangkan gadis itu hanya diam sambil memajukan bibirnya.


Aira malas untuk berdebat dengan Devlan, apa lagi suara yang berasal dari pintu rumahnya, semakin keras.

__ADS_1


"Tolong lepaskan dulu infus ku, agar aku bisa bersembunyi." Devlan memandang tangannya.


Aira dengan cepat melepaskan infus di tangan Devlan. Hanya jarum saja yang masih dibiarkan menempel. Gadis itu menyimpan kantong infus dan menepikan besi penyangga.


Ia berjalan ke pintu rumahnya dan mendengar suara pria yang memanggil-manggil ibu dokter dan meminta bantuan.


Devlan membuka semua pintu kamar, agar tampak jelas bahwa tiap kamar dalam keadaan kosong. Ia kemudian bersembunyi di dalam lemari pakaian yang berada di kamar Aira. Dari dalam lemari ini, ia bisa mengintip keluar.


Aira memandang Devlan yang sudah masuk ke dalam kamar dan bersembunyi di dalam lemari. Gadis itu mengintip terlebih dahulu lewat jendela depan. Dibukanya pintu setelah melihat warga yang dikenalnya.


"Maaf ibu dokter, saya mengganggu, malam-malam seperti ini. Tapi si mas ini, temennya terluka kena begal, kasihan," ucap si pria yang berdiri di depan pintu.


Aira memandang pria yang saat ini sedang merintih kesakitan. Wajah pria bertubuh tinggi itu, sudah tampak pucat dengan darah yang bercucuran dari bahunya yang terluka.


"Silahkan masuk, saya akan memeriksa kondisinya." Aira mempersilahkan ketiga pria itu untuk masuk. Ia merasa lega, karena warga yang mengantar, ikut masuk ke dalam rumah.


Kedua pria yang datang bersama dengan pasien duduk di lantai, sedangkan pria yang terluka direbahkannya di lantai.


Aira masuk ke dalam kamar untuk mengambil perlengkapan medisnya. Dengan cepat ia datang dengan membawa perlengkapan medisnya. Wanita itu mulai memeriksa kondisi detak jantung pasien. Kondisi bahu pasien terbelah, hingga ia tidak bisa membuka pakaian si pria. Aira akhirnya menggunting baju yang dipakai pria tersebut.


"Kondisi luka sangat parah, bahkan lukanya sampai ke bagian tulang dan bersyukur tangan tidak putus. Pasien juga sudah banyak kehilangan darah. Hanya saja saya tidak bisa memberikan penanganan yang intensif untuk pasien, karena saya tidak memiliki alat medis yang lengkap. Jadi saran saya temannya langsung dibawa ke rumah sakit, agar mendapatkan penanganan yang intensif. Untuk sementara ini saya hanya bisa memberinya obat penghilang rasa nyeri dan obat menghentikan pendarahan." Aira berkata setelah memeriksa kondisi luka di tangan pasien.


Kedua pria itu saling pandang setelah mendengar apa yang dikatakan dokter muda tersebut. Dilihatnya dokter muda itu memberikan suntikan beberapa kali di tangan rekannya.


Ada rasa kesal di wajah kedua temannya ketika mendengar apa yang disampaikan oleh dokter muda itu. Padahal mereka berharap temannya bisa dirawat di sini, ataupun bisa mendapatkan penanganan yang lebih lama agar mereka bisa mengawasi setiap sudut rumah ini, guna mencari sasarannya.


"Kalau gitu langsung dibawa ke rumah sakit mas," ucap warga yang tadi ikut membantu mengantarkan pasiennya.


"Saya akan telepon ambulans agar bisa secepatnya dijemput." Aira berencana untuk menghubungi rumah sakit.


"Tidak usah ibu dokter kami langsung membawa teman kami ke rumah sakit. Apa boleh saya numpang ke kamar mandi sebentar?" tanya salah seorang pria.


Aira begitu sangat mengingat wajah kedua pria yang saat ini sedang menemani temannya. Kedua pria itulah yang sejak tadi mengintai rumahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2