
"Dokter Aira." Vandra menyapa dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Tangannya memegang 2 cup kopi.
"Iya dokter Vandra, ada apa?" Aira tersenyum.
Melihat gadisnya tersenyum kepada pria lain, membuat dadanya terasa panas dan terbakar.
"Mas nanti aku telpon lagi, soalnya ada dokter Vandra." Aira berkata dengan tersenyum.
Belum sempat Devlan menjawab, sambungan telepon sudah terputus. Devlan marah dan kesal. Niat hati menelepon Aira agar bisa tidur nyenyak, namun faktanya ia semakin frustasi dan tidak bisa tidur.
"Sial, siapa dia berani mendekat calon istri aku. Vandra, aku tidak asing dengan nama itu." Devlan membenci si pemilik nama.
[Melly, apa yang sedang kau lakukan. Aku meminta mu untuk menjaga Aira, tapi mengapa dia bersama dengan pria.] Devlan mengirim pesan tersebut ke no ponsel milik Melly.
[Saya selalu menjaga Nona Aira, sesuai dengan perintah tuan. Saya akan memastikan agar pria dokter itu tidak bisa menyentuhnya. Jadi anda tentang saja.] Melly membalas pesan dari Devlan dengan santai. Tidak terlihat wajah ketakutan saat membalas pesan tersebut.
[Bagaimana aku bisa tenang, jika gadis ku diganggu pria lain.] Devlan semakin kesal saat menerima balasan dari Melly. Tidak Aira, tidak Melly, sama saja membuatnya kesal.
[Nanti saya akan memberikan informasi yang komplit. Sekarang saya sedang mengamati dokter itu. Jadi berhenti mengirim pesan ke pada saya. Tunggu saya menghubungi anda.] Devlan benar-benar kesal membaca pesan terakhir dari orang kepercayaan tersebut.
"Bagaimana mungkin dia bisa lebih galak dari aku. Aku benar-benar ingin menendang dia ke planet Pluto." Devlan frustasi. Namun ia tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Karena hanya Melly orang yang dia yakini bisa menjaga Aira. Setelah penghianatan dari Leo, Devlan tidak akan mudah untuk percaya begitu saja.
"Apa yang harus aku lakukan. Mengapa otak ku seperti berhenti berpikir seperti ini." Devlan menarik rambutnya. Ini untuk pertama kalinya, ia merasakan panasnya api cemburu hingga dadanya terasa terbakar.
__ADS_1
***
Aira memandang dokter Vandra yang meletakkan 2 cup kopi di atas meja. Pria itu selalu memiliki cara untuk mendekatinya seperti ini.
"Saya tahu, dokter Aira membutuhkan minuman yang bisa membuka mata terbuka lebar." Dokter Vandra memulai obrolan. Senyum di wajah tampannya hilang seketika saat melihat pintu ruang Aira yang terbuka. Pria itu semakin kesal saat melihat wanita berwajah kaku itu masuk ke dalam ruangan. Lagi-lagi Melly menatapnya tajam.
"Ada apa?" Tanya Aira saat melihat Melly masuk.
"Diluar dingin dan banyak nyamuk," jawab Melly sambil tersenyum sinis memandang Vandra. Melly membawa minuman coklat hangat dan meletakkan di depan Aira. Wanita itu juga mengambil kopi pemberian Vandra hingga membuat pria itu semakin kesal
"Oh kalau begitu mbak Melly di sini saja. Lumayan aku punya teman ngobrol." Aira menunjuk kursi di depannya dengan menggunakan dagunya.
Vandra hanya diam menahan rasa kesalnya. Namun pria itu mencoba untuk tetap tenang.
"Ada apa dokter Vandra?" Aira bertanya dengan tersenyum ramah seperti biasanya.
Aira memandang jam di pergelangan tangannya. Gadis itu kemudian tersenyum. "Jam praktek dokter sudah selesai ya?"
"Iya, aku berencana untuk pulang." Mana mungkin ia bisa berbicara dengan nyaman jika Melly duduk di sampingnya dengan tatapan yang membuat bulu Roma berdiri. Enak mengapa, tatapan mata gadis itu, terlihat seram dan bukan hanya sekedar cetus dan tidak suka saja. Ia berharap ini untuk yang pertama dan terakhir wanita itu datang ke rumah sakit.
Melly tidak perlu melakukan apa-apa untuk membuat lawannya mati kutu. hanya dengan sorot matanya yang tajam bisa membuat lawannya mundur secara teratur.
"Dokter Aira, saya pulang dulu," ucap Vandra.
__ADS_1
"Ya dokter Vandra silakan, hati-hati di jalan." Aira tersenyum dan melambaikan tangannya.
Pria itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung pergi dan meninggalkan ruangan Aira dengan wajah kesal. Niat untuk mendekati Aira sepertinya belum bisa terwujud saat ini, namun pria itu berencana untuk tetap memberikan perhatian-perhatian kecil untuk menarik hati dokter cantik tersebut.
Aira memandang pintu yang sudah ditutup rapat. Matanya kemudian memandang ke arah Melly yang duduk dengan sikap siap dengan tubuh tegak dan satu tangan berada di atas meja. Dari raut wajah wanita itu, tidak terlihat rasa bersalah sedikitpun. "Mengapa Mbak Melly melakukan hal itu?"
"Hal yang mana?" Wanita berwajah kaku itu bertanya.
"Bersikap seperti itu dengan dokter Vanra. Apalagi kopi yang dibawanya diganti langsung dengan minuman coklat. Itu namanya nggak sopan." Aira menasehati. Walau bagaimanapun, Dokter Vandra rekan kerjanya dan pria itu juga memiliki jabatan yang cukup tinggi di rumah sakit ini. Dan hal ini yang membuat Aira merasa tidak enak hati.
"Tugas saya melindungi dokter Aira. Apapun yang terjadi, semuanya akan menjadi tanggung jawab saya. Dan saya. Tidak menyukai pria itu. Dari sorot matanya, saya tahu dia memiliki tujuan yang tidak baik. Jadi karena itu, dokter Aira tidak boleh minuman kopi ini. Saya tidak ingin hal buruk terjadi, karena itu saya menggantinya dengan minuman coklat." Melly menjelaskan panjang lebar. Insting wanita itu begitu kuat dan biasanya tidak akan meleset.
"Saya sudah cukup lama kenal sama dokter Vandra, saya yakin dia tidak akan berbuat selicik itu."
"6 bulan bukan waktu yang lama dokter Aira." Melly memandang Aira dengan tersenyum tipis. "Sebelum dokter Aira bekerja di rumah sakit ini, sudah ada 5 korban cinta nya. Dan pada umumnya para wanita itu ditinggalkan bila dia sudah merasa mendapatkan semuanya dan bosan. Lagi pula diusianya yang sudah tidak muda lagi, seharusnya dia sudah menikah. Bukan sibuk mencari cinta ke sana ke sini." Wanita itu berkata dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Tapi tolong jangan seperti itu, saya sungguh tidak enak. Jika memang mbak Melly melarang saya minum ataupun makan yang diberikan oleh orang lain. Saya akan melakukannya, tapi tidak perlu harus langsung menggantinya di depan orangnya. Itu namanya nggak sopan." Aira mencoba untuk mengajari tata krama kepada wanita yang ditunjuk untuk menjadi pengawal pribadinya. Jujur saja, ia tidak suka dan juga risih dengan kehadiran Melly yang membuat geraknya seakan terukum.
"Kalau seperti itu baiklah, saya tidak melakukan hal seperti ini lagi. Namun ingat dokter Aira tidak boleh meminum apapun dari orang lain." Melly memberikan peringatan.
***
Pagi ini rumah sakit sudah dihebohkan dengan kedatangan pria tampan. Bukan hanya perawat dan dokter saja yang terpesona dengan wajah tampan milik pria tersebut, namun para tenaga medis lainnya, yang berjumpa dan melihat wajahnya.
__ADS_1
Melihat dirinya menjadi pusat perhatian, pria itu tampak semakin senang dan dengan sangat yakin menunjukkan pesona yang dimilikinya. Ia tersenyum dengan sangat manis dan menjawab semua sapaan dari kaum hawa. Devlan berharap, bisa membalas rasa cemburunya. Ia ingin melihat gadis pujaan hati cemburu.
***