
Aira pusing melihat tingkah Devlan. Pria itu terlalu aktif dan tidak bisa diam.
Padahal sudah diperintahkan untuk duduk, namun di tolak pria tersebut.
"Ini apa namanya?" Devlan memegang bawang merah.
"Bawang merah." Aira menjawab sambil menguap kulit bawang merah di tangannya.
"Oh, bila ada bawang merah pasti ada bawang putih." Devlan melihat Aira yang sudah mengangkat bawang putih. "Oh jadi ini bawang putih."
"Iya," jawab Aira dengan penuh kesabaran. Sejak awal masuk ke dalam dapur, mulut Devlan tidak berhenti berbicara. Ada saja yang ditanya. Seakan tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.
"Mengapa bawang merah dan bawang putih harus berbeda seperti ini?" Devlan kembali bersuara setelah mengamati kedua bawang.
"Iya jelas beda," jawab Aira
"Bawang merah setia, dia hanya punya 1 istri dan memiliki anak 2 paling banyak. Tapi bawang putih, poligami, dia memiliki banyak istri. Aku tidak bisa bayangkan seberapa banyak istrinya." Pria itu menghitung jumlah ulas bawang putih yang sudah tidak dalam keadaan utuh tersebut.
Aira tertawa terbahak-bahak mendengar asumsi yang disampaikan si pria. Selama ini, ia tidak pernah memperhatikan bawang merah dan bawang putih sedetail yang di sampaikan Delvan.
Devlan diam memperhatikan Aira tertawa lepas seperti ini. Gadis itu sungguh sangat cantik dan manis. Langsung pipinya yang terlihat bila sedang tertawa dan tersenyum, sungguh cantik sekali. Ia tidak menduga hanya mempertanyakan bawang merah dan bawang putih saja, sudah membuat Aira tertawa ngakak seperti ini.
"Beby, kamu pilih bawang merah atau bawang putih?"
"Bawang merah untuk kesetiaan dan gambaran keluarga harmonis, tapi dalam cerita dongengnya, bawang putih itu jahat." Aira berkata dengan tersenyum. Dongeng bawang putih dan bawang merah, merupakan cerita favorit nya ketika masih kecil. Meskipun mamanya sudah menceritakan puluhan kali, tetap saja di minta untuk cerita lagi.
"Pasti itu cerita versi bawang putih tidak versi bawang merah."
Aira kembali tertawa. Ternyata kehadiran Devlan di dapurnya membuat suasana semakin ramai. "Bisa jadi, aku rasa juga seperti itu mas. Gak mungkin bawang putih baik sedangkan dia punya banyak istri."
__ADS_1
"Satu hal yang harus kamu ketahui Beby, aku tidak sama seperti bawang putih. Jadi jangan pernah ragu terhadap ku." Devlan mengulum senyumnya.
Aira diam memandang Devlan dengan kening yang berkerut. Gadis itu kemudian tertawa. Untung saja ia sudah mengetahui sifat si lelaki yang suka gombal dan diprediksi playboy. Hingga tidak perlu baper saat mendengar gombal renyah Devlan.
Devlan hanya diam memandang Aira tertawa. Apa yang dikatakannya, sudah pasti tidak akan di percaya dokter cantik tersebut. "Beby, kamu sedang masak apa?" Devlan mengintip ke dalam kuali.
"Telur mata sapi."
"Bukannya itu telur ayam?"
"Iya," jawab Aira.
"Gak terbayang oleh ku, bagaimana susahnya ayam mengeluarkan telur, tapi sapi yang dapat nama. Apa itu ayam gak ada yang mau demo?" Devlan berbicara sambil berpikir.
Aira hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Untuk ku, kuningnya jangan terlalu Mateng."
Pria itu tersenyum dan menurut. Devlan duduk di kursi makan dengan wajah tersenyum.
Aira meletakkan nasi goreng yang sudah dimasaknya di atas meja. Secangkir kopi dan minuman coklat.
"Baby kenapa tidak menyuapiku?" Devlan memandang Aira.
"Kamu sangat kuat mas, kenapa harus disuapin," sindirnya.
"Tanganku sakit baby, lihatlah." Devlan meringis ketika mengangkat tangannya.
"Tadi mas sendiri yang bilang, jangankan untuk berjalan, gendong aku saja mas sanggup. Tapi kenapa hanya untuk makan saja tidak nggak sanggup?"
__ADS_1
"Beda kasus baby."
Aira hanya diam dan mengambil nasi goreng milik Devlan. Gadis itu malas berdebat.
Devlan sangat senang karena pagi ini ia makan dengan gadis yang begitu sangat cantik, baik serta perhatian. Ia tidak pernah mengerti mengapa sifatnya bisa kekanak-kanakan bila berdekatan dengan Aira.
***
Leo berjalan dengan penuh rasa percaya diri. Sudah bisa di pastikan, penampilannya pagi ini sangat tampan dan gagah. Semua karyawan yang bertemu dengannya selalu menyapa dan memberikan hormat. Mereka tahu bahwa Leo orang kedua di perusahaan mereka. Seperti apa kekuatan pria tersebut, semua orang mengetahuinya. Kekuasaan yang dimiliki, sangat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ia akan memberhentikan setiap karyawan yang tidak tunduk kepadanya dengan alasan pekerjaan mereka yang tidak becus.
"Selamat pagi pak Leo?" Sapa seorang pria yang merupakan petinggi Delvan perusahaan yang dipimpin delvan. Mata pria itu memandang ke arah pintu masuk dan berpikir kalau Devlan akan datang lebih lambat.
"Iya pagi." Leo sedikit menganggukkan kepalanya dan menyapa pemilik saham lainnya.
"Apa pak Devlan tidak datang?" tanya salah seorang pemilik saham. Pria berusia 40 tahun itu mengurutkan keningnya ketika melihat Leo yang akan duduk di kursi kepemimpinan Devlan.
"Tidak sampai saat ini saya belum bisa mengetahui di mana keberadaan beliau. Namun kemarin beliau sempat berpesan bahwa dia ada keperluan dan meminta saya untuk memimpin rapat selama tidak ada dirinya di sini," jelas Leo.
"Semalam pagi, pak Devlan menghubungi saya, beliau mengingatkan rapat pagi ini. Pak Devlan mengatakan bahwa saya wajib datang. Beliau juga mengatakan akan memimpin rapat untuk pagi ini. Karena ada hal penting yang harus kita bahas." Haryono yang merupakan salah satu pemegang saham berkata. Entah mengapa, pria itu merasa ada sesuatu hal yang janggal.
"Saya juga tidak mengerti, mengapa pak Devlan tidak bisa dihubungi. Namun karena beliau sudah meninggalkan amanat kepada saya, maka saya memimpin rapat. Apapun permasalahan yang nanti kita bahas, akan saya sampaikan kepada pak Devlan." Leo berkata dengan lugas.
Semua yang ada di dalam ruangan diam dan memandang dengan penuh tanya. Bahkan beberapa orang yang hadir, mencoba menghubungi nomor ponsel milik Devlan. Mereka ingin memastikan, apakah yang disampaikan Leo benar. Walau bagaimanapun, pria itu hanya karyawan yang diberi kepercayaan.
Leo memandang wajah-wajah yang ada di dalam ruangan. Ia tahu bahwa orang-orang yang ada di sini tidak menyukainya. Namun hal itu tidak akan dipermasalahkannya. Jika dirinya menjadi pemimpin di perusahaan ini, sudah pasti mereka akan tunduk kepadanya. "Bagaimana, apa sudah bisa kita mulai?" tanyanya dengan wajah tersenyum.
Ada rasa kesal di hatinya, saat bertanya, namun tidak ada yang menjawab. "Baiklah, kita akan mulai rapat pagi ini, yang mana rapat akan saya pimpin secara langsung."
Mendengar perkataan Leo, sudah tidak ada lagi yang berkomentar. Kini mereka mulai fokus dengan pembahasan rapat.
__ADS_1
***