
"Apa mau makan bersama saya?" Dokter Vandra tersenyum. Ia berharap Aira tidak menolak ajakannya.
"Terima kasih dokter Vandra, tapi saya sudah makan. 10 menit lagi jam kerja saya di mulai." Aira tersenyum dan menolak secara halus. Siapa yang tidak mengenal dokter Vandra. Dokter spesialis bedah yang masih muda dengan wajah tampan. Namun sayang, hal itu tidak mampu menarik perhatian si cantik Aira.
"Apa hari ini kamu dinas malam, cantik?" Dokter Vandra bertanya sambil mengedipkan matanya. Meskipun sudah tahu jadwal praktek Aira, namun ia tetap berpura-pura bertanya. Ketampanan wajah yang di milikinya, membuat para gadis begitu mudah untuk bisa didapatkan. Di rumah sakit ini, sudah ada 5 korban cintanya. 3 orang perawat, satu orang rekam medis dan 1 orang dokter. Kelima mantan kekasihnya itu, ditinggalkan begitu saja ketika ia sudah puas. Namun untuk mendapatkan dokter Aira, ia sudah berjuang 4 bulan terakhir ini, namun tetap saja, hasilnya nihil. Gadis itu begitu sangat sulit untuk bisa di dapatkan.
"Iya dok," jawab Aira singkat dengan senyum yang masih tercetak manis di bibir kecilnya.
"Sayang sekali, padahal saya berharap kamu mau makan bersama dengan saya. Namun tawaran ini tanpa limit. Kapanpun dokter Aira bersedia, saya akan selalu ada waktu." Dokter Vandra mengulum senyumnya.
"Aku akan memberi tahu bila aku bisa.
Dokter pria itu memandang ke arah wanita yang saat ini berjalan di belakang Aira. Dengan mengerutkan keningnya. "Apa dia kakakmu?" tanyanya.
Agar tidak banyak pertanyaan yang timbul, Aira menganggukkan kepalanya.
"Kamu mengatakan kepadaku, kalau kamu tidak memiliki saudara." Vandra bukan orang bodoh yang begitu mudah untuk di bohongi.
"Ini kakak sepupuku, namanya Melly," jelas Aira. Gadis itu tertawa canggung untuk menutupi kebohongannya. Entah mengapa Devlan memberinya seorang baby sister seperti ini. Mengingat apa yang dilakukan pria itu, sungguh membuat Aira kesal.
Dokter Vandra tersenyum ramah dan sedikit menganggukkan kepalanya ketika memandang Melly. Namun sapaan yang di berikannya tidak mendapat respon yang baik. Bahkan wanita cantik dengan postur tubuh yang tinggi langsing itu, memberikan tatapan sinis dengan raut wajah yang dingin.
__ADS_1
"Apa dokter Vendra sudah mau pulang tanya Aira sambil terus melangkahkan kaki menuju ke ruangan prakteknya.
Berulang kali dokter Vandra menghindari kontak mata dengan Melly. Jujur saja, nyalinya langsung menciut saat melihat cara wanita itu memandangnya. Melihat sorot mata wanita itu, membuat bulu kuduknya merinding. Dari tatapan matanya, terlihat bahwa wanita berwajah dingin itu, memberikan isyarat agar tidak mendekati Aira.
"Waktu praktek masih ada 2 jam lagi dan saya berencana untuk makan." Setelah mendengar pertanyaan Aira, barulah ia teringat akan tujuannya meninggalkan ruang prakteknya. Kecantikan Aira dan penampilan yang berbeda di malam ini, sungguh menghipnotisnya.
"Oh maaf aku tidak bisa menemani, aku ingin langsung ke ruanganku ya." dokter Aira tersenyum dan kemudian melambaikan tangannya.
Dokter vendra tersenyum ketika memandang Aira. Gadis itu begitu sangat cantik dan juga cerdas. Hal ini yang membuat dirinya sangat tertarik dengan Aira. Namun entah mengapa, dokter muda itu begitu sangat sulit untuk didekati. Ramah namun memiliki dinding penghalang yang membuat orang tidak mudah untuk mendapatkannya. Dan hal ini yang membuat dokter Vandra penasaran ia ingin tahu bagaimana caranya untuk merobohkan dinding pertahanan tersebut.
Dokter Vandra membalas lambaian tangan Aira dengan tersenyum. Dipandanginya punggung gadis yang semakin menjauh pandangannya. "Aku berharap wanita itu tidak ikut setiap kali aura praktek," batinnya.
Aira menarik napas panjang yang menjadi pertanda kelengahan dihatinya. Meskipun dokter Vandra menjadi idola kaum hawa di rumah sakit ini, namun tidak membuatnya tertarik ke pada pria tersebut. Apa lagi gosip-gosip miring tentang si dokter yang sering terdengar dari para perawat yang bergosip, membuatnya semakin ilfil.
"Baik nona." Melly masih berdiri di depan pintu. Wanita itu kemudian duduk di kursi yang ada di depan ruangan Aira, saat sang dokter sudah masuk kedalam ruangan dan menutup pintu.
Aira duduk di kursinya dan memijit pelipis keningnya. Kepalanya pusing dengan tingkah Devlan dan juga pusing dengan Vandra yang tidak pernah lelah mengejarnya.
"Ya ampun aku lupa, tadi di kasih duit banyak juga black card." Aira tertawa kecil dan melupakan kekesalannya.
Dengan cepat Ia mengeluarkan kartu di dalam tasnya. "Aku mau beli tas bermerek seperti yang di pakai dokter Dewi. Katanya harga 32 juta. Terus beli cincin berlian, perhiasan, sepatu branded. Ya ampun, membayangkan saja sudah buat senang." Aira meletakkan kartu kecil itu di dadanya.
__ADS_1
Aira kemudian tersenyum kecil saat merasakan jiwa miskinnya yang meronta-ronta. Meskipun ia sudah menjadi dokter, namun gajinya belum besar karena baru bekerja 6 bulan. Ia juga belum memiliki banyak pasien.
"Ih Aira, jaga image dong." Gadis itu mengingatkan diri sendiri.
"Aku akan memakainya bila nanti di paska." Biar gak keliatan matre nya, Ha... Ha..,"
Setelah puas memandang kartu berwarna hitam, Aira mengeluarkan uang di dalam tas. Dihitungnya jumlah uang tersebut. "Ya ampun, dia kasih uang segini banyak untuk apa?" Aira menggeleng-gelengkan kepala. Sampai saat ini, hubungannya dengan Devlan, masih sebatas dokter dan pasien. Belum ada hubungan spesial di antara mereka. Namun mengapa pria itu memberikan uang yang banyak dan kartu bebas limited seperti ini.
"Duh kenapa aku jadi matre gini. Tapi aku gak minta, dia juga yang memaksa aku. Jadi ini gak matre namanya." Aira tertawa kecil. Bersyukur Melly mau di minta duduk di luar, hingga ia bebas bermain dengan pikirannya.
***
Devlan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pria itu tersenyum sendiri saat melihat wajah Aira di langit-langit kamarnya yang berwarna putih. "Ya ampun, mengapa wajahnya ada di mana aja. Apa ini yang dikatakan, mabuk cinta. Tapi dia sungguh sangat cantik dan aku sangat merindukannya. Devlan senyum-senyum sendiri.
Baru saja berpisah beberapa jam yang lalu, sekarang ia sudah merasakan rindu yang bergelora. "Ah, mengapa aku bisa seperti ini. Aku ingin selalu berada di dekatnya." Devlan mengambil ponselnya dan menghubungi no ponsel Aira lewat panggilan video call.
"Halo mas," sapa Aira.
"Halo baby, kamu lagi apa?" Devlan tersenyum dan memandang wajah cantik Aira di layar ponselnya.
"Lagi duduk aja, rencananya mau tidur kalau gak ada pasien gawat darurat." Aira tersenyum kecil memperlihatkan lesum pipinya. Tatapan matanya beralih ke arah pintu yang terbuka dan melihat Vandra muncul di balik pintu.
__ADS_1
***