Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 44


__ADS_3

Pram memandang ke arah Burhan dengan sedikit tersenyum. Sejak kematian Abang ipar dan kakak angkatnya, hubungannya dengan Burhan tidak begitu baik. Saudara dari Abang iparnya, tampak tidak suka kepadanya. Tatapan matanya kemudian beralih ke arah gadis cantik yang sekarang duduk di sofa. "Hai cantik." Pram beranjak dari duduknya dan kini berpindah posisi duduk di sofa single yang berada di depan Aira.


"Hai juga paman," jawab Aira dengan tersenyum.


"Apa kamu lelah?" tanya Pram dengan sangat ramah.


Aira sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya


"Aku mendengar katanya tadi di bawah ada keributan, apakah benar?"


"Iya paman," jawab Aira yang sudah manyun.


"Keponakanku sangat tampan jadi wajar jika dia banyak di inginkan oleh para wanita. Namun yakinlah meskipun dia pencinta wanita tapi dia bukan buaya." Pram mengulas senyum.


Burhan sangat kesal dan marah saat mendengar Pram mengatakan keponakan ku, seakan Pram tidak tahu di mana posisinya berada. Di dunia ini, hanya dirinyalah paman Devlan satu-satunya.


Aira tidak menjawab apa-apa. Gadis itu hanya menanggapi dengan sedikit tertawa.


"Pergilah ke kamar dan istirahat. Aku tahu kamu pasti sangat lelah. Aku akan meminta Melly untuk menjagamu." Pram tersenyum.


Aira tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan patuh. Jujur saja ia tidak ingin ikut campur dengan permasalahan Devlan bersama dengan keluarganya.


Pram beranjak dari duduknya dan meminta Melly untuk menemani Aira di kamar.


Sejak tadi Burhan selalu memperhatikan Aira. Tanpa bertanya siapa gadis itu, dia sudah tahu karena memang Burhan sudah mengantongi informasi tentang dokter cantik tersebut. Gadis cantik, muda, pintar dan seorang dokter. Pria itu juga tahu bahwa gadis itulah yang menyelamatkan nyawa Devlan dan menyembunyikannya. "Kau lebih cantik aslinya dari pada fotonya." Pria itu memandang dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan.


Melly masuk ke dalam ruang. Tatapan mata bodyguard cantik itu, mengarah ke arah Burhan.


Menyadari Melly menatap tajam ke arahnya, Burhan memalingkan wajahnya dan memandang ke lain arah. Ia sangat tahu betapa bahayanya gadis bertubuh tinggi dan langsing tersebut.


Setelah kedua gadis itu masuk ke dalam kamar Pram kembali duduk di samping Burhan.


"Sejak kapan kau datang ke Indonesia?" tanya Burhan. Berdasarkan informasi yang didapatnya, pria berambut gondrong itu sedang berada di Hongkong dan karena itu Burhan menyusun rencana untuk segera melenyapkan Devlan.


"Belum lama." Pram menyeruput kopi hitam miliknya yang baru saja diantar oleh sekretaris Devlan.

__ADS_1


"Apa kau kembali lagi ke perusahaan?" Burhan memandang Pram.


Pram meletakkan cangkir di tangannya dan kemudian menganggukkan kepalanya. " Apa kau keberatan?"


Burhan diam menahan rasa marahnya. Bila Pram berada di Indonesia, itu artinya ia akan sulit untuk melancarkan rencananya.


"Jam 1 kita akan ada pertemuan Client yang dari Jerman." Pram memberi tahu Devlan. Pria itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Iya paman," jawab Devlan.


"Aku akan kembali ke ruangan ku." Sebenarnya ada yang ingin disampaikannya kepada sang keponakan. Namun karena ada Burhan di dalam ruangan Devlan, ia membatalkan niatnya.


"Baiklah, aku ada janji dengan Client, aku pamit dulu. Aku harap kamu ingat dan sadar kalau aku adalah Paman mu, satu-satunya." Burhan menunjukkan raut wajah kecewanya. Jika dulu Devlan dengan mudah di kendalikan Pram, menurutnya wajar karena usia keponakan yang masih muda dan labil. Namun sekarang Devlan sudah dewasa, dan harus bisa mempengaruhi pikirannya.


Devlan menarik napas pelan dan kemudian menganggukkan kepalanya. Bagaimana mungkin ia bisa percaya dengan adik dari papinya itu, sedang kedua orang tuanya saja tidak pernah percaya kepadanya.


Pram berjalan menuju ke ruangannya. Langkah kakinya terhenti ketika mendengar Burhan memanggilnya.


"Mengapa kau tidak memberitahu ku tentang Devlan." Burhan menyerang Pram. Sebagai seorang Paman kandung yang diabaikan seperti ini, membuat dirinya malu dan benar-benar marah.


Jawaban Pram membuat Burhan meradang. Pria itu benar-benar pandai memancing emosinya.


"Aku harus memberitahu apa? Bukankah kau Paman kandungnya. Aku rasa kau pasti tahu apa yang terjadi dengan Devlan tanpa harus aku memberitahu. Apalagi aku tidak sedang di Indonesia." Lagi-lagi Pram berkata dengan nada mengejek.


"Kau benar-benar sangat pintar mencuci otak keponakan ku," tuduh Burhan.


Pram memandang Burhan dengan mengerutkan keningnya. "Sepertinya kau sangat tahu tentang aku Han."


Burhan benar-benar merasa dipermalukan oleh keponakannya sendiri dan juga orang yang tidak memiliki hubungan apa-apa namun sok berkuasa.


"Apa kau kembali lagi ke sini tanya Burhan." Pria itu memang begitu sangat tidak menyukai Pram namun untuk melenyapkan Pram bukan perkara yang mudah baginya. Mengingat lawannya bukan orang biasa.


"Setelah apa yang terjadi dengan Devlan aku memutuskan untuk kembali. Apa kau lupa aku memegang amanat dari kakak dan abangku yang mengatakan aku harus bisa menjaga dan melindungi Devlan." Lagi-lagi Pram tersenyum sinis.


Burhan tahu, bahwa Pram hanya sekedar memancing saja. Apa yang telah dilakukannya, tidak akan ada satupun yang mengetahuinya. Bahkan peristiwa yang terjadi 24 tahun silam.

__ADS_1


Pram begitu sangat menyayangi Devlan. Bahkan pria itu rela kehilangan masa mudanya hanya untuk menjaga sang keponakan. Di saat usianya 20 tahun ia harus menjaga, merawat, mendidik dan mengajarkan sang ponakan bila ada pr disekolah. Setelah kematian kakak angkat dan Abang iparnya, Pram menjadi paman sekaligus orang tua pengantin untuk Devlan. Selain sibuk mengurus keponakan yang waktu itu masih berusia 12 tahun, Pram juga harus mengelola perusahaan, dan menyelesaikan kuliahnya. Pria itu tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang seperti anak muda lainnya. Bahkan ia tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar berpacaran. Demi untuk menemukan pembunuh kedua orang tua Devlan juga, Pram masuk ke dunia hitam. Secara diam-diam, ia menjadi seorang mafia agar mempermudah menemukan si pelaku pembunuhan sang kakak. Dengan tangannya sendiri, ia berhasil membunuh para penjahat tersebut. meskipun ada keyakinan di hatinya, bahwa orang-orang itu, adalah orang suruhan.


Burhan yang begitu sangat kesal akhirnya memilih untuk pergi.


***


Leo tidak ada henti-hentinya mengusap punggung istrinya yang tidak berhenti menangis. Ia sangat tahu seperti apa perasaan istrinya saat ini.


"Jika nanti kamu bertemu dengan pria baik yang mau menerima kamu dan anak kita aku rela bila kamu menikah dengannya karena jujur saja aku di sini mungkin bisa berkata dengan serius. Pria itu ikhlas melepaskan istrinya demi mendapatkan hidup yang lebih baik.


Ayo menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya. Aku rela nggak nikah seumur hidup aku mas. Aku rela menjadi ibu dan ayah untuk anak kita. Aku gak akan pernah menikah dengan siapapun. Aku akan selalu datang ke sini bersama anak kita untuk mengunjunginya kamu."


Leo tidak mampu menahan tangisnya ketika mendengar ucapan istrinya. "Setelah pulang dari sini, kamu tidak boleh kembali ke rumah itu lagi. Kamu harus pergi ke tempat yang jauh yang tidak bisa di temukan orang lain."


"Mengapa begitu, bukankah orang-orang itu anak buah kamu?


Mereka juga sangat baik dan sopan sama aku." Ayu tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.


Leo diam dan mengusap kepala istrinya. Untuk berkata yang sejujurnya, sudah pasti ia tidak bisa. "Tolong dengarkan aku sayang, tolong ikuti apa yang mas katakan. Demi keselamatan kamu dan anak kita. Maaf, mas sudah tidak bisa melindungi kalian." Leo meneteskan air matanya.


Ayu masih tidak mengerti dengan maksud suaminya.


"Kamu sudah bawa semua barang-barang kamu?" Tanya Leo.


Ayu menganggukkan kepalanya. "Tadi aku sudah naik taksi dan meninggalkan barang-barang di sana namun aku balik lagi untuk ngambil semua barang-barang aku. Karena aku berencana habis dari sini mau langsung ke rumah orang tua aku." Ayu menjelaskan niatnya. Dalam kondisi seperti ini, hanya keluarganya yang bisa di jadikan tempat untuk bersandar.


"Kamu langsung pergi ya, jangan sampai mereka menemukan kamu. Mas titip anak kita. Jangan pergi ke tempat yang sekiranya bisa ditemukan oleh mereka. Apalagi rumah orang tua kamu." Leo berbisik di telinga istrinya.


"Mereka siap mas?"


Leo menggelengkan kepalanya. " Kamu tidak perlu tahu, jangan percaya kepada siapapun." Ditatapnya Ayu dengan penuh rasa cemas.


Leo mencium kening, pipi kiri kanan, bibir dan kemudian perut istrinya. Jangan ditanya seperti apa rasa penyesalan yang menyesakkan dadanya. Karena terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Burhan, apa lagi pria itu paman kandung Devlan yang pasti sangat berkuasa. Ia akhirnya memutuskan untuk mengkhianati Devlan. Sekarang ia hanya bisa menikmati kehancuran dari perbuatannya.


***

__ADS_1


__ADS_2