Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 24


__ADS_3

Pram duduk di kursi kemudi dan memandang Devlan yang datang setelah mengambil barang-barang pribadinya. Dilihatnya Devlan membuka pintu mobil dan merebahkan kursi di belakang kursi kemudi supir. Senyum mengembang di bibirnya, setelah tahu apa yang akan dilakukan oleh keponakannya tersebut.


Devlan tersenyum dan meletakkan bantal di bagian kepala kursi yang sudah rebah. Setelah yakin posisi sudah nyaman, ia kemudian lari ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar. Senyum mengembang di bibirnya ketika menatap wajah cantik sang gadis yang sedang tertidur lelap.


"Aku berharap setelah nanti bangun, kamu tidak mengamuk." Pria itu tersenyum tipis dan merapikan rambut yang berserak menutupi bagian wajah Aira. Ditatapnya bibir yang tadi sempat diciumnya. Walaupun hanya sekilas, namun rasa lembut dan manis, masih menempel di bibirnya.


"Minta 1 kali lagi ya Baby." Devlan kembali mencium bibir Aira dengan sangat lembut tanpa mengganggu tidur si gadis. Ia benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk menikmati bibir yang membuatnya candu.


Dengan sangat berhati-hati digendongnya tubuh langsing milik dokter cantik tersebut. Meskipun bagian perutnya terasa sakit dan nyeri. Bagian lengan dan punggung teras sakit hingga berdenyut-denyut, namun tidak membuat pria itu meringis. Hanya senyum yang melengkung di bibirnya saat menatap wajah Aira.


Dengan sangat hati-hati Devan meletakkan tubuh Aira di atas kursi yang sudah rebah. Agar gadis itu tidur dengan nyaman, ia menyelimuti tubuh Aira.


"Tunggu sebentar paman aku kunci pintu," ucapnya yang tidak ingin meninggalkan rumah Aira dalam posisi yang tidak aman.


Pram menganggukkan kepalanya. Bagaikan seorang sopir pribadi, Ia begitu sangat sabar menunggu keponakannya.


Devlan memasukkan ponsel milik Aira kedalam saku celananya. Dimatikan lampu bagian dalam dan hanya menyalakan lampu bagian depan saja. Jika ada yang melihat rumah Aira, maka orang tahu bahwa kondisi rumah dalam keadaan kosong. Setelah meyakinkan semua pintu dalam kondisi aman dan sudah menguncinya. Barulah ia melangkahkan kaki menuju ke mobil yang terparkir. Meskipun rumah ini sangat sederhana, namun dia tahu rumah ini begitu sangat berharga untuk Aira. Ia tidak ingin membuat gadis itu merasa tidak tenang karena meninggalkan rumah dalam keadaan yang tidak aman. Bersyukur siang ini kondisi di luar rumah sepi. Sehingga tidak ada yang melihatnya mengendong Aira dan memasukkan ke dalam mobil.


Setelah yakin kondisi semua sudah aman, Devlan langsung berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi yang berada di samping Aira.


"Aku bukan sopirmu." Pram kesal melihat kelakuan keponakannya yang seperti anak remaja berumur 15 tahun.


"Tapi kasihan Aira sendiri di belakang paman." Devlan sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Pindah ke depan kamu." Pram memberikan perintah.


Dengan berat hati, ia akhirnya menurut dan duduk di sebelah Pram.


"Setelah nanti Aira bangun, aku ingin menemui Leo paman." Devlan akan membalas apa yang telah dilakukan penghianat tersebut kepadanya.


Pram menganggukkan kepalanya. Kita akan selesaikan nanti. Aku ingin memastikan bahwa dia benar-benar menyesal karena sudah bermain-main dengan ku." Senyum yang tercetak di bibirnya, begitu sangat mengerikan. Ia sudah seperti zombie yang haus darah.


Melihat mimik wajah pamannya. Devlan tahu, apa yang akan terjadi. Betapa mengerikan bila berhadapan dengan Pram Alio. Pria itu tidak akan pernah melepaskan musuhnya dan dia baru menyerahkan orang itu ke tangan pihak kepolisian setelah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh musuhnya.


***


Aira terbangun setelah merasakan tidur yang sangat lama. Gadis itu membuka matanya secara berlahan-lahan. Wajahnya memucat saat menyadari bahwa saat ini ia berada di tempat yang asing.


"Apa aku sedang bermimpi." Gadis itu membuka matanya dan kemudian mengucek-ngucek mata untuk meyakinkan apa yang saat ini sedang dilihatnya.


"Aku ini di mana, bukankah aku tadi sedang tidur di kamarku, tapi mengapa aku sudah berada di sini." Ada apa ini. Ia panik ketika menyadari ada seseorang yang telah menculiknya.


Rasa takut dan rasa gugup kini mulai menyusup ke dalam dadanya. Devlan, pria yang telah diselamatkannya, dengan tega menculiknya. Aira menangis merasakan sakit di dadanya. Saat ini, tuduhannya hanya ada pada pria tersebut. Dengan cepat gadis itu mengusap air matanya ketika melihat pintu kamar yang terbuka.


"Selamat sore nona, tidur anda sangat enak sekali dan anda sudah tertidur selama 2 jam." Wanita cantik itu menyapa dengan sangat ramah.


"Aku di mana." Aira langsung memberikan pertanyaan kepada wanita yang berusia sekitar 25 tahun yang saat ini memakai pakaian seragam pelayan.

__ADS_1


"Saat ini anda ada di kediaman tuan Devlan," jelas wanita berwajah cantik tersebut.


"Apa maksudnya ini?" Aira masih tidak bisa menerima apa yang telah dilakukan oleh pria yang sudah ditolongnya tersebut. Apa seperti ini cara pria itu membalas jasanya. Matanya memandang setiap sudut kamar yang ditempatinya. Kamar yang begitu sangat luas dan mewah. Kamar yang bernuansa putih sehingga memberikan kesan bersih dan nyaman.


"Dimana dia?" Aira menatap pelayanan tersebut.


"Apa yang nona cari tuan Devlan?" Wanita itu tersenyum. Meskipun tahu bahwa gadis yang saat ini dilayaninya dalam keadaan marah dan panik, namun ekspresi wajah yang di perlihatkan pelayan wanita itu tampak sangat tenang. Hal ini sungguh membuat Aira kesal.


"Iya, aku mencarinya." Aira berkata dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Hatinya sangat sakit ketika Devlan membalas kebaikannya dengan cara kotor seperti ini. Sampai kapanpun, tidak akan memaafkan pria tersebut, tekatnya dalam hati.


"Sebaiknya nona Aira tenang dulu. Saya sudah menyiapkan pakaian, kemudian perlengkapan mandi sudah ada di dalam kamar mandi. Perkenalkan saya Elly, pelayan yang akan bertanggung jawab untuk semua kebutuhan nona. Jadi jangan pernah ragu untuk memanggil saya jika nona butuh." Wanita yang bernama Elly itu berkata dengan sangat sopan dan lembut.


Aira menangis dan tidak bisa menerima ini semua. Jika bertemu dengan Devlan, ia ingin marah dan meluapkan rasa emosi yang menyesatkan dadanya.


"Nona, apa anda sudah tenang." Melly tersenyum dan memandang Aira.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, dia telah menculikku. Aku ingin bertemu dengan tuan mu, panggil dia." Gadis itu frustasi dan mengeraskan suaranya.


"Baiklah nona, jika anda ingin bertemu dengan tuan Devlan, saya akan memanggilnya." Melly sudah tidak bisa meredam kemarahan nona mudanya dan berencana memanggil Devlan.


Mata Aira memandang pintu kamar yang terbuka dan melihat Devlan yang muncul di ambang pintu.


Devlan tersenyum dengan wajah tanpa dosa saat memandang gadis pujaan hatinya yang sudah bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Aira sangat marah hingga dadanya turun naik melihat Devlan. Gadis itu sudah bersiap-siap mengeluarkan semburan api dari dalam mulutnya.


***


__ADS_2