Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 9


__ADS_3

Aira tersenyum memandang pria yang saat ini bertanya kepadanya. "Silakan mas, tapi jangan lama-lama, kasihan teman mas, yang bisa kehabisan banyak darah," ucapnya mengingatkan.


Pria itu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruang tamu. Matanya terus saja memandang ke setiap sudut dan setiap bagian rumah. Namun sampai saat ini, tidak melihat kejanggalan yang ada di rumah ini. Pria


Itu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai memeriksa, apakah ada barang-barang mencurigakan yang merupakan barang milik Devlan yang sedang dicarinya. Lagi-lagi ia harus menghembuskan napas kecewa karena tidak menemukan apa-apa. Setelah memeriksa secara diam-diam, pria itu kembali ke ruang tamu.


Meskipun wajahnya terlihat santai, namun matanya tidak ada henti-hentinya memperhatikan gelagat dari kedua pria yang mengintai rumahnya sejak sore tadi.


"Kalau begitu kami permisi ya Bu dokter, terima kasih," pamit kedua pria itu dengan sopan. Matanya memandang ke arah pintu kamar terbuka. Kondisi kedua kamar sangat bersih dan rapi. tidak ada seorangpun di dalam kamar. Sebenarnya mereka hanya ingin menemui dokter itu secara langsung, namun ternyata ada warga yang melihat mereka datang dengan temannya yang terluka parah, sehingga warga itu membantunya untuk langsung mengantarkan ke rumah dokter.


Jika bos mereka tidak membuat luka temannya separah ini, mungkin kondisinya berbeda. Mereka bisa berada di rumah sang dokter lebih lama dan bisa meminta untuk rawat inap di rumah dokter cantik tersebut. Namun apa hendak di kata, kedua pria itu, tidak mungkin menyalakan bos mereka.


"Aira mengantar pasiennya hingga ke depan teras. Setelah mereka pergi, gadis itu kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci rapat pintu rumahnya.


"Apa sudah pergi?" Devlan bertanya ketika sudah keluar dari dalam lemari.


"Sudah," jawab Aira yang tersenyum tipis memandang keringat yang membasahi pelipis kening si pria.


"Apa mereka curiga bahwa mas berada di sini bebby?" Devlan tersenyum menggoda gadis tersebut.


Aira memandang Devlan dengan kesal. Melihat cara pria itu memandang dan cara pria itu berbicara, tampak jelas bahwa Devlan seorang playboy. Apa lagi ketika mengingat ciuman pertama yang mendarat di bibirnya. Rona merah menjalar di wajah cantik si gadis. Ada rasa malu dan kesal ketika melihat pria tampan tersebut. Bila wanita lain mungkin bisa secepat kilat menyukai Devlan, namun tidak untuk Aira.


"Kenapa diam saja bebby, apa mereka tidak percaya?"


Aira kembali tersadarkan setelah mendengar suara Devlan yang kembali bertanya. "Entahlah tapi mereka tadi sudah melihat sendiri dan sudah memeriksa hingga ke kamar mandi. Aku yakin mereka percaya kalau hanya aku yang menjadi penghuni di rumah ini."

__ADS_1


Devlan penarik nafas panjang dan kemudian menghempaskan secara perlahan-lahan. Ada rasa lega di rongga dadanya ketika mendengar apa yang dikatakan Aira.


"Ayo kembali ke kamar mas,. Agar aku bisa memasangkan infus." Aira memerintahkan pria itu untuk kembali ke kamarnya.


"Tempat tidurmu sangat besar, apa kamu tidak ingin berbagi tempat tidur denganku!" tanya Devlan. Pria itu sedikit meringis ketika gadis tersebut mencubit pinggangnya.


"Kalau nggak mau tidur di kamar tamu, tidur di luar rumah," ancam si gadis.


"Di luar banyak nyamuk, nanti mas habis digigit, bebby." Devlan tersenyum dan terus saja menggoda Aira.


"Kalau nggak mau digigit nyamuk, ya gigit balik nyamuknya. Mas Bimo jangan macam-macam ya, ingat aku dokter." Gadis itu tersenyum licik.


Mendengar ucapan si gadis, pria itu menjadi lemas. Bagaimana bila dokter muda itu membuatnya tidur setiap waktu. Itu artinya, ia tidak akan memiliki banyak waktu untuk mengenal si gadis. Yang ada dibenak pikirannya saat ini, hanya ingin mengenal super Hero nya lebih jauh.


Devlan tertawa kering mendengar ancaman si gadis. "Terima kasih kamu sudah mau membantuku dan menyelamatkan aku seperti ini." Pria itu berkata dengan penuh ketulusan.


Devlan tersenyum dan pasrah saat di bawa ke kamar tamu.


"Tubuhku terasa gerah, lengket dan juga bau, apa mas boleh mandi bebby?"


"Belum boleh mandi, mas." Aira membantu Devlan untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Tapi tubuh ku sangat tidak enak. Aku bisa tidak tidur semalaman bila badan ku seperti ini bebby." Devlan berkata dengan raut wajah serius.


Aira merasa geli, ketika mendengar Devlan memanggilnya Bebby seperti ini.

__ADS_1


"Panggil namaku saja."


Devlan hanya tersenyum tanpa mengiyakan kata si gadis. "Aku sungguh tidak nyaman." Diciumnya bau tubuhnya sendiri. Aroma parfum yang melekat di tubuhnya, tidak akan menjadi bau meskipun tidak mandi selama 3 hari. Namun tetap saja ia tidak betah dan gerah dengan tubuh yang terasa lengket seperti ini.


"Baiklah aku akan membersihkan tubuhmu." Gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kamar.


Devan hanya diam memandang Aira yang pergi meninggalkannya. Dilihatnya gadis itu kembali dengan membawa wadah berisi air.


Aira tidak berkata apa-apa. Dibukanya baju yang melekat di tubuh Devlan. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat daster tersebut. Lucu sekali, melihat pria tampan dengan tubuh tinggi dan tegap memakai daster seperti ini.


"Beby, ini juga." Devlan menunjuk celana berbentuk segitiga yang berwarna pink.


"Itu nggak usah," jawab Aira.


"Beby kenapa kamu pilih kasih, yang lain dibersihkan yang ini kenapa tidak mau?" tanyanya tanpa ragu.


Aira memandang wajah pria tampan tersebut.


"Aku tidak nyaman bila ininya tidak bersih." Devlan menunjuk kembali apa yang dimaksudnya.


"Aku berharap hanya satu orang dapat pasien sepertimu," batin si gadis. Memilih diam lebih baik, pikir Aira. Ia hanya fokus membersihkan tubuh si pria.


"Bagaimana mungkin belalaiku tidak berdiri bila melihat wanita cantik yang menyentuh tubuhku seperti ini. Devlan semakin pusing dan frekuensi menghadapi belalainya yang semakin mengeras dan membuat celananya sesak.


"Bila kamu tidak mau, aku akan bersihkan ke kamar mandi, tapi tolong di buka ini. Ini sungguh membuat belalai ku tidak nyaman, beby." Devlan ikut mengatakan benda pusaka nya belalai seperti yang di katakan Aira.

__ADS_1


Matanya melirik ke arah yang di maksud Devlan. Aira tanu bahwa pria itu tidak nyaman dengan celana yang membuat miliknya kejepit dan sesak. Tanpa berkata, dibukanya celana berbentuk segitiga tersebut. Tanpa ada ragu, Aira memegang benda yang sudah berdiri dengan kokohnya. Diambilnya air dan membersihkan bagian tersebut. Ia membersihkan seluruh tubuh Devlan tanpa ada yang ditinggalkan. Jika seandainya pria itu bisa di rawat di rumah sakit, pekerjaan seperti ini tidak harus dilakukannya, karena ada perawat yang mengerjakannya. Namun karena pria itu di rawat di rumahnya, terpaksa harus dilakukannya sendiri.


***


__ADS_2