Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 43


__ADS_3

Devlan tersenyum dan melepas pelukan pria tersebut. Pria yang terlihat sangat tampan, gagah dan awet muda, meskipun usianya sudah kepala 5. "Paman lihat sendiri, aku sehat." Devlan terkekeh sambil mengembangkan kedua tangannya.


Aira yang hanya diam menyaksikan interaksi antar Paman dan keponakan itu, bisa mengambil kesimpulan. Bahwa hubungan Devlan dan pamannya sangat baik. Devlan terlihat seperti keponakan yang nakal yang suka mengerjai sang paman. Dan si paman orang yang begitu sangat baik dan menyayangi keponakannya.


Pria itu diam sambil mengamati keponakannya dari atas hingga ke bawah. Pria itu juga berpura-pura mengelilingi tubuh keponakannya, guna memastikan bahwa Devlan benar-dibenar baik-baik saja.


"Sudah percaya paman?" Devlan tertawa kecil. Jika dilihat wajah pria itu, memang memiliki kemiripan dengan Devlan. Hanya saja, kulit si paman sedikit gelap yang menunjukkan dia asli Indonesia. Berbeda dengan Devlan yang memiliki kulit putih karena memang campuran Amerika.


"Kau menghilang dan Aku dengar kau ditusuk hingga beberapa bagian tubuhmu." Pria itu memandang wajah keponakan.


"Iya benar, itu memang benar." Devlan tersenyum.


Pria itu diam dan kembali melihat tubuh keponakannya.


"Apa paman tidak senang ketika melihat aku kembali dan sehat seperti ini." Devlan tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Pria itu tersenyum dan kemudian bertepuk tangan. "Seharusnya aku tidak perlu mencemaskan mu. Karena mendengar kabar tentang mu, aku sampai tidak tenang." Pria itu berkata dengan raut wajah marah. Bagaimana ia tidak marah, seharusnya Devlan menghubungi dirinya yang merupakan paman kandungnya. Seharusnya Devlan memberi tahu bagaimana keadaannya dan memberi tahu posisi keberadaannya. Namun apa yang terjadi, Devlan memilih untuk menghubungi Pram yang nyata-nyata tidak ada hubungan darah dengan mereka dan hanya berstatus paman angkat.


"Aku sengaja tidak memberitahu Paman karena aku takut paman akan mencemaskanku. Aku tidak ingin kesehatan Paman terganggu karena aku." Devlan tersenyum.


Pria itu menarik napas pelan dan memandang wajah keponakannya. Apa yang terjadi dan apa yang dilakukan Devlan sungguh sangat membuat hatinya sakit. "Aku paman kandung mu, tapi kau tidak memandang ku. Kau lebih percaya dengan orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita. Apa kau tahu, dia berasal dari mana?


Apa kau tahu dari mana kakek mu menemukannya." Pria berwajah tampan itu sangat kecewa terhadap keponakannya.


"Aku satu-satunya keluarga yang kau punya Dev. Aku adik kandung dari ayah mu. Sedangkan Pram hanya anak pungut di keluarga mommy mu." Pria itu memandang lekat keponakannya.


"Kau mendapat serangan seperti itu dan kau menghilang. Kau masih bisa mengatakan kepadaku kau baik-baik saja. Kau kira aku bodoh Dev? Seperti apapun kau menyembunyikan kondisi mu, aku pasti tahu." Pria itu memberikan penekanan di setiap ucapannya.


"Sebaiknya Paman duduk, kita minum kopi dulu." Devlan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Pria itu sedikit menganggukkan kepalanya dan kemudian duduk di kursi yang ada di depan Devlan. Matanya melirik ke arah Aira yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


"Kau benar-benar membuat Paman kecewa Devlan." Burhan memandang wajah keponakannya. Andai saja, ia orang yang pertama diberitahu Devlan tentang kondisi dan tempat persembunyiannya, pria itu menjamin bahwa saat ini sang kaponakan sudah berkumpul dengan kedua orang tuanya di dalam tanah. Dan seluruh harta kekayaan milik keluarga Anderson akan jatuh ke tangannya karena hanya dirinya, satu-satunya keluarga Anderson yang tersisa. Membayangkan akan mewarisi semua harta kekayaan keluarga Anderson, membuat rona bahagia terpancar jelas di wajahnya yang tampan. Baru membayangkan saja, sudah membuatnya bahagia, apa lagi bila itu benar-benar terjadi.


"Kamu tahu kan Dev, paman begitu sangat menyayangimu. kau satu-satunya keponakan paman. Namun setelah kepergian kedua orang tua mu, mengapa kau tidak di bawah pengasuhan Paman?" Burhan tidak ada henti-hentinya berbicara seakan pria itu meluapkan segala sakit di dadanya.


"Ya paman, aku tahu," jawab Devlan santai. Ia sudah sangat hafal kalimat apa saja yang dikeluarkan oleh pamannya.


Burhan diam ketika mengingat peristiwa yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Di mana Abang kandung dan kakak iparnya meninggal karena peristiwa perampokan di jalan. Pada saat itu dia sudah beranggapan bahwa hak asuh Devlan akan jatuh ke tangannya namun ternyata sebelum kedua orang itu meninggal, mereka sudah membuat ahli waris harta kekayaan Anderson yang jatuh ke tangan Devlan dan pengawasan serta pengasuhan terhadap Devlan akan jatuh ke tangan Pram. Pram juga diberi kuasa untuk menjalankan perusahaan hingga sampai Devlan siap menjabat dan memegang tampuk perusahaan. Selaku adik kandung, Burhan begitu sangat marah dan murka. Ia bahkan tidak terima dengan isi wasiat dari kakak kandungnya. Bagaimana mungkin saudara kandungnya, tidak percaya terhadap dirinya yang merupakan adik kandung satu ayah dan ibu.


Burhan berasal dari desa dan memiliki kedua orang tua yang hanya seorang petani. Namun karena abangnya menikah dengan Karlina yang merupakan pewaris tunggal dari keluarga Anderson, keluarga yang kaya raya, maka derajat keluarganya naik. Selama ini Firdaus yang merupakan papi Devlan, tidak pernah lepas dari tanggung jawab terhadap keluarga dan adiknya. Bahkan pria itulah yang membiayai kuliah Burhan dan membantu adiknya untuk menjalankan bisnis. Di perusahaan yang dipimpin Burhan, Devlan masih memiliki 50% saham, Burhan 20% dan 30% lagi milik sahabat dari papi Devlan. Jadi Devlan merupakan pemilik saham tertinggi di perusahaan tersebut. Namun tetap ia tidak ingin mengambil kuasa kepemimpinan dan membiarkan jabatan sebagai direktur utama di pegang oleh sang Paman.


Devlan mendengar suara ketukan pintunya dan pria itu pun memerintahkan orang di luar untuk masuk.


"Paman Pram." Devlan berkata saat melihat Pram masuk ke dalam ruangannya. Pria berambut gondrong dengan tubuh tinggi tegap tersebut kemudian duduk di samping kursi yang berada di sebelah Burhan.


***

__ADS_1


__ADS_2