
"Baby, maafkan aku." Devlan memegang tangan Aira, namun gadis itu menepisnya.
Devlan pusing sendiri melihat Aira marah seperti ini kepadanya. Jika seandainya gadis itu mau memarahi dan mengomelinya, ia akan mendengarkan dengan senang hati. Meskipun Aira akan merepet sepanjang rel kereta api. Namun nyatanya, gadis itu lebih memilih diam tanpa mau berkata satu katapun.
"Baby, aku janji tidak akan melakukannya lagi." Devlan terdiam setelah mengatakan kalimat tersebut. Janji apapun pasti bisa dilaksanakannya. Namun janji yang satu ini, bisa-bisa Devlan gila dibuatnya.
Aira tersenyum dalam hati. "Dapat," batinnya. Akhirnya pria itu dengan sangat mudah masuk ke dalam perangkapnya.
"Baby, apa kamu tidak percaya kepada ku?"
Aira yang sejak tadi hanya memandang ke arah luar jendela, menoleh ke arah Devlan. Gadis itu kemudian mengusap air matanya. "Janji." Aira mengacungkan kelingkingnya.
Bagaimana mungkin Devlan bisa narik ulang ucapannya. Bila tatapan gadis itu menghipnotis dan memaksakan bibirnya untuk mengatakan ia. Meskipun ragu, Devlan tetap mengkaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Aira. "Yes baby."
"Ingat ya, gak boleh cium." Bukan Aira namanya bila tidak bisa menaklukkan Devlan. Bahkan si playboy Vandra yang begitu mudah meluluhkan hati wanita, tidak mampu menyentuhnya sedikitpun. Pria penjahat wanita itu, benar-benar kewalahan dan tidak berkutik di depannya.
"Ya baby," jawab Devlan lagi. Ia tidak menyangka akan tunduk dengan gadis kecil seperti Aira.
Aira tersenyum dan melepaskan jari Kelingking yang masih bertautan.
"Namun bila kamu yang menginginkannya, minta saja baby. Aku akan memberikan kecupan manis untuk mu. Bahkan bila kamu ingin setia hari." Devlan berkata penuh harap.
Aira diam memandang Devlan. Ingin sekali ia tertawa ngakak, namun dengan susah payah di tahannya. "Dasar mesum," batinnya.
__ADS_1
"Oke baby." Devlan tersenyum.
"Oke apanya?" Aira mengerutkan keningnya.
"Minta bila kamu merindukan kecupan manis dari ku." Pria itu meringis saat Aira mencubitnya.
Aira tidak menjawab dan memilih untuk memejamkan matanya.
"Baby, kita ke kantor ku ya. Soalnya aku ada rapat penting hari ini. Setelah selesai makan siang, aku akan mengantarkan mu pulang." Devlan mengusap kepala Aira dengan lembut.
"Tapi mbak Melly ikutkan mas?" Gadis itu siaga 1. Namun jujur saja, ia tetap ingin tahu lebih banyak tentang Devlan. Jika pria itu membawanya ke perusahaan miliknya, itu artinya Devlan sudah mulai terbuka dengan jati dirinya.
"Tentu saja sayang. Jika dia tidak ikut siapa yang menjaga mu ketika aku di ruang rapat. Lagi pula, di kantor ku banyak buaya. Karena itu, aku harus berjaga-jaga." Devlan berbicara dengan wajah masam. Pria itu takut ada yang menganggu gadis pujaan hatinya yang begitu sangat cantik dan mempesona.
"Kenapa takut baby?" Devlan jadi bingung.
"Seram mas, aku takut buaya," jawabnya polos.
"Ha... Ha ... Maksud ku, laki-laki pencinta wanita. Atau lebih pasnya pria hidung belang." Devlan sangat gemas melihat wajah Aira yang imut-imut. Bibir mungil yang maju beberapa centi itu, membuat ia semakin gemas dan ingin mengecupnya. Namun niat itu harus diurungkannya. Pada akhirnya Devlan hanya menghembuskan napas secara kasar.
Aira bernapas lega setelah mendengar jawaban Devlan. "Kirain beneran buaya. Ternyata bos dan karyawan, sama saja," ejeknya.
"No baby, aku memang pencinta wanita tapi yakinlah aku ini bukan buaya. "Devlan kembali mengeluarkan gombalannya.
__ADS_1
"Yang ngaku nggak buaya aja kayak gini modelnya gimana kalau ketemu buaya beneran." Aira tidak ada henti-hentinya mengeluarkan kalimat sarkas yang membuat pria itu semakin tersulut.
"Ya baby, sebelum aku mengenalimu, mungkin aku memang pria yang tidak baik ataupun yang tidak mengenal kata setia. Tapi setelah mengenalimu, aku tidak seperti itu lagi. "Devan mencoba meyakinkan gadis berwajah cantik tersebut. Walau bagaimanapun misinya harus sukses untuk meyakinkan dan mendapatkan hati sang gadis idaman.
Aira memandang wajah Devlan dengan menyipitkan mata dan mengerutkan keningnya. Jawaban pria itu terdengar gamblang di telinganya. "Gimana sih mas, bukannya kamu baru kenal dengan aku. Bahkan kita kenal, belum sampai dua Minggu. Gimana coba aku mau percaya sama kamu." Aira memajukan bibir bawahnya sebagai bukti bahwa ia meremehkan kejujuran pria tersebut.
Depan hanya bisa tertawa nyengir saat mendengar ucapan Aira yang memang benar. Tapi dirinya sangat yakin bahwa cinta yang dirasakannya, bukan hanya cinta sesaat. Wanita itu sudah memenuhi ruang di dadanya dan bahkan sekarang hanya ada Aira di dalam pikirannya.
"Mas kantor masih jauh nggak?" tanya Aira yang menutup mulutnya ketika sedang menguap
"Lumayan baby, kamu mengantuk?"
Aira menganggukkan kepalanya.
"Tidurlah," ucap Devlan yang mengusap kepala Aira dengan penuh kasih sayang. Jujur saja perhatian seperti ini, hanya di berikannya untuk Aira.
Kelopak matanya sudah terasa berat. Aira memejamkan matanya. Dalam waktu singkat ia sudah sampai ke alam yang begitu tenang. Kini otaknya yang cerdas berhenti bekerja dan berpikir untuk beberapa saat.
Devlan tersenyum ketika Aira sudah tertidur. Dengan sangat hati-hati, ia menarik kepala gadis itu dan menyandarkan ke dadanya. Agar posisi tidur Aira lebih nyaman. Tangannya tidak ada henti-hentinya mengusap kepala Aira sehingga membuat tidur gadis itu semakin nyenyak.
"Kenapa sulit sekali mendapatkan kamu baby. Ya aku memang bukan pria yang baik dan sempurna tapi aku akan belajar untuk menjadi pria yang sempurna untuk kamu. Aku juga akan menjadi pria yang setia. Devlan bersuara dalam hati. Ini untuk pertama kalinya, ia merasakan getaran cinta dan dia yakin bahwa cinta yang dirasakannya bukan hanya cinta yang sesaat. Cinta ini akan selalu ada, dan tidak akan lekang dimakan waktu.
Devlan ikut memejamkan matanya. Semalaman tidak tidur, membuat mata pria itu mengantuk. Tanpa disadari masih, ia tertidur. Bersama Aira, memberikan rasa nyaman dan tentram untuknya.
__ADS_1
***