
"Tidak usah dengarkan mami, kamu harus fokus kuliah. Papi tidak mau kamu sibuk dengan dunia model atau bisnis yang tidak jelas." Burhan berkata dengan lembut sambil mengusap kepala putri kesayangannya.
"Ini yang buat Jessica gak ada dewasanya." Erni mengomel.
"Kedewasaan tidak dilihat dari apa yang dia kerjakan, namun pola pikir," kata Burhan bijak. Pris itu tersenyum hangat sambil mengusap kepala Jessica.
Gadis berwajah cantik itu tersenyum lebar ketika merasakan sentuhan hangat dari papinya.
Erni hanya berdecak kesal saat melihat Jessica yang sedang di atas awan. "Awas saja nanti," ancamannya.
Burhan hanya tertawa ketika melihat tingkat istri dan juga Putri bungsunya. Keributan kecil di meja makan seperti ini, sudah sangat sering terjadi. Dan biasanya ibu dan anak itu memang tidak pernah ada pro nya, selalu saja ada hal kecil yang di ributkan.
Selina hanya diam sambil menikmati sarapan paginya.
"Seli, kenapa gak bela mami?" Erni kesal.
"Aku lagi buru-buru mi," ucap Selina dengan sedikit tersenyum.
Jessica tertawa ngakak sambil menutup mulutnya. Rasanya ia sangat senang karena bisa mentertawakan kanjeng mami, pagi ini.
***
Burhan masuk ke dalam gedung perusahaannya. Seperti biasanya, pria itu akan menjadi pusat perhatian dari para karyawan yang perempuan. Wanita mana yang tidak tergoda setiap kali melihatnya. Meskipun usianya sudah tidak muda, namun tubuhnya tinggi dan tegap dengan bobot tubuh yang ideal. Wajah tampan dan tegas, sehingga membuat karisma yang dimilikinya mampu menyihir setiap wanita. Burhan juga di kenal sebagai bos yang ramah dan perhatian kepada setiap karyawan. Karena sikapnya yang seperti ini, Burhan tidak pernah tergeser dari kursi direktur utama. Meskipun nyatanya, ia hanya memiliki saham 20% saja.
Pria itu selalu mengembangkan senyum yang ramah, setiap kali berpapasan dengan karya. Ia masuk ke dalam lift dan langsung ke ruangannya.
Burhan duduk di meja kerjanya sambil menunggu informasi dari anak buahnya. Dengan cepat pria itu mengangkat sambungan telepon di ponsel miliknya yang berbeda. Untuk urusan permasalahan yang seperti ini, Burhan memakai ponsel yang berbeda. Yang mana tidak ada satu orang pun yang tahu nomor tersebut, terkecuali orang-orang suruhannya. Sehingga tidak ada yang bisa menyadap informasi apapun dari telepon seluler yang selama ini dipakainya sebagai telepon pribadi.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kau sudah mengerjakan semua, sesuai yang aku perintahkan?"
"Sudah pak, saya jamin tidak akan ada bukti sedikitpun yang tertinggal. Semuanya bersih seperti yang bapak inginkan. Untuk berita, sebentar lagi bapak bisa membaca secara online." Pria yang bernama Anto itu menjawab dengan yakin.
"Jam berapa berita terbit?"
"Jam 8 pagi ini." Anto tersenyum. Pekerjaan seperti ini sangat mudah baginya karena itu dia yakin bahwa tidak akan ada satu barang bukti yang akan menyeret mereka. Semua bukti termasuk cctv, sudah diselesaikanya secara bersih.
"Bagus." Burhan tersenyum. Anto begitu sangat cerdas. Pria itu mantan TNI yang di pecat secara tidak hormat karena kasus perampokan. Karena itu, kemampuannya tidak perlu diragukan. Selain ahli dalam hal melenyapkan nyawa tanpa bukti, Anto juga mahir dalam bidang IT, ia bisa membobol situs penting milik negara sekalipun. Jadi untuk urusan cctv, bukanlah perkara yang sulit baginya.
Burhan tertawa lepas saat mendengar informasi yang diberikan Anto kepadanya.
Devlan memang tidak memasukkan berita tentang percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh orang kepercayaannya. Bahkan kasus tersebut tidak ada yang sampai keluar. Pria itu memang menyimpan rapat-rapat semua informasi tentang hal ini. Ia tidak ingin merusak nama baik keluarga Leo. Baginya, hukuman yang didapatkan Leo sudah sesuai dengan perbuatannya, tanpa harus menghancurkan pria itu berserta keluarganya di publik.
Namun Burhan, dengan sengaja membayar wartawan dan membuka semua kasus kejahatan Leo di media. Ia juga akan membeberkan kematian Ayu berserta Leo di media berita online. Namun hal itu tidak dilaksanakannya secara langsung. Cukup memerintahkan orang kepercayaannya saja, dan semuanya akan berjalan dengan lancar.
"Baiklah terima kasih untuk informasi yang kamu sampaikan." Burhan tersenyum dan membuka berita online tepat di jam 8 pagi. Seperti apa yang di sampaikan Anto, berita kematian Leo beserta istrinya sudah tersebar di media sosial, channel YouTube, dan berita online lainnya. Dengan cara seperti ini, maka tidak akan ada yang mencari tahu penyebab kematian suami istri tersebut. Bahkan tidak akan ada warga net yang bersimpati dengan kematian pasangan suami-isteri tersebut itu.
***
Aira duduk di kursi prakteknya. Hari ini tidak banyak pasien yang datang, sehingga waktunya banyak untuk bersantai.
Tatapan matanya memandang ke layar ponsel dan kemudian memajukan bibirnya. Entah mengapa ada sesuatu hal yang membuat dirinya tidak nyaman ketika tidak bertemu dengan Delvan. Saat akan sarapan pagi, Aira sudah tidak menemukan pria itu lagi dan dia hanya mendengar Melly mengatakan bahwa Delvan ada urusan. Pria itu pergi pagi-pagi sekali bersama dengan Pram.
Bagaimana mungkin Aira tidak kesal, sampai saat ini, pria itu belum ada menghubunginya. Ingin sekali menghubungi Devlan lebih dulu, namun dirinya gengsi dan juga takut akan mengganggu pekerjaan lelaki tersebut.
"Kasih tahu kenapa sih biar aku nggak mikirin kamu seperti ini. "Bibir gadis itu komat-kamit sambil memandang layar ponselnya.
__ADS_1
"Benar-benar buat kesel." Semangat bekerjanya di hari ini hilang seketika, saat Devlan tidak menghubunginya sama sekali.
"Hai lagi nyantai ya." Seorang dokter muda duduk di kursi yang ada di depan Aira.
"Iya kebetulan pasien nggak rame," jawab Aira.
"Cowok yang kemarin itu siapa namanya." Dokter wanita itu tersenyum dengan sangat manisnya.
"Devlan," jawab Aira.
"Pacar kamu bukan?"
Aira bingung untuk menjawab.
"Jawab aja apa susahnya sih, pacar kamu nggak. Kalau nggak, aku mau titip salam nih," desak si gadis.
"Mana mungkin dia datang ke sini, jemput aku, kalau dia bukan pacar aku. Apa kamu nggak lihat, kalau dia pegang tangan aku kemana-mana. "Tiba-tiba saja dadanya terasa panas dan rasa cemburu seakan membakar tubuhnya.
Dokter muda itu hanya diam sambil menelan air ludahnya. "Aku cuma nanya, kenapa emosi."
"Bikin kesal," jawab Aira.
"Dapat itu cowok dari mana, ganteng kaya dan aku nggak tahan lihat postur tubuhnya. Pasti sangat kuat kalau di atas tempat tidur." Dokter yang bernama Cila itu tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
Aira hanya diam sambil memandang temannya tersebut. "Dasar mesum," ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dokter cantik itu hanya tertawa sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
***