Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 36


__ADS_3

Devlan membuka mata secara berlahan-lahan ketika mendengar suara supir yang menggangu tidur lelapnya.


"Kita sudah sampai tuan." Pria itu sedikit tersenyum. Setelah 10 menit mobil terparkir di depan parkiran khusus yang berada di gedung 20 lantai milik Devlan, barulah ia berani untuk menganggu tidur sang tuan.


Devlan memandang keluar jendela dengan mata yang sudah terbuka sempurna. Senyum mengembang di bibirnya ketika memandang kepala Aira yang masih berada di atas dadanya. Diciumnya aroma wangi rambut Aira yang tepat berada di depan hidung mancungnya. "Kalau cium rambut bolehkan. Cium rambut, cium kening, cium pipi, tadi masuk ke daftar janji," gumamnya dalam hati.


"Baby kita sudah sampai." Devlan mengusap lembut pipi Aira. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat Aira yang tidak bergerak sama sekali.


"Semua yang ada di dirimu begitu sempurna. Pipi kamu lembut, halus dan licin. Wajah kamu sangat cantik dan manis. Bibir, mata, hidung, dagu dan alis. Semua begitu sempurna. Aku yakin, saat pemberian bentuk wajah, kamu berada di posisi paling depan. Sehingga kamu mendapatkan wajah yang cantik sempurna." Pria itu berkata sambil terus mengusap pipi Aira. Mungkin saat ini, ia benar-benar sudah menjadi penggemar dokter cantik tersebut.


"Gadis itu tidak terbangun sedikitpun. bahkan ia merubah posisinya dan melingkarkan tangan di pinggang Devlan. Seakan ia sedang tidur di atas tempat tidur dan memeluk sebuah guling.


"Baby bangunlah, tolong jangan seperti ini. Kalau seperti ini ceritanya, aku bisa langgar janji," Devlan mulai frustasi. Namun tetap saja Aira tidak terbangun.


"Baby kamu sangat menggemaskan." Delvan tersenyum dan mencium kening Aira. "Kening boleh ya baby."


Melly yang duduk di depan hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Devlan memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Melly aku butuh bantal dan selimut."


"Sebentar tuan." Wanita itu turun dari mobil. Ia mengambil bantal dan selimut didalam bagasi mobil dan menyerahkan bantal itu kepada Devlan.


Devan merebahkan sandaran kursi hingga rata. Dengan sangat berhati-hati, ia merebahkan tubuh Aira dan meletakkan bantal di belakang kepala si gadis. "Baby kamu tidurlah di sini, tidak apa-apa. Aku tidak tega mengganggu tidurmu karena semalaman kamu pasti tidak tidur." Devlan tersenyum sambil menatap wajah Aira.


"Nanti setelah rapat aku akan kembali ke sini. Maaf aku harus meninggalkan kamu karena aku akan rapat penting pagi ini. Jika nanti kamu sudah bangun, Melly akan mengantarmu ke ruanganku." Devlan tersenyum dan kembali mencium kening Aira. Pria itu tersenyum geli saat berbicara sendiri seperti ini. Mengapa ia harus memberi tahu Aira, padahal gadis itu sedang tertidur.

__ADS_1


"Melly, kau jaga dan biarkan dia tertidur. Jika nanti sudah bangun antarkan ke ruanganku." Devlan berkata kepada Melly dengan mata yang terfokus memandang Aira.


"Baik tuan."


"Ingat jangan cerita-cerita kalau aku cium keningnya." Devlan memandang Melly dengan mata yang melotot sebagai bentuk ancaman.


Melly tersenyum sinis memandang Devlan.


"Tidak perlu melihatku seperti itu, aku akan beri bonus 2 kali lipat kalau mulut mu bisa di kunci." Devlan kesal melihat bodyguard yang tidak ada sopannya dengan majikan. Ia membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Aira yang tertidur lelap.


Melly tersenyum penuh kemenangan. Sebrengsek apapun seorang pria, bisa berubah hingga 380 derajat jika sudah menemukan cinta sejatinya. Ada rasa bahagia menyusup ke ruang hatinya ketika melihat Devlan yang sudah menemukan cintanya. Meskipun Melly tidak banyak berbicara, namun wanita cantik itu tetap berharap sang bos bisa hidup bahagia dengan wanita yang dicintainya. Walau bagaimanapun keluarga Anderson itu butuh keturunan untuk melindungi harta turun temurun yang diwariskan keluarga dari ibunya Devlan.


"Jika bukan karena ada rapat penting, aku masih memilih untuk menatap wajahnya yang cantik." Devlan tersenyum sendiri ketika kalimat itu meluncur dari bibirnya. Pria itu sedikit berlari masuk ke gedung.


Langkah kakinya terhenti saat ponsel yang ada di dalam saku jasnya berdering. Dengan cepat ia mengangkat panggilan telepon. "Iya halo paman," jawab Devlan.


"Baik paman." Devlan memutuskan sambungan telepon.


Melihat kedatangannya, para karyawan tampak senang dan antusias. Lebih dari 1 Minggu Devlan menghilang, membuat mereka cemas. Devlan tipe bos yang sangat baik, berwibawa, meskipun tidak banyak berbicara. Mereka takut kehilangan bos baik seperti Devlan.


"Pak Devlan saya senang akhirnya anda kembali ke perusahaan. "Seorang pria berusia sekitar 45 tahun menyapanya. Pria itu tidak berbohong. Dari senyumnya tampak jelas bahwa pria itu tersenyum penuh bahagia. ada rasa lega di hatinya saat melihat sang bos yang tampak sehat seperti ini


"Iya saya mengalami musibah dan mungkin kalian sudah tahu bahwa Leo yang sudah menghianati saya." Devlan tidak segan menyampaikan hal ini kepada bawahannya. Perbuatan yang dilakukan Leo, tidak layak untuk di sembunyikan.


Pria itu tidak tampak terkejut ketika mendengar ucapan Devlan. Ia tahu bahwa Leo sudah berbuat curang terhadap perusahaan dan sudah berniat untuk mencelakai sang bos. Namun tidak tahu seperti apa cerita secara detailnya.


"Maksudnya bagaimana pak?" tanya pria bernama Heru itu secara berhati-hati.

__ADS_1


"Dia mencoba membunuh saya dan selama lebih dari minggu ini, saya tidak datang karena memang kondisi saya tidak memungkinkan. Saya mengalami luka serius bagian perut, dada, tangan punggung. Karena kondisi luka seperti ini, saya membutuhkan perawatan intensif dan waktu untuk istirahat untuk pemulihan kesehatan saya." Devlan berkata dengan sedikit tersenyum.


Pria itu tampak marah saat mendengar penjelasannya disampaikan Devlan. Ia tidak menyangka bahwa pria yang sudah diangkat menjadi orang kepercayaan itu berbuat serendah ini.


"Saya tidak bisa lama-lama, karena saya sudah ditunggu di ruang rapat." Devlan tersenyum dan kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke lift.


Di dalam lift ini hanya dia sendiri, karena memang lift disediakan untuk pemilik perusahaan, karyawan yang memiliki jabatan tinggi dan tamu penting saja.


Devlan keluar dari dalam lift iya langsung berjalan menuju ke ruangan rapat. Pria itu membuka pintu ruangan dan melihat semua pemilik saham sudah berkumpul termasuk beberapa orang petinggi di perusahaannya.


"Pak Devlan, kami sangat senang melihat anda dalam keadaan sehat seperti ini." Seorang pria langsung berjalan mendekati Devlan. Tanpa ragu pria itu memeluknya sebagai bentuk ungkapan rasa bahagia di hatinya yang memang tidak mampu ditutupinya.


"Tentu saya datang, mana mungkin saya tidak datang." Devlan tersenyum dan menerima uluran tangan dari pemilik saham yang lainnya. Mereka begitu sangat bahagia dan mengucapkan untaian kata syukur saat melihat kehadiran Devlan pagi ini.


Setelah mengucapkan kata terima kasih karena sudah mencemaskannya, Devlan kemudian duduk di kursi yang berada di samping Pram. Di mana kursi itu selalu menjadi tempatnya untuk memimpin rapat.


"Mengapa kau lama sekali, seharusnya rapat sudah dimulai 10 menit yang lalu." Pram berkata dengan mengecilkan suaranya.


"Aku ketiduran di dalam mobil paman," jawab Devlan berbisik, tanpa merasa bersalah.


Pram hanya menggeleng-gelengkan kepalanya memandang keponakannya. Namun pria itu tidak bisa memarahi Devlan lebih lama lagi karena mereka harus memulai rapat. "Sekarang aku tidak mengomelimu di sini, tapi lihat nanti. Jangan mentang-mentang kau sedang jatuh cinta, jadi seenak-enaknya berbuat sesuka hati." Pram berkata dengan raut wajah yang kesal.


"Paman sudah tua, jangan banyak marah, tahan emosi dan harus sabar. Ingat, nanti wajah paman jadi semakin tua. Jantung paman juga bisa saja terganggu. Jika seperti itu, paman akan semakin kesulitan untuk mencarikan aku bibi." Devlan menahan tawanya. Ia begitu sangat senang melihat wajah Pram yang sudah merah padam ketika mendengar ejekannya.


"Keponakan brengsek, kau menyumpahi paman mu."


Devlan tidak menjawab dan langsung membuka rapat sebagai pengalihan kemarahan sang paman.

__ADS_1


***


__ADS_2