
"Apa pak Pram sedang bercanda?" Pria berkacamata itu, tampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Saya tidak bercanda, saya ingin pak Herman kembali ke jabatan semula." Pram tersenyum.
Leo baru teringat dengan apa yang dikatakan pram. Wajahnya yang tadi merah padam kini memucat. Baru saja ia mengeluarkan uang 300 juta. 150 juta di transfer ke nomor rekening toko penjualan berlian tempat di mana istrinya menginginkan kalung serta cincin berlian. Sedangkan 150 juta lagi, langsung masuk ke rekeningnya. Ia membutuhkan uang untuk membayar jasa preman yang dipakainya.
Suasana yang tadi sempat ribut karena kedatangan Pram secara mendadak, kini kembali hening. Saat Pram kembali melanjutkan rapat.
Leo sudah tidak berkata apa-apa lagi. Pria itu hanya berpikir bagaimana caranya untuk menyelamatkan dirinya dari dugaan korupsi dan penggelapan uang perusahaan. Dia sudah tidak memikirkan untuk menduduki kursi direktur utama, karena yang terpenting saat ini bagaimana caranya, bisa terlepas dari jeratan hukum yang akan menyeretnya ke dalam tahanan.
Leo berusaha menutupi rasa marahnya, saat Pram mengambil ahli rapat dari tangannya. Pria itu memimpin rapat dengan sangat baik. Meskipun sudah tidak pernah masuk ke dalam perusahaan dan menduduki jabatan, namun Pram sangat mengetahui seluk-beluk perusahaannya dan permasalahan serta solusi yang harus mereka ambil. Melihat ini, sungguh membuat ia marah dan kesal.
***
Setelah selesai rapat Leo tidak mampu berpikir apapun, otaknya buntu. Masalah satu belum selesai kini sudah datang masalah baru. Selama ini pria itu selalu bermain cantik untuk manipulasi keuangan perusahaan, namun bila Herman kembali memegang manajemen keuangan perusahaan, semua kecurangan-kecurangan yang dilakukannya akan terlihat. Apalagi pria tua itu, begitu sangat jeli dan teliti. Selama beliau memegang keuangan perusahaan, tidak pernah ada yang bisa melakukan sedikit saja kecurangan. Karena keahliannya itu, Herman masih bertahan di perusahaan ini sampai sekarang.
"Sial, bersusah payah aku untuk menyingkirkan pria tua itu, tapi sekarang dia akan kembali ke jabatannya." Leo menarik rambutnya sendiri. Kepalanya sungguh terasa pusing.
Pikirannya teralihkan ke arah ponsel yang berdering. Dengan cepat ia mengambil ponsel yang terletak di atas meja. Pria itu sudah tidak sabar mendengar kabar yang di bawa oleh orang suruhannya.
"Halo," jawab Leo. Ada rasa kecewa ketika yang menghubunginya Ayu, istrinya bukan orang suruhannya.
"Sayang, terima kasih untuk kejutannya." Wanita itu tersenyum dengan penuh bahagia. Mimpi memiliki cincin serta kalung berlian yang menjadi topik utama di kalangan teman-teman sosialitanya, kini didapatkannya. Ayu tidak bisa membayangkan seperti apa terkejut dan irinya teman-temannya ketika melihat dirinya akan memakai kalung itu ketika mereka ketemu di restoran untuk berkumpul dan makan bersama.
Leo sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sayang aku sudah janji sama teman-teman arisan untuk nanti kumpul di restoran. Aku akan memakai perhiasan ini. Aku benar-benar sangat senang.
"Iya hati-hati," jawab Leo.
"Sayang uang arisan 50 juta ku jangan lupa ya nanti transfer." Wanita itu berbicara dengan nada suara yang di buat sangat manja.
__ADS_1
"Ya nanti aku transfer, setelah ini kamu stop main arisan." Leo berkata dengan serius.
"Kenapa sayang? Jangan bilang kalau kamu sudah tidak punya uang?" Ayu memandang Leo dengan mengerutkan keningnya.
"Aku akan bercerita nanti di rumah, yang pasti kamu bersenang-senanglah dengan teman-temanmu."
"Iya sayang, sudah dulu." Ayu tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kearah kamar.
Leo hanya menganggukkan kepalanya dan menutup sambungan telepon.
Bosan menunggu akhirnya pria itu memutuskan untuk menghubungi orang suruhannya. Dia sudah tidak sabar untuk mendengarkan laporan yang dibawa oleh pria tersebut.
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan mayatnya?"
"Belum pak, sampai saat ini mayatnya belum ditemukan. Kami juga sudah mencari informasi dari warga di sekitar tempat pak Devlan menghilang. Namun tidak ada satupun warga yang menemukan mayat atau mengetahui keberadaannya," jelas pria di seberang sana.
"Apa yang kau kerjakan? Aku sudah memerintahkanmu mencarinya hidup atau mati. Aku tidak mau tahu, kau harus menemukannya. Bila kalian gagal, sisa bayaran tidak akan aku berikan," ancam Leo.
Leo merasa takut atas ancaman orang tersebut. Ia sudah tidak berkata apa-apa lagi. Dengan cepat sambungan telepon diputuskannya. Ingin sekali ia melempar benda pipih di tangannya, namun benda itu begitu sangat berguna untuknya, sehingga niat itu dibatalkannya. Pria itu hanya bisa memukul meja kerjanya dan menarik-narik rambutnya sendiri.
***
"Ini baju untuk mas pakai." Aira meletakkan baju kaos oblong berwarna putih dan celana pendek selutut berwarna hitam. Gadis itu dengan sengaja memberikan Devlan pakaian santai seperti ini, agar pria itu tidak ribut dan banyak mengeluh dengan alasan baju panas, tidak nyaman dan sebagainya.
"Baby tolong pasangkan bajuku." Devlan berkata dengan suara lemah.
"Mas pasang sendiri." Aira menolak.
"No Beby, apa kamu tidak lihat seperti apa kondisiku saat ini, tanganku sakit dan nyeri bila di angkat." Pria itu mencoba meyakinkan gadis pujaan hatinya.
"Katanya mas kuat, gendong aku aja sanggup. Kenapa pasang baju sendiri nggak sanggup?" Aira kembali mengungkit apa yang sudah dikatakan Devlan.
__ADS_1
"Beda kasus beby, menggendongmu itu beda cerita. Aku tidak berdusta Beby, tangan ku sakit dan nyeri. Luka di dadaku, bagian perutku juga, sakit sekali." Devlan menunjuk bagian luka-luka yang ada di tubuhnya.
Aira hanya diam memandang Devlan yang masih sibuk menceritakan penderitaannya.
"Baby, aku tidak tahan kalau tidak mandi pagi. Badanku bau, cobalah cium." Pria itu dengan sangat pandai menggoda gadis yang saat ini hanya diam memandangnya. Tampak jelas wajah gadis itu merona ketika mendengar ucapannya.
"Beby, tolong bersihkan tubuhku ya. Oh iya, kamu tadi ada belikan aku parfum dan deodorant? Aku tidak bisa kalau tidak pakai itu." Devlan tidak mempermasalahkan mereka parfum dan deodorant yang di belikan Aira. Yang terpenting badannya tidak mengeluarkan bau yang tidak enak.
"Iya ada," jawab Aira.
"Terima kasih ya beby, apa uang yang tadi aku berikan cukup?"
"Masih banyak kembaliannya, di sini belanjanya ke pasar, bukan ke mall. Aku akan ambil sisa uang yang tadi mas kasih." Aira berencana untuk keluar dari kamar. Namun langkah kaki gadis itu terhenti saat mendengar Devlan memanggilnya.
"Kembaliannya untuk kamu saja." Devlan menepuk tepi tempat tidurnya.
Meskipun malas, namun Aira tetap menurut. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur.
"Apa harga barang di pasar itu murah, beby?" Devlan bertanya.
"Iya," jawab Aira. Ia tidak habis pikir melihat Devlan, yang tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.
"Aku ingin sekali jalan-jalan ke pasar bersama denganmu. Aku ingin lihat seperti apa pasar di sini." Devlan tersenyum.
"Berani keluar dari rumah?" Aira bertanya dengan menahan senyumnya.
Devlan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku akan melakukan itu, bila aku sudah sembuh beby," jawabnya.
"Cepat sehat ya, biar bisa makan sendiri dan mandi sendiri." Aira gemas dan menarik hidung mancung Devlan. Kapan lagi bisa mencubit hidung mancung pria tampan yang berwarna bule seperti ini. Mumpung pria itu masih menjadi pasiennya, ia akan memanfaatkan kesempatan.
Devlan tersenyum saat Aira menari hidung mancungnya. Jika gadis yang duduk di dekatnya bukan Aira, mungkin ia akan mengajak gadis itu bergelut di atas tempat tidur. Namun dokter cantik itu, begitu sangat berbeda. Aura yang terlihat, tidak sama seperti gadis pada umumnya yang sudah di kenalnya. Mereka sangat murahann melempar tubuhnyaa untuk pria yang di sukai.
__ADS_1
***