
Bab 54
Pram memberhentikan mobilnya tepat di depan kampus milik Jessica. Belum mereka keluar dari mobil gadis itu sudah berlari menuju ke mobilnya.
Devlan memandang Jessica dan kemudian keluar dari dalam mobil. Ia tersenyum saat Jessica memeluknya.
"Kakak, aku rindu." Jessica tersenyum manja.
"Kalau sikap kamu seperti ini, mana ada yang mau jadi pacar kamu." Devlan mengacak-acak rambut adik sepupunya itu. Meskipun mereka saudara sepupu namun wajah mereka tidak memiliki kemiripan sama sekali. Karena Jessica memiliki wajah yang ayu, yang seperti wajah wanita ketimuran pada umumnya.
Jessica tertawa dan kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Devlan. Meskipun saat ini ia menjadi pusat perhatian mahasiswa yang ada di sana, namun tetap tidak dihiraukannya. "Aku rindu," ucapnya lagi.
Devlan hanya tersenyum saat mendengar pengakuan dari anak pamannya itu.
"Apa kamu tidak merindukan Paman?" tanya Pram yang berdiri di belakang Jessica.
"Tentu saja rindu." Jessica tertawa dan kemudian memeluk Pram.
"Yang benar saja, bukankah yang kamu rindukan hanya Devlan?" Pram bertanya dengan wajah merajuk.
"Tidak dong paman, aku rindu Paman. Apalagi Paman yang jarang berada di Indonesia," kata Jessica dengan manja.
"Iya kamu tahu sendiri pamanmu ini sangat suka berpetualang." Pram tersenyum dan memeluk Jessica. Meskipun gadis itu sudah menginjak dewasa, namun tetap saja sikapnya masih sangat manja.
"Iya aku tahu Paman, paman mirip ninja Hatori." Jessica tertawa kecil.
"Aku meragukan usiamu." Pram memandang Jessica dengan penuh curiga.
"Mengapa begitu?" tanya Jessica yang tidak mengerti.
"Usia 18 tahun tapi tingkahmu seperti anak umur 5 tahun yang masih suka nonton ninja Hatori," ejek Pram.
Jessica hanya diam sambil memajukan bibirnya. Ninja Hatori salah satu film kegemarannya dan sampai saat ini Jessica masih sangat senang menonton film ninja tersebut.
__ADS_1
"Kita makan di restoran dekat kampus mu saja ya." Devlan memandang Jessica.
"Boleh kakak, kebetulan di samping kampus ada restoran yang baru buka. Aku pengen coba makan di sana." Jessica berkata dengan mata berbinar.
"Ayo kita makan ke sana, apa perlu bawa mobil?" Tanya Devlan.
"Gak usah kak, soalnya lawan arah, malas macet. Kita jalan kaki aja yuk." Jessica bergelayut manja di tangan Devlan.
"Apa paman ikut?" Tanya Jessica
"Tentu," jawab Pram.
Hanya berjalan sebentar saja, mereka sudah sampai di restoran steak. Devlan dan Pram memutuskan untuk duduk di ruang VIP. Karena mereka tidak suka tempat yang ramai.
"Kak Dev, kak Selina sudah di sini." Jessica memberi tahu setelah memesan makanannya kepada pelayan.
"Apa dia ada kerjaan di sini?" Tanya Devlan. Biasanya adik sepupunya itu pulang ke Indonesia hanya sebentar dan kemudian kembali lagi ke Perancis.
"Katanya gak kak, dia bakal menetap di Indonesia." Jessica tersenyum saat melihat pesanannya sudah datang.
"Apa benar dia mau menetap di Indonesia? Bukannya dia sudah sukses menjadi artis go internasional." Pram bertanya sambil memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.
"Aku kurang tahu juga paman, tapi katanya mau melanjutkan karir keartisannya di Indonesia. Katanya mau bantu papi untuk urus perusahaan." Jessica memberi tahu sesuai dengan yang dia tahu.
"Bagus kalau seperti itu. Aku mengira kalau Serina tidak akan pernah mau pulang ke Indonesia karena sudah terlalu nyaman di sana." Devlan berkata sambil memandang Jessica.
Devlan memang sangat dekat dengan Jessika. Baginya, Jessica adalah pengganti adiknya yang tidak sempat terlahir. Hari penuh bahagia itu tidak pernah terlupakan olehnya. Ia mendapatkan kabar dari mami dan papinya jika sang mami sedang mengandung. Rasanya begitu sangat bahagia, bahkan Devlan selalu bertanya kapan adiknya akan lahir. Padahal waktu itu, perut Karlina masih belum membuncit. Setiap kali makan bersama di meja makan, ia selalu memberikan makanan yang banyak untuk sang mami, karena berharap perut maminya akan seger membuncit. Namun mimpi itu lenyap seketika saat mendengar kabar kematian kedua orangtuanya yang menjadi korban perampokan.
Jessica juga sependapat dengan Devlan. Mereka makan sambil terus mengobrol ringan seperti ini.
Setelah selesai makan di restoran, Jessica kembali ke kampus bersama dengan Devlan dan Pram, karena memang mobil mereka sedang berada di parkiran kampus Jessica.
"Jessi, aku tidak bisa mengantarmu pulang ke rumah." Devlan tersenyum dan mengusap kepala Jessica.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak, aku pulang sendiri. Aku bawa mobil." Jessica menunjukkan kunci mobil di tangannya.
"Kalau begitu kamu pulang harus hati-hati, ingat langsung pulang ke rumah jangan main-main." devlan memberi pesan.
"Oke," jawab Jessica sambil mengangkat jempolnya.
"Jessica jangan cerita kepada papi mu kalau kita bertemu. Begitu juga dengan mami serta Sherina." Devlan sedikit berbisik di telinga Jessica.
"Kenapa aku tidak boleh bercerita?" tanya Jessica.
"Ya tidak ada sih, hanya saja aku ingin pertemuan kita menjadi rahasia kita saja." Devan tersenyum.
Jessica yang tidak paham namun tetap menganggukkan kepalanya. "Kakak selalu bisa mempercayaiku. Lagian juga ngapain aku cerita ke papi kalau aku ketemuan sama kakak di sini."
"Anak yang pintar." Devlan mengusap kepala Jessica.
"Kakak besok-besok aku telepon lagi ya, kita makan sama-sama lagi." Jessica tersenyum lebaran.
"Tentu," jawab Devlan.
Pram hanya diam memandang interaksi antara Jessica dan juga Devlan. Sebenarnya pria itu ingin banyak bertanya mengenai Burhan dan berharap sedikit mendapatkan informasi. Namun Jessica pasti tidak akan banyak tahu tentang papinya. Jadi karena itu Pram memilih diam dan mencari tahu semuanya sendiri.
***
Aira uring-uringan tidak jelas ketika tidak mendapatkan kabar dari Devlan. Setelah menyimpan semua barang-barangnya ke dalam tas, dokter cantik itu keluar dari dalam ruangannya dan melihat Melly yang masih setia duduk di kursi tunggu pasien.
Aira memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya ada rasa kecewa ketika tidak melihat Devlan di depan ruangan. Padahal dia berharap pria itu menjemputnya saat ini.
"Mengapa aku bisa seperti ini?" Perasaan seperti ini membuat dirinya bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Seharusnya Aira merasa senang karena tidak melihat pria yang sudah membuat dirinya kewalahan menghadapi gombalan receh yang selalu diberikan oleh Devlan. Namun ternyata tidak mendengar kabar pria itu saja sudah membuat dirinya tidak nyaman.
"Mari nona." Melly mempersilahkan. yang sudah berdiri di duduknya
Aira memandang ke kiri dan ke kanan namun tetap saja sosok yang dicari tidak terlihat. Ingin bertanya, namun malu. Pada akhirnya dia memilih untuk diam.
__ADS_1
***