
Setelah perdebatan dengan sang Paman akhirnya Devlan memutuskan untuk pulang hari ini. Begitu banyak permasalahan yang harus diselesaikannya. Walau bagaimanapun dia tidak bisa menganggap masalah ini masalah ringan, meskipun Leo sudah diamankan.
"Apa dia tidak pergi ke rumah sakit untuk praktek?" tanya Pram yang masih pemasaran dengan jati diri sang gadis. Meskipun yakin bahwa informasi yang diberikan detektif sewaannya benar, namun tetap ia masih tidak percaya. Begitu sulit untuk bisa percaya begitu saja, jika menilai bentuk fisik dokter cantik tersebut. Namun lagi-lagi ia ragu dengan penilaiannya sendiri. Tidak mungkin detektif yang di pakainya salah memberikan informasi. Wanita yang menjadi detektif itu tidak pernah lengah dan tidak pernah memberikan informasi yang salah untuknya. Ia juga sudah berulang kali memakai jasa sang wanita dan tidak pernah mengecewakan.
"Aira malam ini piket jadi berangkat jam 9 malam," jelas Devlan.
Mulut Pram membulat. "Bagaimana mungkin, gadis semuda dia sudah menjadi dokter?" Pria itu masih tidak percaya. Ia sangat tahu seperti apa kenakalan dan keusilan gadis remaja zaman sekarang. Jujur saja, Pram tidak ingin Devlan menjadi korban.
"Aira itu orangnya sangat cerdas paman. Umur 5 tahun dia sudah kelas 1 SD dan umur 17 tahun dia sudah tamat SMA. Menyelesaikan studi kedokteran 4 tahun dengan prestasi cumlaude dan menyelesaikan koas satu tahun setengah. Jadi umurnya sekarang, masih 22 tahun." Devlan dengan bangga menceritakan kecerdasaan sang gadis.
Pram mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Devlan. "Ternyata usianya 22 tahun aku kira dia itu masih gadis remaja, soalnya wajahnya imut-imut sekali."
Awalnya aku juga tidak percaya kalau dia itu dokter Paman. Namun dia sudah mengobatiku, yang terbukti apa yang dilakukannya hanya bisa dilakukan oleh seorang dokter. Dia itu selain cantik juga sangat pintar." Devlan tersenyum.
Pria itu kemudian mendekatkan bibirnya di daun telinga sang paman. "Aku menyukainya Paman," bisik Devlan. Devlan selalu jujur dengan Pram. Baginya sangat paman adalah ayah, ibu dan sahabat. Hingga tidak ada yang bisa dirahasiakannya dari adik mami nya itu. Setelah kepergian sang kedua orangtuanya, hanya Pram, satu-satunya keluarga yang selalu ada dan melindunginya.
Pram memandang wajah ponakannya yang sedang tersenyum malu-malu, setelah mengungkapkan isi hatinya. Jujur saja, ia ingin tertawa ngakak melihat ekspresi wajah ponakannya. Devlan begitu sangat lucu seperti seorang kucing Persia. Kening pria itu sedikit berkerut. Tanpa diberitahu pun sebenarnya ia sudah tahu. Mana mungkin Devlan betah berada di rumah yang sederhana seperti ini, kalau tidak ada hal yang membuat pria itu nyaman.
"Tapi dia sangat sulit untuk aku dekati paman. Tidak sama seperti gadis-gadis yang pada umumnya," curhat Devlan.
__ADS_1
Pram hanya diam dan memandang wajah tampan keponakannya yang sedang di mabuk asmara.
"Jika aku menikah duluan, paman tidak marah kan?" Devlan bertanya dengan serius. Untuk pertama kalinya, ia memiliki keinginan untuk menikahi seorang gadis. Selama ini yang diinginkannya hanya bersenang-senang semata.
"Tentu saja tidak, kalau kamu ingin menikahinya, segera lakukan." Pram menjawab pertanyaan Devlan dengan santai.
Devlan tertawa dan kemudian tersenyum mengejek sang paman. Aku tidak bisa membayangkan nasib paman yang menjadi kakek tapi tidak memiliki istri," ejeknya. Pria itu kemudian meringis ketika merasakan kepalanya yang terasa sakit karena di pukul sang paman. "Sakit Paman." Devlan mengusap kepalanya yang dipukul oleh pamannya.
"Mentertawakan orang tua berdosa," ucap Pram
"Aku berharap Paman akan tertarik untuk menikah, bila melihat aku hidup bahagia."
Devlan menelan air ludahnya ketika mendengar perkataan sarkas dari pamannya. Sampai sekarang jurus merayu, menggoda dan menggombal sang gadis, belum ampuh. Bahkan terlihat Aira sedikitpun tidak tergoda dengan rayuan mautnya.
"Ini yang dikirimkan oleh orang ku." Pram memberikan ponselnya.
Devlan memandang layar ponsel itu dengan mata yang terbuka lebar.
"Kamu tidak aman di sini, begitu juga dengan dia. Karena itu, aku ingin hari ini juga, tinggalkan tempat ini."
__ADS_1
Devlan yang memahami apa yang dikatakan pamannya, beranjak dari duduknya. Pria itu berjalan menuju ke kamar Aira. Diketuknya pintu kamar dengan pelan. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Dengan sangat hati-hati, ia mendorong pintu yang tidak tertutup rapat tersebut. Untuk melihat apa yang di lakukan sang gadis, Devlan mengintip ke dalam kamar dan melihat Aira sedang tertidur.
Agar tidak membuat gadis itu terbangun, pria itu melangkahkan kakinya dengan sangat pelan dan kemudian duduk di tepi tempat tidur. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat ketika menatap wajah cantik Aira yang saat ini sedang tertidur dengan lelap. Devlan sedang memikirkan untuk membangunkan gadis itu. Namun ada rasa tidak tega saat menganggu tidur sang pujaan hati.
Cukup lama dia dan memandang wajah cantik sang gadis, pria itu akhirnya memutuskan untuk membangunkan Aira, meskipun tidak tega. "Baby bangun." Devlan mengusap pipi mulus dan putih sang dokter yang sudah mengobrak abir hatinya.
Bukannya bangun, gadis itu justru merubah posisi tidurnya. Hal ini membuat Devlan menjadi gemas. Bahkan bibir kecil milik sang gadis, seakan menggodanya dengan sedikit maju ke depan. Bagaimana mungkin, gadis itu akan terlihat menggemaskan sekaligus menggoda padahal sedang tidur seperti ini.
Senyum mengembang di bibirnya ketika melihat Aira yang bergerak untuk membetulkan posisi tidurnya.
"Maaf ya baby, bila aku mencuri kecupan bibirmu." Devlan begitu sangat gemas memandang bibir kecil yang berwarna pink tersebut. Diciumnya bibir Aira dengan lembut dan kemudian pergi keluar dari kamar secara pelan-pelan.
"Paman, Aira tidur," ucapnya.
"Bangunkan," jawab Pram. Ia tidak bisa menangkap tiga orang pria yang tertangkap sedang memantau rumah dokter Aira. Saat Pram mengetahui hal itu, ketiga pria itu sudah pergi. Pram mengambil kesimpulan bahwa ketiga pria tersebut, orang suruhan dari Leo. namun tetap saja, ia tidak bisa lengah sedikitpun. Pram membaca pesan yang di kirim anak buahnya dan membuka sebuah video. pria itu tersenyum lebar saat melihat hasil dari pekerjaan anak buahnya
"Aku sudah mencoba tapi tidak mau. Paman tolong nyalakan mobil dan hidupkan ac-nya. Aku akan mengambil barang-barang ku dulu." Setelah mengatakan hal ini, Devlan pergi meninggalkan sang paman dan masuk ke dalam kamarnya. Pria itu bergantian pakai terlebih dahulu dan mengambil barang-barang miliknya yang tidak banyak.
Pram diam mendengar ucapan keponakannya. Apa Devlan akan meninggalkan Aira pikirnya. Tanpa bertanya lagi, Pram pergi ke keluar dari rumah. Ia menyalakan mesin mobil dan AC.
__ADS_1
***