Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 48


__ADS_3

Devlan dan Pram sama-sama keluar dari kamar mereka. Kedua pria itu dikejutkan dengan telepon yang masuk dari kantor polisi.


"Apa Paman menerima panggilan dari kantor polisi?" tanya Devlan. Pria berwajah tampan itu terlihat masih sangat mengantuk. Ketika menerima telepon tadi, pikirannya masih antara sadar dan tidak. Hingga apa yang di dengarnya seperti mimpi.


"Iya, aku juga mendapat telpon dari kantor polisi. Kedua pria itu sudah harus terbangun dan dikejutkan dengan panggilan telpon dari kantor polisi yang meminta agar mereka segera datang ke kantor polisi.


"Mengapa kita diminta ke kantor polisi paman? Aku sungguh tidak tahu, karena belum sempat bertanya. Apa lagi aku masih sangat mengantuk." Devlan menutup mulutnya yang menguap.


"Yang aku dengar tadi katanya Leo meninggal, tapi aku tidak yakin. Belum tentu juga yang menghubungi kita petugas kepolisian. Karena itu, kita ke kantor polisi sekarang untuk memastikan apakah telpon itu benar." Pram masih tidak percaya dengan panggilan telpon yang di terimanya. Oleh karena itu, ia harus memastikan secara langsung, apakah berita itu benar atau hanya hoak.


Devlan yang masih mengantuk terlihat bingung saat mendengar ucapan pamannya.


"Cepat ganti bajumu, kita langsung ke kantor polisi." Pram memberikan perintahnya.


Dengan sangat patuh, Devlan menganggukkan kepalanya dan mengikuti perintah dari pamannya. Pria itu hanya mengganti celana pendeknya dengan celana jeans dan kemudian memakai jaket kulit berwarna hitam. Setelah mengganti pakaian, Devlan keluar dari kamar.


"Paman aku sudah selesai . "Devan berdiri di depan Pram.


"Ayo berangkat," ajak Pram. Bisa saja pria itu meminta orang suruhannya untuk mengecek kebenaran informasi yang didapatnya, namun Pram ingin memastikan sendiri apakah informasi yang didapatnya dari kantor polisi itu benar atau tidak.


Kedua pria itu langsung pergi menuju ke kantor polisi di mana tempat Leo ditahan.

__ADS_1


"Apa berita yang kalian berikan kepada kami benar? Narapidana bernama Leo meninggal?" Pram bertanya kepada petugas yang sedang duduk di meja piket.


"Iya benar pak, sebaiknya anda langsung berbicara dengan Briptu Amri. Komandan sudah menunggu di ruangannya," jelas pria muda tersebut.


Pram menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki petugas polisi tersebut. Ia dan Devlan masuk ke dalam ruangan.


"Permisif komandan, pak Pram dan juga pak Delvan sudah datang." Pria berseragam coklat itu memberitahu komandannya.


"Masuk Pak Pram, pak Devlan dan silakan duduk." Pria bertubuh tegap itu mempersembahkan.


Pram dan Delvan duduk di kursi yang ada di depan Briptu Amri. Kedua pria itu masih terlihat tidak percaya dengan berita yang mereka dengar.


"Begini pak Pram dan pak Devlan, kami baru mengetahui kematian Leo 30 menit yang lalu. Awalnya petugas tidak tahu kalau dia sudah meninggal karena dikira masih tidur dan petugas membangunkannya. Namun setelah mencoba membangunkan berulang kali tidak ada respon. Pata akhirnya petugas memeriksa kondisinya. Ternyata Leo sudah tidak bernyawa." Briptu Amri menjelaskan.


"Apa dia sakit?" tanya Pram yang seakan tidak percaya dengan kematian Leo yang begitu mendadak.


"Kondisinya sangat baik, bahkan semalam saya masih berbicara dengannya. Hanya saja kami menemukan mayat wanita yang ditabrak kereta api. Mayat wanita itu baru ditemukan sekitar jam 06.00 sore dan prediksi kematiannya sekitar jam 03.00 sore. Mayatnya ditemukan oleh pemulung dan setelah pihak polisi melihat ke TKP, wanita itu ternyata bernama Ayu lestari yang merupakan istri Leo.


"Lokasi kematiannya di mana?" tanya pram.


"Sudah arah menuju ke pelabuhan merak."

__ADS_1


"Sejauh itu?" Pram mengerutkan keningnya.


"Iya pak Pram, sebelumnya ibu Ayu datang melihat suaminya di sini." Amri terus menjelaskan.


"Oh ternyata dia sudah tahu kalau suaminya ditahan?" tanya Delvan.


"Iya, hanya saja kami belum bisa memastikan penyebab kematian beliau. Untuk sementara, kami mengatakan ini adalah kasus bunuh diri. Karena tidak ada satu barang pun yang hilang, terkecuali ponsel. Dan bisa saja waktu ibu Ayu datang ke sini, beliau tidak membawa ponselnya." Briptu Amri menjelaskan, karena tidak ada petunjuk bahwa wanita itu di Rampok, atau mendapatkan tindakan kriminal yang lainnya. Apalagi Leo sempat memeriksa barang-barang milik istrinya dan pria itu tidak ada mengatakan bahwa ada barang yang hilang dari dalam tas berwarna hitam tersebut.


"Bunuh diri?" Devlan mengulang kata yang tadi didengarnya.


"Iya, untuk sementara kami mengatakan seperti itu, karena kita tidak memiliki petunjuk lain. Hal ini bisa saja terjadi mengingat kondisinya yang depresi. Semua harta disita oleh perusahaan dan suaminya pun ditahan karena kasus percobaan pembunuhan. Dari informasi yang kami dengar, ibu Ayu juga terlibat dengan arisan berlian, Tas mahal yang mana nominal arisan itu ratusan juta perbulan. Namun kami masih terus menyelidiki kasus ini," jelas Briptu Amri.


"Sekarang di mana mayat istrinya?" Pram bertanya.


Semalam jam 09.00 malam pihak keluarganya membawa mayat ke rumah orang tuanya.


"Bisa jelaskan apa yang terjadi dengan Leo?" Devlan bertanya setelah mendengar penjelasan Briptu Amri. Walau bagaimanapun, Leo pernah menjadi orang yang sangat dekat dengannya dan menjadi orang yang dipercayanya. Usia mereka yang sangat dekat, membuat hubungan mereka begitu akrab dan berteman baik.


"Untuk sementara kami belum bisa menentukan penyebab kematiannya. Berhubung tidak terjadinya kekerasan fisik terhadap Leo. Kami sudah mengintrogasi kelima narapidana yang satu kamar dengan Leo, namun tidak ada yang mengetahui penyebab pastinya. Yang mereka tahu semalam mereka tidur bersama dengan Leo dan mereka juga tidak tahu kalau mereka tidur dengan mayat selama semalaman. Saya melihat wajah mereka sangat terkejut ketika mengetahui hal itu. Dan di dalam kamar tidak ada terdapat benda-benda yang dipakai untuk membunuh atau mencelakai Leo. Lagi pula mereka baru kenal tidak mungkin ada permasalahan dengan mereka. Namun ini semua hanya praduga untuk sementara karena penyelidikan masih berlanjut. Untuk hasil lebih lengkap, akan segera di dapatkan setelah mayat selesai di otopsi." Amri menjelaskan. Dalam penyelidikan memang tidak bisa terburu-buru untuk mengambil kesimpulan namun sampai detik ini belum ditemukan petunjuk ataupun hal yang mencurigakan terhadap kematian salah satu narapidana tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2