Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 11


__ADS_3

"Ini kunci mobil mu, aku akan kembali ke Indonesia." Pram memberikan kunci mobil McLaren MP4/4 kepada rekannya. Pria berusia 40 tahun itu, masih menikmati hidup bebas tanpa istri dan menekuni hobi balapnya hingga ke manca Nagara. Mungkin sudah saatnya ia harus kembali ke perusahaan dan membantu sang keponakan.


"Kenapa, jam 10 ini kita akan melawan Jek?" Mex terkejut saat mendengar apa yang dikatakan rekannya.


"Ada masalah, aku sudah memesan tiket pesawat. Jam 9 ini, pesawat ku akan berangkat," jelas Pram.


"Mengapa harus terburu-buru seperti ini Pram. Ayolah Pram, apa kau akan melewati kesempatan mengemudikan mobil balap terbaik di dunia. McLaren MP4/4, bahkan terdaftar di urutan pertama pada daftar mobil balap terkeren di dunia," bujuk Max. Pria bermata kecil itu, mencoba membujuk sahabatnya.


"Aku tertarik, namun tidak sekarang. Saat ini urusanku lebih penting." Pram berkata sambil mengikat rambutnya yang panjang leher kebelakang.


Max sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, impian meraih uang 100 ribu dollar dalam semalam, lenyap sudah.


"Aku minta kau untuk atur semuanya. Barang yang akan kita jual, ada di dalam kamar ku. Aku percaya padamu. Ingat kerjakan misi ini sebaik-baiknya, aku tidak ingin ada kata gagal." Pria berwajah tampan itu, merapatkan jaket kulitnya dan menaikkan resleting jaket hingga sampai batas dada. Pram menyukai tantangan. Karena itu dia tidak tertarik untuk duduk manis di kantor untuk pekerjaan yang menyita waktu dan membuat kepala pusing. Namun karena kondisi keponakannya yang sudah mulai terancam, membuat pria itu memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Walau bagaimanapun hanya dia, satu-satunya keluarga dekat Devlan yang tersisa.


Max sudah tidak berkata apa-apa lagi pria itu hanya diam ketika melihat Pram mengambil tas ranselnya dan pergi setelah meletakkan tas ransel itu di belakang punggungnya.


***


Leo mencoba menenangkan hati dan perasaannya. kini ia harus berpikir dengan jernih tanpa mengandalkan emosi. Andai saja peristiwa itu tidak terjadi di tempat padat penduduk sudah pasti anak buahnya akan menembak Devlan. Namun karena takut akan menimbulkan keributan di tengah masyarakat, maka mereka hanya mengandalkan kekuatan fisik dan senjata tajam untuk menghabisi Devlan. Namun ternyata pria itu begitu sangat tangguh, empat orang anak buahnya mampu dikalahkan Devlan meskipun pria itu terluka.


"Andai saja aku datang lebih cepat di tempat kejadian, dia pasti tidak akan lolos." Leo kesal dan menendang udara. Jika tidak karena Devlan memintanya untuk mengantarkan relasi bisnis ke hotel, rencana yang sudah di persiapkan 6 bulan yang lalu, tidak akan berantakan seperti ini.


"Selagi dia belum ditemukan itu artinya aku aman. Aku yakin saat ini dia sudah mati." Pria itu berkata setelah berpikir secara logika. Tidak mungkin Devlan masih hidup, bila kondisinya sudah terluka parah. Pria itu sudah pasti akan mati karena kehabisan darah. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, Leo yakin bahwa Devlan tidak bersembunyi di rumah dokter yang mereka curigai.


Senyum mereka di wajahnya, ketika mengingat hari ini dia yang akan menggantikan jabatan Devlan.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu ingin memakai dasi yang ini." Wanita yang bernama Ayu itu menunjukkan dasi belang-belang dengan motif biru hitam.


"Bagaimana sayang, apa menurutmu dasi ini cocok untukku?" Leo balik bertanya. Pagi ini, ia ingin terlihat tampan dan gagah, ketika memimpin rapat dengan komisi tertinggi dan pemilik saham di perusahaan milik Devlan. Sebagai orang kepercayaan, dia berhak mengantikan jabatan Devlan selama menghilang.


"Tentu sayang." Ayu yang merupakan istri Leo tersenyum.


"Sungguh sangat cocok," jawab Ayu dengan tersenyum manis. Wanita itu sangat bangga memiliki suami seperti Leo. Pria cerdas dan pekerja keras.


Leo membiarkan istrinya memasangkan dasi di lehernya. Ia sudah tidak sabar untuk menceritakan bahwa sebentar lagi, dirinya yang akan menjadi direktur utama di perusahaan terbesar di Asia yang bergerak di bidang migas dan industri kelapa sawit. Jika seandainya Leo mampu menguasai bisnis ilegal yang dimiliki Devlan, sudah pasti ia akan semakin kuat dan berkuasa.


"Sayang bagaimana dengan kalung dan cincin berlian yang aku minta? Aku benar-benar sangat menginginkannya." Ayu sedikit merengek. Harga kalung dan berlian yang diinginkannya begitu sangat mahal dan tidak mudah untuk suaminya memberikannya. Namun wanita itu tetap begitu sangat mendambakan perhiasan yang menjadi impiannya.


"Aku akan membelikannya untukmu sayang, jangankan kalung dan cincin, aku akan memberikan beserta tokonya." Leo berkata dengan penuh keyakinan.


***


Depan berbaring di atas tempat tidur. Senyum mengembang di bibirnya ketika melihat dokter cantik itu sedang memeriksa kondisi tubuhnya.


"Perutku masih terasa begitu sangat sakit dan juga nyeri. Begitu juga dengan dadaku." Pria itu berkata dengan manja.


"Yang namanya luka sobekan dan juga luka ditusuk, pasti rasanya sangat sakit dan juga nyeri. Namun aku akan memberikan obat penghilang rasa sakit." Aira menjelaskan sambil memasukkan cairan obat lewat infus.


Devlan hanya tersenyum ketika mendengar penuturan dari gadis berwajah cantik tersebut. Melihat mata gadis itu saja, sudah membuat hatinya terasa tenang dan juga nyaman. "Apa kamu tahu baby semalam mataku tidak bisa tertidur," curhatnya.


"Apa karena kondisi kamarmu begitu sangat panas?" tanya Aira.

__ADS_1


Devlan tertawa kecil dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Bukan karena itu saja, namun karena aku selalu memikirkanmu," gombalnya.


Aira hanya dia mm memandang pria yang kini sudah terlihat lebih segar daripada semalam. "Aku akan membuatkan sarapan untukmu," ucapnya. Melihat sikap Devlan yang seperti ini, membuatnya tidak ingin memupuk rasa di hatinya. Baginya apa yang terjadi hanya murni sebatas hubungan dokter dan juga pasien.


"Baby, apa aku boleh ikut ke dapur bersama denganmu?"


"Bila mampu berjalan silakan," jawab Aira.


"Aku mampu, kamu lihat sendiri, aku bisa berjalan, dan berdiri. Jadi jangan meremehkanku. Jika kamu meminta untuk digendong hingga ke dapur, aku bisa." Devlan tersenyum.


Aira menarik napas panjang. Bukan kehadiran Devlan di dapur yang membuatnya tidak nyaman, namun belai si pria yang membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. "Boleh, tapi kamu harus pakai ini dulu." Aira menunjukkan celana berbentuk segitiga berwarna pink. Semalam pria itu tidak mau memakainya dengan banyak alasan dan pagi ini Aira tetap memaksa dan memakaikannya.


"Tapi baby senjataku tidak nyaman dengan ini."


"Bila tidak pakai ini, senjata air akan liar." Aira tidak memperdulikan ucapan Devlan. wanita itu dengan cepat memasangkan celana berbentuk segitiga untuk si pria.


Devlan hanya bisa pasrah ketika diberi celana berwarna pink dan daster.


"Nanti setelah sarapan aku akan keluar, untuk membelikan pakaian dan ikan gabus. Apa kamu ingin aku menghubungi polisi?" Aira kembali menawarkan.


"Jangan beby, aku sudah berniat untuk menyelesaikan permasalahan ini sendiri. Walau bagaimanapun aku ingin menyelesaikannya hingga ke akar-akarnya. Bila polisi ikut campur, maka apa yang ingin ku selesaikan, tidak akan terselesaikan dengan baik."


Aira sungguh tidak mengerti seperti apa kehidupan si pria. Namun ia hanya mencoba untuk memahami dengan apa yang disampaikan Devlan.


***

__ADS_1


__ADS_2