Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 22


__ADS_3

Pram masih diam dengan mulut yang sedikit terbuka. Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam kepalanya dan tidak sabar ingin menunggu jawaban dari semua pertanyaan tersebut.


"Bagaimana dengan Leo, paman?" Devlan bertanya sambil memandang wajah pamannya yang masih bengong.


"Dokter Aira itu yang mana?" Pram bertanya dengan rasa penasarannya.


"Ya itu Aira." Devlan memandang ke arah kamar yang tadi di masukin Aira.


"Cuma dia bohongin aku Paman. Ngakunya nama dia Airin." Devlan sedikit tersenyum. Kebohongan yang dilakukan Aira kepadanya tidak membuat pria itu marah, karena dia juga melakukan hal yang sama. Apa yang mereka lakukan, membuat dirinya jadi senyum-senyum sendiri dan merasa lucu.


"Jangan bercanda kamu." Pram memukul lengan keponakannya dengan keras.


"Aduh sakit paman . "Devlan meringis menahan rasa sakit karena pukulan Pram yang tepat sasaran di bagian lukanya.


"Maaf, aku tidak tahu bagian tubuhmu yang terluka." Pram tersenyum canggung.


"Kalau seperti ini, aku akan meminta agar Aira merawat ku lebih lama." Devlan merasakan nyeri di lengannya.


"Tidak bisa, kamu harus pulang. Apa benar dia itu dokter?" Pram kembali bertanya.


"Iya paman, Aira dokter bukan dukun beranak." Devlan kesal. Setelah memukul tangannya dengan tenaga full, sang paman terlihat cuek dan memperlihatkan wajah tanpa dosa.


"Dia, gadis kecil itu dokter?" Pram menunjuk ke arah kamar. Rasa tidak percaya, membuat pria itu kehilangan aura wibawanya.


Devlan capek menjawab dan memilih untuk memandang ke arah yang lain.

__ADS_1


"Hai anak nakal, pamanmu ini bertanya." Pram meninju perut keponakannya.


"Auw sakit paman." Devlan menahan rasa sakit di perutnya. Entah mimpi apa dia semalam, hingga apes seperti ini.


"Seharusnya kau memberi tanda silang di tempat yang sakit." Pram memberikan usulannya.


Devlan hanya diam dan memilih untuk duduk di lantai yang beralas karpet permadani. Ia harus menghindari serangan brutal dari sang paman.


"Dev, kamu belum menjawab pertanyaan dari paman mu ini," desak Pram.


"Dari tadi aku sudah jawab, tapi paman tidak percaya. Jadi aku harus berkata apa lagi." Devlan berkata dengan kesal.


"Apa kau ini bodoh. Bagaimana mungkin kau bisa percaya dengan anak SMA yang mengaku jadi dokter. Percuma saja gelar mu magister, jika kau dengan mudah diKadali anak SMA. Aku harus membawa mu ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan intensif." Pram tidak bisa menutupi rasa takut dan cemasnya. Ia sungguh sangat menyayangi Devlan dan tidak ingin hal buruk terjadi terhadap keponakannya.


"Tidak perlu paman, kondisiku sudah sangat baik." Devlan menolak. Wajar bila sang paman tidak percaya, Karena Aira memang seperti gadis berusia 17an.


Devlan hanya diam.


"Sekarang kita pulang." Pria itu mengajak ponakannya seperti mengajak seorang bocah yang bermain ke rumah tetangga.


"Aku gak mau, aku masih mau di sini." Devlan menolak.


"Aku tidak bisa meninggalkan kamu di sini. Aku harus membawa mu ke rumah sakit dan memeriksa kondisi mu. Aku tidak ingin terjadi hal buruk dengan mu. Apa nanti yang harus aku katakan kepada ibu mu." Pria itu tidak seperti om yang sedang cemas. Namun lebih mirip seperti mak-mak yang sedang mengomeli anaknya.


"Tidak paman, lihatlah kondisi ku sangat baik. Lagipula, mami tidak akan mungkin bertanya kepada paman. Jika memang ingin bertanya, mami pasti akan langsung bertanya kepada ku. Jadi paman jangan khawatir, aku akan menjawabnya." Devlan tetap menolak. Tidak mungkin Aira berbohong. Sedangkan semua warga di sini tahu bahwa gadis itu dokter. Itu artinya, Aira bukan dokter gadungan. Namun mendengar ucapan provokator dari sang paman membuat dirinya mulai ragu.

__ADS_1


"Anak nakal seperti mu, tidak akan bisa menjawab pertanyaan mami mu dengan baik. Yang ada, mami akan semakin pusing saat mendengar jawaban mu." Pram tersenyum sinis memandang Devlan.


"Paman tidak bisa tinggal diam, aku nakal seperti ini karena mewarisi sifat paman. Jadi paman yang harus bertanggung jawab. Aku yakin, mami pasti akan memarahi paman selaku yang paling tua." Devlan melemparkan kesalahan kepada pamannya. Mereka berdua berbicara, seakan wanita yang menjadi mami Devlan masih hidup.


Suasana ribut di ruangan tamu oleh perdebatan paman dan keponakan itu, hening seketika. Seakan mereka sama-sama bernostalgia dengan kenangan masa lalu.


"Paman, aku rindu mami, menurut mu, mami sedang apa sekarang.


"Tentu saja bermesraan dengan papi mu," jawab Pram. Seperti inilah jawaban yang selalu diberikannya untuk menenangkan hati keponakannya. Pria itu, begitu merindukan kakak yang begitu sangat baik dan menyayanginya.


Devlan diam merasakan kerinduan yang tidak akan pernah bisa bisa terlepaskan. Bayangan masa kecilnya yang begitu sangat indah dan bahagia kini bermain dalam ingatannya.


"Ayo cepat, aku bisa tenang bila kamu sudah di periksa di rumah sakit dan ditangani dokter yang profesional. Bukan gadis SMA yang ngaku menjadi dokter." Pram memandang Devlan.


Sejak Devlan berusia 12 tahun, ia sudah kehilangan kedua orangtuanya. Yang mana mobil yang dikemudikan papi Devlan di rampok dan pasangan suami istri itu di bunuh setelah mengambil harta berharga. Saat itu, Pram berusia 20 tahun. Setelah kepergian kakak dan Abang iparnya, Pram yang merawat dan menjaga sang keponakan. Meskipun semua pelaku sudah di habisnya, namun sampai saat ini, pelaku utama belum diketahuinya.


Devlan menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan-lahan.


Disaat kedua pria itu sibuk berdebat, mereka tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka bicarakan di dengar oleh Aira.


Dengan sengaja Aira sedikit membuka pintu, agar dapat mendengar obrolan kedua pria tersebut. Ada rasa kesal saat mendengar perdebatan antara Devlan dan pamannya. Diragukan sebagai dokter, dianggap sebagai anak SMA yang mengaku dokter. Sungguh membuat Aira kesal. Setelah mendengar perdebatan tadi, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Semakin menguping pembicaraan Devlan dan pamannya, membuat ia semakin kesal. Mana mungkin pria itu bisa hidup bila dia mengobati dengan asal dan main-main.


"Pantas saja, hampir semua pasien menolak menjadi pasien aku. Mereka tidak yakin dengan kemampuan aku." Aira sangat ingat saat pasien banyak yang menuduh dirinya sebagai siswa SMK kesehatan yang magang di rumah sakit.


Tidak hanya satu kali, ia menghadapi kemarahan keluarga pasien yang di tanganinya. Keluarga pasien dengan sangat tegas menolaknya dan meminta untuk di ganti dokter yang sudah berpengalaman.

__ADS_1


"Apa aku kuliah lagi aja ya, ambil spesialis, tapi biayanya besar dan aku belum punya tabungan. Lagian nanti pasien pasti gak percaya lagi. Masak iya umur 26 atau 27 tahun sudah jadi dokter spesialis." Aira semakin pusing dengan pikirannya sendiri.


***


__ADS_2