
Devlan berlari memasuki koridor rumah sakit. Langkah kakinya terhenti saat melihat Aira berbicara dengan dokter Vandra. Melihat ini dadanya panas dan bahkan kakinya gemetar menahan rasa marah.
"Aku tidak akan memberikan dia mendekati gadis ku. Dasar playboy kesepian," geram Devlan. Dengan cepat ia berjalan ke arah mendekati Aira.
Aira terkejut saat merasakan tangan yang menjalar di pinggang langsingnya. Matanya tidak berkedip ketika melihat pemilik tangan besar nan Koko tersebut.
"Maaf Beby, hari ini aku sibuk jadi tidak sempat menghubungi mu." Devlan tersenyum dan mencium kening Aira.
Aira masih melongo menatap Devlan.
Devlan senang melihat ekspresi wajah Aira yang begitu sangat menggemaskan ketika menatapnya. Dalam hitungan detik, ia lupa janji. Diciumnya bibir Aira dengan lembut.
Aira yang masih belum menyempurnakan cara kerja otaknya hanya diam bahkan menikmati rasa lembut dan empuk bibir milik Daffin. Dengan bodohnya melupakan dirinya berada di tempat umum. Tanpa disadarinya kini semua mata tertuju kepadanya. Ya setiap kali Devlan datang ke rumah sakit ini, pria itu akan menjadi pusat perhatian. ..
Devlan melepaskan bibir Aira ketika mengingat janji yang pernah dikatakannya. "Mengapa aku bisa mendadak pikun hingga lupa janjiku." Devlan memakai dirinya sendiri.
__ADS_1
Vandra yang melihat adegan mesra di depan matanya hanya bisa diam dan merasakan jantungnya yang berdetak dengan cepat ketika menahan rasa sakit dan juga cemburu yang menggerogoti hatinya.
Aira salah tingkah dan canggung ketika kesadarannya baru terkumpul sempurna. Wajah cantiknya bersemu merah saat menyadari semua mata tertuju kepadanya. Pada akhirnya ia hanya menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa malunya.
"Baru pulang ya?" Devlan tersenyum dan mengusap kepala Aira.
"Iya," jawab Aira yang hanya menundukkan kepalanya. Rasanya begitu sangat malu untuk menatap wajah Devlan.
"Mau langsung pulang atau kita makan dulu?" Devlan tersenyum tipis saat melihat sikap malu-malu Aira.
"Terserah aja." Gadis itu tampak pasrah dengan apapun keputusan yang diambil oleh Devlan.
"Boleh," jawab Aira dengan sangat pelan. Ia sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat ini. Rasanya sungguh sangat malu dan tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Iya sudah ayo." Devlan memegang tangan Aira. Tanpa permisi pria itu pergi sambil menggandeng dokter cantik tersebut.
__ADS_1
"Dokter Vandra, Saya permisi." Aira berkata dengan sopan dan kemudian pergi meninggalkan atasannya itu.
Dokter Vandra semakin kesal ketika melihat Melly yang tertawa kecil memandangnya. Tampak jelas bahwa wanita cantik itu sedang menertawakan nasibnya. Bagaimana mungkin seorang Vandra, pria tampan, gagah dan menjadi idola semua wanita mendapatkan perlakuan seperti ini. "Aku belum bisa dikatakan Playboy sejati jika tidak bisa mendapatkan cewek galak itu," batinnya. Entah kenapa pria itu tertantang untuk menaklukkan hati sang bodyguard.
***
Pram berada di dalam ruang kerjanya. Otaknya terus saja berpikir dengan tulisan yang ditinggalkan Leo. Kematian Ayu yang dinilainya tidak wajar. Pram begitu sangat paham seperti apa permainan penjahat yang sudah membunuh kakak dan Abang iparnya itu. Musuhnya itu sangat kejam dan licik. Untuk menyelamatkan diri, dengan tega menghabisi semua nyawa orang suruhannya. Bahkan istri serta anak yang tidak berdosa sekalipun. Baginya sudah membayar orang suruhannya dengan harga yang mahal, itu artinya nyawa mereka serta keluarganya sudah di beli atau di bayar.
"Jika benar kecurangan aku selama ini, itu artinya musuh yang selama ini aku cari, adalah orang yang begitu dekat dengan keluarga ini." Pram tidak bisa lengah lagi setelah ini.
"Iya halo." Pram berkata saat mengangkat sambungan telepon dari orang suruhannya.
"Pak Pram, saya sudah mendapatkan informasi yang bapak inginkan. Bapak bisa membuka email yang saya kirimkan." Si penelpon langsung memberi tahu.
"Baiklah," jawab Pram yang langsung memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1
Pram membuka email lewat laptopnya. Pria itu mulai membaca setiap informasi yang diberikan oleh orang suruhannya. Ekspresi wajahnya sudah tidak bisa diartikan dengan kata-kata. Namun kilatan dendam terlihat jelas dari sorot matanya. "Kau salah mencari lawan Burhan. Aku tidak akan pernah melepaskan mu, ingat itu. Kakak, Abang, aku akan membalaskan semua perbuatan keji yang di lakukan orang itu kepada kalian. Si penghianat itu harus membayar semuanya." Pram baru mengetahui ternyata Burhan anak yang lahir dari hasil perselingkuhan. Karena ibu dari papi Devlan hamil setelah 2 bulan kemudian suaminya. " Senyum iblis itu tercetak jelas di wajahnya yang tampan.
***