Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 55


__ADS_3

Pram masih mempertimbangkan apakah memberi tahu Devlan tentang hal ini atau tidak. Namun jika tidak memberi tahu, maka Devlan tidak akan tahu siapa yang menjadi musuhnya. Benar apa yang dikatakan pepatah, musuh yang terlihat jelas, lebih mudah di hadapi dari pada musuh yang berasal dari keluarga sendiri. Keberadaannya bagaikan duri di dalam daging.


Setelah berpikir cukup lama, Pram menutup layar laptop nya dan pergi meninggalkan kamar. Ia berencana untuk untuk membuat secangkir kopi.


Pram berjalan ke dapur dengan langkah ringan. Kondisi mansion ini begitu sepi karena para pelayan yang sudah beristirahat.


Pran terkejut dan merasakan jantungnya yang seakan mau lepas saat melihat sosok wanita yang muncul dari dalam kulkas dua pintu yang tinggi.


"Paman." Melly tersenyum manis memandang Pram.


"Anak kurang ajar, hampir saja aku mati karena serangan jantung. Apa kamu tidak bisa berlaku normal seperti para gadis pada umumnya. Apa yang kau lakukan didalam kulkas." Pram marah dan kesal karena ulah Melly. Gadis cantik itu memiliki kebiasaan yang aneh dan Pram sangat mengetahui hal itu.


"Haha... Ha.. ha... Apa kata dunia jika paman mati hanya karena melihat seorang bidadari." Melly tertawa kecil.


Pram kesal melihat wajah tanpa dosa si gadis. Akhirnya ia hanya menarik napas pelan dan duduk di kursi bar.


"Paman mau apa ke dapur?" Tanya Melly dengan sedikit tersenyum.


"Aku ingin minum kopi," jawab Pram.


"Paman mau minum kopi apa?


Kopi gula aren, kopi susu, atau?"


"Kopi biasa saja," jawab Pram.

__ADS_1


Melly membulatkan jarinya. Gadis itu menyalakan kompor listrik dan merebus air. Menurutnya, rasa kopi akan semakin nikmat jika memakai air yang direbus hingga menggelegak. Melly memang memiliki kemampuan di segala bidang, termasuk membuat kopi ala barista terlatih.


Pram hanya diam saat melihat tangan gadis itu meracik kopi untuknya. Aroma kopi yang sangat wangi terhirup di indra penciumannya.


"Ini paman." Melly tersenyum dan meletakkan secangkir kopi di depan Pram. Sedangkan untuk dirinya sendiri, Melly membuat minuman coklat hangat karena menghindari mengkonsumsi kopi disaat malam seperti ini.


Pram hanya menganggukkan kepalanya dan menyeruput kopi secara perlahan-lahan. Kopi ini sungguh sangat nikmat dan terasa pas di lidahnya.


"Bagaimana dengan pekerjaan mu?" Pram memandang Melly dan meletakkan cangkir kopinya di atas meja.


"Sejauh ini tidak ada masalah. Hanya saja, lokasi rumah sakit tempat nona bekerja cukup jauh dari mansion, jadi menurut saya, cukup berbahaya." Melly menyampaikan kecemasannya. Jika hanya dirinya yang menjadi pengawal Aira, tidak akan menjamin keselamatan calon nona mudanya. Meskipun Melly mampu menghadapi 10 pria sekaligus. Namun jika dalam keadaan seperti itu dirinya pun tidak bisa memastikan bahwa nona mudanya akan selamat.


Pram menganggukkan kepalanya nanti aku akan membahas masalah ini dengan devlan. Apa ada hal yang mencurigakan yang kamu lihat selama kamu bekerja.


Apa tanya pram.


Tuan devlan belum mampu meluluhkan hati dokter Aira Melly meletakkan tangannya di pipih sambil sedikit berbisik ke arah Pram.


Dengar ucapan dari pengawal pribadi wanita itu Bram tertawa.


"Aku ingin kamu bekerja serius dan jangan sampai lalai raut wajahnya kembali berubah serius ketika mengucapkan perintahnya.


"Paman tidak perlu mencemaskan itu jawab meli dengan yakin. Namun aku membutuhkan empat orang pengawal laki-laki yang mana pengawal itu akan berjaga di belakang mobil kami. Entah mengapa beberapa hari ini aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Apalagi jarak rumah sakit dengan mansion cukup jauh.


Tidak masalah aku akan memilihkan empat orang pengawal dengan kemampuan terbaik. Atau apa kau ingin merekam sendiri.

__ADS_1


"Aku akan rekomendasikan sendiri," jawab Melly. Ia lebih tahu siapa yang pantas untuk menjadi rekan kerjanya.


"Baiklah, aku serahkan semua kepadamu." Pram beranjak dari duduknya dengan membawa cangkir yang berisi kopi.


"Baik paman," jawab Melly.


"Ikut ke ruangan kerja ku sekarang." Pram menoleh ke belakang dan memandang Melly.


"Apa Paman berniat untuk memperkosaku?" Melly itu memandang Pram dengan mata yang terbuka lebar.


"Kau kira aku ingin cari mati sehingga sanggup untuk memperkosa wanita seperti mu." Pram memandang Melly dengan mengerutkan keningnya.


Melly tertawa kecil ketika mendengar ucapan Pram. Gadis itu kemudian mengikuti Pram dari belakang.


"Ada apa Paman?" Melly bertanya ketika sudah duduk di kursi yang berada di depan Pram.


"Lihat ini." Pram membuka laptopnya dan melihatkan informasi yang didapatnya dari orang suruhannya.


"Dia sangat pintar paman. Ternyata firasat aku tenang paman Burhan, benar. Dia bukanlah orang yang baik. Dia seorang psikopat yang begitu sangat pandai menyembunyikan jati dirinya." Melly memiliki insting yang tinggi. Sebagai seorang pengawal khusus, ia bisa membaca karakter seseorang hanya dari tatapan mata dan gerak tubuh.


"Aku akan terus mencari bukti kejahatannya dan kamu tingkatkan lagi penjagaan terhadap Aira. Aku yakin, dia pasti menginginkan Aira. Dia sangat tidak ingin jika Devlan menikah dan memiliki keturunan, karena itu akan semakin membuatnya sulit untuk mendapatkan apa yang dia mau."


Melly yang memahami tujuan dan perkataan Pram, menganggukkan kepalanya. "Apa dia juga yang sudah membunuh ayah dan ibuku?" tanya Melly.


***

__ADS_1


__ADS_2