Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 57


__ADS_3

Devlan duduk di meja kerjanya. Tatapan pria itu fokus ke layar komputer. Dibacanya kalimat yang tercetak hitam kemudian menghafalkannya. Setelah hafal, pria itu mencari yang lainnya.


Pram yang baru saja masuk ke dalam ruangan Delvan, hanya diam dan duduk di kursi yang berada di depan keponakannya. Namun sepertinya keberadaannya tidak disadari oleh Devlan.


"Tahu gak bedanya kamu dengan gitar? Ini kemarin sudah, masak ini lagi. Nanti Aira malah bilang aku gak kreatif." Devlan berkata ketika membaca kalimat gombal di sebuah situs. Ya seperti ini yang dilaksanakannya, jika stok gombal yang dapatnya dari beberapa situs sudah habis untuk membuat pipi dokter cantik itu memerah. Devlan bukan tipe pria yang pintar menggombal jadi karena itu, Ia harus mencari di situs seperti ini.


Pram hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah keponakannya. "Apa kamu sudah membaca isi berkas yang aku berikan?" Pram bertanya dengan tangan terlipat di atas meja.


Devlan yang tadi fokus dengan layar komputer, mengangkat kepalanya dan terkejut ketika memandang Pram yang duduk di depannya.


"Apa sudah kamu baca isi berkas yang aku berikan?" Pram mengulang ucapannya.


"Belum," jawab Devlan. Sejak tadi, tak ada satupun pekerjaan yang dikerjakannya. Pikirannya sedang kalut dan hanya memikirkan Aira saja.


"Ada apa?" Pram bertanya saat memandang wajah keponakannya.


"Aku gak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan Aira paman. Dia begitu sulit untuk bisa aku dapatkan. Rasanya, kesabaranku semakin tipis saja." Devlan menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Apa kamu sudah memintanya secara baik-baik?" Tanya Pram.


Devlan menggunakan kepalanya.


Pram diam sejenak sambil terus berpikir. Jika diminta pendapatnya, tentu ia tidak bisa memberikan pendapat ataupun tips dalam mendekati wanita. Karena sang keponakan sudah sangat terlatih dan mahir dalam urusan wanita. Berbeda dengan Pram yang begitu sangat buta jika berurusan dengan kaum hawa. Bahkan pria itu sampai lupa kapan terakhir jatuh cinta.


Devlan diam dan sabar menunggu ide dari pamannya.


"Paksa," jawab Pram.

__ADS_1


Mata Devlan terbuka lebar dan pikiran sudah dipenuhi dengan cara kotor namun begitu sangat menyenangkan.


Pram menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat ekspresi wajah Devlan. "Jika kau lakukan itu, dia akan membencimu dan pergi dari mu. Ingat, Aira gadis yang baik, cerdas dan berpendidikan. Jadi otak kotor mu itu, bersihkan dulu jika ingin mendapatkan dia."


Devlan tersenyum nyengir saat pamannya berhasil membaca isi kepalanya. "Jadi aku harus memaksa seperti apa maksud paman?" Tangannya dengan frustasi. Apa yang dikatakan pamannya benar, jika dia memperkosa Aira, gadis itu akan membencinya dan kemudian pergi. Hampir saja ia sesat jika sang paman tidak menegurnya.


"Paksa agar dia mau menikah dengan mu."


Devlan tersenyum saat ide itu muncul di benak kepalanya. "Baik paman, terimakasih atas ide dari mu. Aku pergi dulu dan semua pekerja aku serahkan kepada mu."


"Hai tidak bisa begitu." Pram protes namun Devlan sudah lari keluar ruangan. Pram hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskan secara berlahan.


***


Burhan berada di dalam ruang kerjanya bersama dengan istri dan juga putri sulungnya Selina. Ruang kerja ini berada di lantai 3, kedap suara dan bebas dari cctv. Sehingga tidak akan ada yang mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam dan tidak akan ada yang bisa mendapatkan berbagai bukti kejahatannya dari hasil rekaman cctv yang sengaja di retas.


Burhan tertawa ketika mendengar ucapan istrinya. "Apa kamu ragu seperti apa pekerjaanku, sayang?" Pria itu berkata dengan tersenyum.


"Ya sih mas, aku tahu kamu selalu mengerjakan semuanya dengan rapi." Erni sebenarnya tidak perlu ragu terhadap kecerdasan suaminya. Peristiwa yang terjadi sekitar 20 tahun saja, tidak pernah terungkap. Tidak hanya 1 kali Burhan melakukan kejahatan besar seperti pembantaian. Bahwa membantai seluruh keluarga korban hingga sampai ke anak bayi sekalipun. Dan semua itu di lakukan dengan rapi dan bersih sehingga tidak ada bukti sedikitpun. Hingga sampai sekarang mereka bisa bebas dan terus tertawa seperti saat ini.


"Sedikit lagi rencana kita berhasil namun lagi-lagi dia menggagalkan semuanya. "Burhan begitu sangat marah terhadap Pram, karena kedatangannya menggagalkan rencana yang sudah diaturnya sekian lama. Bersyukur ia bergerak cepat untuk melenyapkan Leo beserta istrinya.


"Jika Pram menjadi penghalang untuk melenyapkan Devlan, seharusnya dia yang harus kita singkirkan lebih dulu." Selina geram terhadap Pram. Ia Sudah tidak sabar untuk segera menguasai kekayaan keluarga Devlan. Jika sudah berhasil menguasai seluruh kekayaan Devlan, Selina akan berhenti menjadi artis dan hanya duduk santai untuk menikmati hidup mewah.


"Apa kamu mau melakukannya?


Papi yakin ini cara yang paling bagus." Burhan menatap wajah cantik putri sulungnya.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Selina.


Burhan diam dan terlihat ragu.


"Ada apa mas, katakan saja," ucap Erni.


"Aku yakin, Selina akan gagal," jawab Burhan yang tidak yakin dengan keberhasilan ide yang dia punya.


Selina tertawa ketika mendengar ucapan papanya. "Papi meragukan ku?" Wanita cantik itu tersenyum dengan mengangkat sudut bibirnya sebelah kanan.


"Tentu," jawab Burhan singkat.


"Katakan apa yang ingin papi perintahkan?" Selina bertanya dan menantang.


"Aku ingin kamu merayu Pram. Kapan perlu perlu kamu rayu dia agar mau tidur di atas ranjang. Berikan dia kenikmatan dan manjakan dia dengan cinta. Yakin dia bahwa kamu sangat mencintainya. Disaat dia lengah, kita habisi semuanya." Karena Alasan ini, Burhan meminta Selina untuk kembali ke Indonesia. Ia berharap sang putri mau melakukan pekerjaan yang menjijikan dan hina seperti ini.


Erni memandang putrinya dan berharap sang Putri mau menyetujui ide gila dari suaminya. Sudah banyak cara yang mereka lakukan namun semuanya gagal dan ia berharap ini adalah cara yang paling efektif untuk menyelesaikan semua perjuangan mereka.


Selina tertawa saat mendengar ucapan papinya. Ide ini sudah ada di dalam pikirannya, namun tidak yakin untuk menyampaikan kepada Burhan.


"Papi tidak sedang bercanda Selina." Burhan menatap Selina.


"Aku juga tidak bercanda Pi, aku tidak keberatan untuk merayu perjaka tua itu. aku juga ingin tahu, apakah dia pria normal atau tidak." Selina tertawa lepas.


Burhan dan Erni tersenyum lega saat mendengar jawaban sang putri.


Tapi ingat, kamu tidak boleh jatuh cinta kepadanya apa lagi kalau sampai hamil."

__ADS_1


***


__ADS_2