Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 25


__ADS_3

"Halo baby kamu sudah bangun." Senyum yang melengkung di bibir yang sedikit tebal dan penuh itu perlahan-lahan mulai hilang ketika melihat Aira menatapnya dengan penuh kemarahan.


"Baby aku akan menjelaskan semuanya." Devlan berkata dengan gugup dan mencoba untuk menenangkan gadis tersebut.


"Apa yang telah aku lakukan untuk mu, apa seperti ini balasan yang kau berikan?" Aira berkata dengan meninggikan suaranya. Tatapan matanya yang tajam, tepat menusuk ke jantung pria yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.


"Bukan seperti itu baby." Kemarahan Aira seperti ini yang begitu sangat ditakutinya. Sejak perjalanan pulang ke kediaman mewah milik keluarganya, Devlan tidak ada henti-hentinya memikirkan cara untuk membujuk gadis itu, agar tidak marah kepadanya. Pria itu juga tidak ada henti-hentinya berdoa agar Aira tidak terbangun ketika belum sampai ke tujuan. Rumah mewah milik keluarganya ini, lebih tepat disebut mansion.


"Sejak awal aku curiga kau bukan orang yang baik namun aku tidak menghiraukan semua itu aku tetap saja menolongmu dan ternyata apa yang aku takutkan selama ini memang benar kau bukanlah orang yang baik." Gadis itu berbicara seperti kereta api yang laju tanpa ada titik komanya. Ia juga mengeraskan suaranya untuk meluapkan emosi yang membuat tubuhnya terasa panas dan darahnya mendidih.


Devlan menelan air ludah yang terasa kelat. "Baby aku akan jelaskan padamu, jangan marah." Ia mencoba membujuk dan berharap kemarahan Aira akan mereda. Namun gadis itu memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya, seakan tidak ingin mendengar dan juga melihat.


Melihat sikap Aira, ia tahu bahwa gadis itu marah dan benci kepadanya. Ada rasa sakit saat menyadari hal ini. Hati dan cinta belum di dapat, namun mengapa ia sudah lebih dulu di benci. "Tolonglah dengarkan aku." Pria itu berkata dengan memohon.


Aira tidak menjawab. Ia hanya membuka matanya dan memandang Devlan dengan tatapan penuh kemarahan. Dalam waktu seketika rasa simpatiknya hilang karena sikap Devlan yang dinilai sangat kotor.


Devlan berulang kali menelan air ludahnya saat melihat tatapan maut Aira. Namun sialnya, mengapa tatapan itu tetap terlihat cantik di matanya. "Baby." Baru saja mengeluarkan satu kata, mulutnya sudah langsung tertutup rapat saat Aira menyuruhnya untuk diam.


Devlan mulai frustasi ketika melihat usahanya untuk menjelaskan kesalahpahaman ini tidak terlaksana.


"Kau telah menculikku, sebenarnya apa tujuanmu." Aira bertanya dengan nada sinis.


"Aku tidak menculikmu baby," ucapnya namun begitu dia berbicara Airah menutup telinganya.


"Baby kalau seperti ini, sama saja aku dengan buang angin. Apa yang kukatakan tidak berfaedah." Devlan menghembuskan napasnya dengan kasar.


Dalam Ishak tangis dan kemarahannya, Aira ingin tertawa. Bisa-bisanya pria itu memberi istilah buang angin segala. Namun ia berusaha untuk menahannya. Entah bagaimana cara pria itu masih bisa bercanda di saat dirinya sedang mengamuk seperti ini.


"Baby tolonglah, jangan ditutup telinganya. Izinkan aku menjelaskan, aku melakukan ini bukan untuk menculikmu tapi untuk menikahimu. "

__ADS_1


Tatapan mata Aira semakin tajam ketika mendengar ucapan Devlan.


Devlan tertawa sumbang ketika melihat Aira yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. "Aku bercanda baby, tapi kalau kamu mau, aku akan langsung memanggil penghulu."


"Aku membencimu, aku tidak mau menikah dengan mu," jawab Aira.


"Benci itu singkatan baby, benar-benar cinta." Pria itu seakan tidak pernah kehilangan cara untuk menggoda wanita yang sedang menangis tersebut.


Ingin sekali Aira mengeluarkan kebun binatang dari mulutnya namun dengan bersusah payah ia menahannya.


"Kau telah menculikku, apakah seperti ini caramu membalas kebaikanku." Ia tidak ingin mengungkit apa yang telah diperbuatnya, namun karena merasa kesal akhirnya Aira mengatakan hal tersebut.


Devlan semakin mendekati, memotong jarak diantara mereka. wajah gadis itu tampak marah dan terlihat ada ketakutan yang terpancar di sinar matanya. Devlan bisa merasakan hal tersebut. Saat ini Aira pasti beranggapan bahwa dirinya laki-laki yang paling jahat yang tidak tahu berterima kasih.


"Baby aku tidak berniat jahat denganmu percayalah. Kalau kamu terus marah-marah seperti ini bagaimana cara aku menjelaskannya baby. " Devlan berkata dengan sangat lembut.


"Jika aku tidak melakukan hal ini, aku pasti akan menyesal seumur hidupku." "Devan mengusap kepala gadisnya dengan penuh kelembutan.


"Menyesal, apa maksudnya?" Aira mengerutkan keningnya. Ia bisa melihat kejujuran dan ketakutan di raut wajah pria tampan tersebut.


"Sebenarnya tadi aku ingin membangunkanmu, ketika tidur. Namun tidurmu sangat enak, jadi aku tidak tega baby. Pada akhirnya aku menggendongmu masuk ke dalam mobil. Kamu tidak bangun hingga sadar sampai ke rumah. Kamu tetap masih tidur." Devan menarik hidung Aira yang sudah merah karena menangis.


"Aku minum obat, makanya tidurnya sangat pules," jawabnya.


"Kamu sakit baby?" pria itu tampak cemas dan meletakkan punggung tangannya di kening Aira.


Aira memegang tangan Devlan dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku hanya flu ringan. Agar flu ku tidak semakin parah aku cepat mengkonsumsi obat. Jadi efek obat yang aku konsumsi, menyebabkan ngantuk."


"Tadi kamu pasti tidak tahu kan baby?" Devlan mengulum senyum dan menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Tahu apa?" Aira sudah mulai melunak.


"Aku mencium bibirmu dua kali." Devlan mengulum senyumnya. Ia menahan sakit ketika Aira memukul dadanya yang bekas jahitan. "Sakit baby," keluhnya.


"Biarin." Aura kesal dan memajukan bibirnya. Mengapa Devlan memberi tahunya. Seharusnya pria itu diam saja, agar ia tidak merasa malu.


"Apa kamu ingin lihat baby, kenapa aku membawamu ke sin?" Devlan sedikit tersenyum m


"Aira yang sudah penasaran dengan cepat menganggukkan kepalanya. Iya harus tahu apa alasan Devan sampai membawanya seperti ini.


Devlan memberikan ponsel miliknya kepada Aira agar gadis itu bisa melihat apa yang terekam dengan baik dan juga jelas.


Aira memutar video yang memiliki durasi 5 menit. Matanya terbuka lebar, saat, melihat adegan yang ada di dalam video. gadis itu begitu sangat terkejut ketika.


"Ini alasan aku membawamu baby. Rumahmu tidak aman aku tidak tenang bila meninggalkan mu di sana. Aku janji, selama di sini aku tidak akan macam-macam denganmu. Namun bila kamu rindu, aku akan siap memelukmu." Devlan tersenyum lebar melihatkan deretan giginya putih dan juga bersih.


Aira melengos ke kirinya. "Dasar mesum," lirihnya.


Devlan yang mendengar sindiran Aira, hanya bisa tersenyum saja.


"Bagaimana dengan pekerjaanku di rumah sakit? Aku baru bekerja 6 bulan ini bekerja mas," ucap Aira yang sudah kembali ke mode biasa.


Devlan merasa sangat senang ketika mendengar gadis itu berbicara dengan lembut seperti biasanya. "Tidak masalah baby, nanti kamu akan diantarkan ke rumah sakit dan dijemput setiap hari."


Aira memandang Devan dengan mengerutkan keningnya. "Kenapa orang itu tidak ditangkap?"


"Aku mengetahui hal ini dari Paman dan saat beliau memerintahkan orangnya untuk menangkap orang-orang itu, mereka sudah pergi. Namun tidak menutup kemungkinan, mereka akan kembali lagi "


***

__ADS_1


__ADS_2