
Wajah yang tadi pucat kini semakin memucat. Bahkan ia seperti orang yang ketahuan melihat hantu. Kaki dan tangan gemetar, keringat bercucuran di pelipis keningnya. Bagaimana mungkin Devlan masih hidup dan terlihat sangat segar dan sehat. Leo dengan cepat menundukkan kepalanya saat matanya bertatapan dengan Devlan.
"Apa dia yang menjadi penghianat?" tanya Pram.
Devlan memandang Leo dengan sorot mata yang mengerikan. Jika bukan karena ingin bermain-main dengan Aira, dia sudah lebih dulu menangkap dan melibas penghianat seperti Leo.
"Iya paman dia orangnya, bahkan dia berulang kali menghubungiku di saat kondisiku sedang sekarat. Dia ikut serta mencariku disaat aku bersembunyi." Devlan memandang wajah Leo yang sangat menyedihkan. Wajah tampan dan yang selalu rapi bersih itu, kini sudah mandi darah. wajahnya juga sudah penuh dengan memar. Belum lagi anggota tubuhnya yang sudah banyak dipotong.
"Tuan Devlan tolong maafkan saya." Leo memohon.
"Aku bisa memaafkanmu, asalkan kau mengatakan siapa orang yang telah memerintahkanmu. Aku yakin, nyali mu tidak akan sehebat ini, jika tidak ada orang yang mendukung di belakang," tutur Devlan.
Leo diam dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Saya haus akan jabatan. Saya tidak sabar ingin memiliki uang yang banyak untuk memenuhi semua keinginan istri saya. Saya sangat mencintainya, apalagi sekarang dia sedang hamil. " Pria itu mulai menangis ketika mengingat perbuatannya dan apa tujuan dia melakukan itu semua.
"Jangan pernah membohongi aku, aku paling membenci orang yang berbohong." Devlan melayangkan satu tendangan yang tepat mendarat di dada Leo.
Leo merasakan hantaman keras di dadanya. Pria itu terbatuk dan menyembuhkan darah segar dari mulutnya.
"Sebelum kau mengkhianati aku, kau pasti sudah tahu, apa yang akan kau dapatkan." Devlan menatap tajam pria tersebut. Namun Leo hanya diam dan merintih kesakitan sambil menundukkan kepalanya. Jika boleh, ia ingin meminta agar di bunuh saat ini. Siksaan ini begitu sangat menyakitkan.
"Apa kau tahu Leo, kau seperti anjing yang terjepit. Setelah ditolong kau menggigit. Kau berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan kau bisa menyelesaikan kuliahmu di Harvard University dari uang beasiswa. Aku menerima mu bekerja karena prestasi akademik yang kau miliki. Aku menilai pekerjaan mu sangat bagus, rapi dan kau juga bertanggung jawab. Aku memberikan kau jabatan hingga aku memberikan kepercayaan untuk mu. Namun apa yang kau lakukan. Kau membalas semuanya dengan menginginkan nyawaku. Kau menginginkan jabatan ku dan seluruh harta ku." Devlan berkata dengan kalimat tajam yang mampu memberikan lubang di jantung Leo.
__ADS_1
Leo hanya menangis dan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya.
"Aku sudah berencana untuk memberikan mu jabatan CEO di perusahaan cabang di Kalimantan. Karena aku percaya ke padamu. Namun kau lebih dulu melihatkan belang mu."
Leo semakin tidak mampu menahan rasa sakit di dadanya. Jika bukan karena rayuan Burhan kepadanya, dia tidak mungkin berani untuk menghianati Devlan. Apalagi tuntutan dari istrinya yang begitu sangat tinggi. Yang membuat dirinya sampai gelap mata. Yang ada saat ini hanyalah penyesalan. Jika bisa waktu dimundurkan ke belakang, ingin sekali kembali ke masa, dimana ia menjadi seorang pria yang setia dan bertanggung jawab.
Devlan memandang Leo tanpa ada rasa iba. Ia sudah muak dan benci terhadap seseorang penghianat
"Kau boleh membunuhku untuk membalas semua perbuatanku. Penghianatan yang aku lakukan tidak mungkin bisa kau maafkan." Leo berkata dengan suara lemah.
Devlan tertawa lepas saat mendengar apa yang disampaikan oleh mantan orang kepercayaannya tersebut. "Tidak semudah itu Leo, aku tidak akan membiarkan malaikat maut mengambil nyawamu dengan secepat kilat." Devlan teringat ancaman yang diberikan Aira. Gadis itu mengatakan tidak akan mau berhubungan dengan seorang pembunuh. Dan dia tidak ingin melakukan hal tersebut.
"Aku akan menjadikan kau sebagai contoh untuk semua orang bahwa mengkhianatiku bukanlah hal yang mengasyikkan. Kau lihat seperti apa kau berjuang untuk membunuhku aku masih bisa berdiri di depanmu lagi-lagi telepon tertawa lepas. Ingin sekali dia menendang kepala pria itu namun bila hal itu dilakukannya mungkin saat ini Leo akan terkapar dan mati. Demi janjinya kepada Aira dia tidak akan melakukan hal itu.
"Aku mohon bunuh saja aku aku tidak akan mengganggumu bila aku mati di tanganmu aku janji akan mati dengan tenang.
Aku akan memberikan kesempatan untukmu hidup agar kau melihat orang yang telah memerintahkanmu seperti apa.
Leo hanya diam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Devan rasa sakit di telinganya jarinya yang sakit berdenyut-denyut sungguh membuat dirinya seakan tidak sanggup untuk menahan rasa sakit lagi dan kini dadanya pun begitu sangat sakit sesak dan juga panas karena defan menendangnya dengan keras. Bila sudah seperti ini hidup pun mungkin sudah tidak ada lagi artinya.
"Obati dia dan kemudian kirimkan ke penjara Devan memberi perintah kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Mengapa tidak diserahkan diberikan saja untuk makan si Titol," Pram kesal.
"Aku sudah janji dengan air Paman kalau aku tidak akan membunuh orang itu karena dia tidak mau berhubungan denganku bila aku menjadi seorang pembunuh di dekat daun telinga pamannya yang membuat pria itu akhirnya bercak kesal.
Padahal perang sudah membayangkan hewan kesayangannya akan makan lezat nanti.
Apapun yang diberikan kepadanya tetap bukanlah hal yang indah untuk dijalaninya Leo hanya bisa tertunduk lemas ketika anak buah Pram melepaskan ikatan tangan dan juga ikatan kakinya dan kini dia akan di obati.
***
"Halo cantik." Sapa seorang dokter laki-laki berwajah Tampan.
Aira memandang ke samping dan tersenyum. "Hai juga," jawabnya ramah. Memiliki paras wajah yang cantik, kulit putih bersih, otak cerdas, bentuk tubuh ideal dan ramping, membuatnya begitu di kagumi dan menjadi primadona di rumah sakit ini.
"Dokter Aira, hari ini kamu cantik sekali," puji seorang dokter laki-laki yang usianya sekitar 33 tahun. Pria itu menatap tanpa berkedip. Ia terpesona memandang penampilan Aira malam ini, berbeda dengan biasanya. Gadis itu terlihat sangat cantik, anggun dan menggoda dengan balutan dress pendek tangan, panjang selutut dan berwarna biru pekat.
Aira tersenyum saat mendengar ucapan rekan sesama dokternya. Sejak tadi, tidak ada henti-hentinya ia dapat pujian dari para perawat dan dokter yang bertemu dengannya. Ya hari ini penampilannya sangat berbeda. Tidak seperti biasa yang hanya memakai baju kemeja dan celana panjang berbahan kain.
Melihat cara dokter itu memandangnya, membuat Aira tidak nyaman. Dokter Vandra terus saja memandang kaki jenjang nan putih mulus milik Aira.
***
__ADS_1