
Devlan membuka pintu mobil dan melihat Aira yang masih tertidur dengan lelapnya. Pria berwajah tampan itu tersenyum dan mengusap kepala gadis tersebut. "Hai baby, bangun ini sudah sangat siang, kamu belum sarapan," ucapnya dengan lembut.
Gadis itu tidak terganggu sedikit pun, bahkan ia semakin menarik selimutnya hingga menutupi bagian kepalanya.
Devlan tersenyum ketika melihat tingkah lucu Aira. "Hai baby, nanti tidurnya diulang lagi jika kamu sudah selesai sarapan. Ini sudah jam 11.00 siang dan kamu belum sarapan. Bahkan sebentar lagi sudah jam makan siang." Jujur saja, perutnya juga sudah keroncongan dan belum sarapan sama sekali. Namum Devlan tidak bisa makan sendiri dan abai terhadap Aira yang tidur dengan perut kosong.
Apa yang dikatakannya seakan, tidak direspon oleh gadis tersebut. Bahkan tidurnya semakin enak.
"Kalau tidak mau bangun, aku akan mencium bibir mu." Devlan membuka selimut yang menutupi wajah Aira.
Mata yang tadi begitu sangat sulit dibuka kini sudah terbuka dengan lebar.
"Baby, ini sudah jam 11.00 siang kita makan ya." Devlan mengulum senyumnya.
Aira menutup mulutnya yang sedang menguap. "Iya," jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
Aira berangsur duduk dan tersenyum malu saat menyadari ternyata ini masih didalam mobil. Tidak diduganya kalau ternyata tidur didalam mobil sangat nyaman. "Ternyata aku tidur sangat lama. Apa mas tadi nunggu aku di dalam mobil?" Gadis itu tersenyum malu memandang Devlan. Mungkin karena tidak tidur semalaman, hingga tidurnya sangat nyenyak.
"Aku ingin Boba bersama kamu di sini, tapi aku ada rapat dan harus bekerja. Jadi terpaksa meninggalkan kamu yang sedang bermimpi indah." Devlan tersenyum.
"Boba apa?" Tanya Aira dengan otak yang belum bekerja dengan sempurna.
"Bobok barang." Devlan tertawa kecil.
Gadis itu manyun setelah mendengar ucapan Devlan. "Bodoh sekali kamu Aira, mengapa bertanya seperti itu,"
Aira memandang keluar jendela dan melihat mobil yang di tumpanginya terparkir didepan gedung. Berada di dalam mobil ini, membuatnya tidak dapat melihat seberapa besar dan tingginya gedung ini.
"Bagaimana kalau kita langsung makan siang saja?" pria itu merapikan rambut gadis yang berantakan karena baru bangun tidur.
Aira menganggukkan kepalanya. "Rambut aku suka berantakan kalau bangun tidur, mungkin karena jarang creambath." Aira tersenyum malu ketika membayangkan rambutnya yang seperti seorang singa.
"Nanti aku akan menemanimu ke salon, tapi tunggu waktu libur ya." Devlan yang memahami perasaan sang gadis, dengan cepat menanggapi.
__ADS_1
Mata Aira terbuka lebar. "Benarkah, tapi kalau ke salon pasti lama, aku di temani Melly juga gak apa."
"Tidak masalah baby, aku akan ikut serta melakukan hal yang sama dengan mu, sehingga aku tidak akan bosan menunggu." Pria itu tersenyum.
"Benarkah?" Aira bertanya dengan mata terbuka lebar.
"Tentu darling, kita akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Termasuk berbelanja." Devlan tersenyum.
Aira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Jadi sekarang kita mau kemana?" tanya Devlan.
"Terserah mas aja.,"
"Kalau aku mengajakmu ke hotel gimana. Pria itu meringis menahan rasa sakit di bagian perutnya karena dicubit."
"Ingat ya mas, kondisi mas belum sepenuhnya pulih jadi jangan macam-macam." Aira kesal.
Devlan tertawa ngakak. "Tapi beneran sakit baby," ucapnya.
"Jadi bagaimana kita mau pergi makan di restoran atau makan di ruanganku?" Pria itu memperjelas pertanyaannya.
"Di ruangan mas aja lah ya, soalnya muka aku kayak gini nggak enak kalau dilihat orang bangun tidur." Aira memajukan bibirnya.
"Ya sudah ayo turun." Devlan tersenyum dan keluar dari dalam mobil lebih dulu.
Aira menganggukkan kepala dan kemudian turun dari dalam mobil.
"Melly tolong siapkan kami makan siang, antar ke ruanganku!" Perintah Devlan.
"Baik tuan," jawab Melly yang tersenyum dengan manisnya.
"Udah dapat bonus dua kali lipat baru aja senyum manis gitu." Devlan melengos.
__ADS_1
Melly tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis sebagai ciri khasnya.
"Ayo baby." Devlan kembali fokus ke arah Aira. Dengan bangga mengandeng tangan Aira.
Aira kagum ketika melihat gedung yang memiliki tinggi 20 lantai dan begitu sangat besar. Dulu ia sering melihat bangunan ini setiap kali melintasi jalan tersebut. setiap kali melihat bangunan tersebut, selalu saja bertanya meski dalam hati, siapa pemilik gedung yang menjulang tinggi tersebut. Tidak di duga sekarang ia bersama dengan si pemilik gedung.
"Ada apa baby?" Devlan bertanya sambil tersenyum.
"Ini gedung berapa lantai sih mas, kok kayaknya tinggi sekali?" Gadis itu bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Hanya 20 lantai baby." Devlan tersenyum.
"Hanya mas?" Aira membuka matanya dengan lebar.
"Yes baby."
Aira hanya diam dengan mulut yang terbuka
Kini dirinya sudah tidak bertanya lagi mengenai tingginya bangunan, karena Aira mulai sibuk menjawab sapaan setiap karyawan yang berpapasan dengan Devlan. Wanita itu juga selalu menunjukkan senyum terbaiknya. Ada rasa bangga ketika masuk kedalam gedung ini dan di gandeng langsung dengan si pemilik perusahaan.
"Devlan."
Devlan menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara wanita yang memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang dan memandang ke arah wanita yang sedang berlari mengejarnya.
"Aku sangat senang melihat mu. Apa kamu tahu, aku sangat takut dan cemas saat mendengar kamu menghilang. Begitu mendengar kabar tentang mu, aku langsung pulang ke Indonesia. Aku sangat cemas dan takut. Aku tidak ingin kehilangan mu." Wanita cantik itu memeluk Devlan dan menangis.
Aira diam ketika melihat wanita yang begitu sangat cantik dengan tampilan seksi. Tiba-tiba saja dia merasakan dadanya yang sakit dan rasa panas menjalar di sekujur tubuhnya dan berkumpul di rongga dadanya.
Devlan tersenyum dan melepaskan pelukan wanita tersebut. "Terima kasih sudah mencemaskan aku, Alena."
"Kamu tidak perlu berkata seperti itu, karena aku begitu sangat mencintaimu, kamu tahu itu kan. Aku janji akan fokus untuk menjadi model di Indonesia dan aku akan menetap di Indonesia. Jadi kita bisa menjalin hubungan di sini tanpa harus berpisah. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi." Wanita itu tersenyum dengan sangat manisnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, Aira melepaskan tangannya dari genggaman Devlan. Gadis itu hanya diam dan merasakan dadanya sakit diremas tangan berduri. Baru saja ingin memberikan pria itu sedikit harapan dan membiarkan hatinya ditempati Devlan, namun ia sudah harus kecewa saat melihat ini semua.
__ADS_1
***