
Delvan masih duduk di samping makam Leo. Otaknya bekerja keras saat mengingat nama yang ditulis Leo di telapak tangannya. "Burhan, mengapa Leo menulis nama paman? Ada apa dengan paman? Apa paman mengetahui sesuatu?" Pertanyaan itu terus saja bergulir di dalam tempurung kelapanya.
"Ayo pulang," ajak Pram.
Devlan memandang Pram dan kemudian menganggukkan kepalanya. Kedua pria itu pergi meninggalkan kawasan pemakaman tersebut.
Pram hanya diam sambil mengemudikan mobilnya. Tulisan di tangan Leo, menimbulkan tanya untuknya. Kini pria itu seperti sedang memecahkan sebuah teka-teki. "Jika kau berada di belakang ini semua, aku pastikan kau akan mendapatkan balasan yang pedih. Aku tidak perduli jika kau paman kandung Devlan." Pram memegang stir mobil dengan kuat hingga urat tangannya terlihat jelas. Mulai saat ini, ia tidak akan bisa lengah dan akan selalu mengawasi Burhan. Pram tahu bahwa Burhan bukan orang yang ceroboh. Pria itu begitu sangat pandai menyembunyikan perbuatannya.
Devlan memandang Pram. Meskipun pria itu tidak Paman kandungnya, namun Devlan lebih dekat dengan Pram. Bahkan pria itu yang menjadi pengantin kedua orangtuanya. Sampai saat ini Devlan masih tidak mengerti, mengapa kedua orang tuanya lebih mempercayai Pram yang hanya paman angkat dari pada Burhan yang merupakan paman kandungnya. Tulisan yang ditulis Leo di telapak tangannya, semakin membuat Devlan ragu terhadap pamannya itu.
"Paman."panggil Devlan.
Pram sedikit menoleh ke kursi yang diduduki Devlan. "Ada apa? "
"Aku masih memikirkan tulisan di tangan Leo." Sudah menjadi kebiasaan Devlan untuk selalu mengutarakan apapun yang ada di dalam pikirannya kepada Pram. Terkadang Devlan bersikap seperti seorang bocah yang sedang mengadu kepada sang paman.
"Kamu tenang saja, aku akan mencari tahu semuanya," jawab Pram yang seakan menenangkan keponakannya. "Untuk masalah ini, sudah aku katakan kepada Briptu Amri, agar tidak memanggil Burhan dan menginterogasinya." Pram ingin menyelidikinya secara langsung hingga tidak ingin melibatkan aparat keamanan. Jika sempat Burhan mengetahuinya maka pria itu pasti akan semakin berhati-hati.
"Apa mungkin Paman Burhan bekerja sama dengan Leo atau jangan-jangan dia yang sudah memerintahkan Leo?" Devlan mengeluarkan argumentasinya. Setelah mendengar keterangan dari polisi, hati Devan semakin tidak tenang. Leo mengatakan ingin bertemu dengan dirinya ataupun Paman Pram setelah mengetahui kematian Ayu. Namun pria itu sudah di temukan tidak bernyawa, subuh tadi. Dan menulis satu nama di telapak tangannya.
"Semoga saja tidak," jawab Pram yang tidak ingin banyak mengeluarkan pendapat dan kemungkinan. Ia harus mencari tahu dan mengumpulkan bukti terlebih dahulu.
"Aku juga berharap seperti itu Paman. Paman tahu, Paman Burhan satu-satunya keluarga yang aku punya dan jika dia berniat mencelakai ku, ini sungguh sangat menyakitkan paman." Devlan meringis pelan.
Pram memandang Devlan. Pria itu melengos kesal ketika melihat keponakannya itu tertawa.
"Bagiku Paman lebih dari sekedar saudara karena Paman adalah pengganti mami dan papi. Tapi beneran nggak enak Paman, kalau paman aku panggil bibi. Kapan Paman akan menikah." Devlan tertawa lepas. Di saat hatinya sedang gundah gulana, rasa sedih itu hilang seketika saat melihat wajah kesal pamannya. Entah mengapa pria berambut gondrong itu tampak semakin tampan meskipun usianya sudah kepala empat.
"Sekarang usia Paman 40 tahun, jika menikah 1 tahun akan memiliki satu orang anak. Dia saat umur 61 tahun, anak paman baru berusia 20 tahun. Bayangkan Paman, jika Paman menikah di usia 50 tahun, masa umur anak 10 tahun, papinya sudah berumur 60 tahun. Kasihan ya anak paman." Devlan mengulum senyumnya. Ada rasa bersalah saat melihat pamannya. Pria itu rela tidak menikah dan menghabiskan waktu mudanya untuk mengurus Devlan dan perusahaan. Kini Devlan ingin melihat sang paman menikah agar pria itu bisa menikmati hari tuanya dengan bahagia.
"Sekali lagi mengejekku, akan ku robek mulutmu." Pram kesal. Sampai saat ini, pria itu belum memikirkan pernikahan.
__ADS_1
Devlan hanya terkekeh saat mendengar ancaman dari sang paman. Dipandangnya layar ponsel dan melihat jam di ponsel tersebut. Ternyata waktu pulang Aira masih lama. Sejak tadi, ia sibuk mengurus jenazah Leo dan pemakaman Leo dan istrinya. Hingga belum menghubungi dokter cantik itu sama sekali.
Devan memandang panggilan telepon yang masuk di ponselnya pria itu kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo kakak, aku rindu." Suara cempreng itu mampu membuat Devlan tersenyum.
"Cari pacar biar kamu tidak selalu merindukanku." Devlan mengejek gadis yang meneleponnya.
"Umurku baru 18 tahun kak." Gadis itu memprotes
"Jika kamu ingin punya pacar, tidak perlu menunggu sampai umur 25 atau 26 tahun. Jika kamu mau, umur 9 tahun saja kamu sudah bisa berpacaran." Devlan tertawa kecil sehingga membuat si penelepon kesal.
"Ajaran sesat," omel si gadis
Devan hanya tertawa ketika mendengar gadis itu mengomel.
"Kakak aku di kampus jemput aku ya aku rindu. Sudah lama kita tidak bertemu." Gadis itu berbicara dengan manjanya.
"Kak Dev." Gadis itu merengek.
Devlan bisa memastikan bahwa saat ini gadis itu sedang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena marah.
"Kakak ke kampus aku ya, jemput aku." Gadis itu memaksa.
"Aku tidak bawa mobil dan ini saja menumpang dengan mobil Paman Pram," jelas Devlan.
"Aku bawa mobil kak, gimana kalau kakak ke kampus aku, terus nanti kakak yang bawa mobil aku," usul Jessica. Ya Jessica anak Burhan yang begitu sangat dekat dengan Devlan.
"Apa papi kamu tahu kalau kamu ingin bertemu denganku?" tanya Devlan untuk memastikan.
"Tidak," jawab Jessica dengan cepat.
__ADS_1
"Apa kamu hanya ingin memintaku mengantarkan kami pulang?" Devlan bertanya dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak.
"Aku ingin ngajak kakak jalan-jalan, aku rindu pengen main-main." Jessica tertawa kecil.
"Hari ini aku tidak bisa mengajakmu jalan-jalan tapi kalau hanya sekedar makan aku bisa. Aku akan langsung ke kampus mu."
"Oke kakak aku tunggu." Jessica tersenyum dan memutuskan sambungan telepon.
"Apa yang menghubungi mu Jessica, Dev?" Pram memandang Devlan.
"Iya paman," jawab Devlan sambil menganggukkan kepalanya. Hatinya sudah tidak tenang bila menyangkut tentang Burhan. Karena itu Devlan menanyakan kepada Jessica, apakah pamannya tahu bahwa dia akan meminta Devlan menjemputnya. Entah mengapa sekarang Devan harus berhati-hati dengan paman serta keluarganya tersebut.
"Kalau begitu aku akan menemanimu." Pram tidak ingin melepaskan Devlan begitu saja. Apa lagi saat ini ia belum tahu tentang keterlibatan Burhan.
Devlan terkekeh ketika mendengar ucapan sang Paman. Tampak jelas raut kecemasan dari wajah pria berambut gondrong tersebut.
"Paman jika ada seorang gadis yang meminta agar paman potong rambut, apa paman mau tidak?"
"Rambutku ini tidak ada masalah, walaupun gondrong, tetap rapi. Kamu bisa lihat sendiri." Pram mengulas rambutnya dengan menggunakan telapak tangannya. rambut yang begitu licin dan mengkilat.
Devlan hanya tertawa melihat tingkah pamannya tersebut. Perlu diakuinya, bahwa Pram begitu sangat tampan dan juga keren meskipun memiliki rambut yang gondrong.
"Alicia akan menjadi sekretarisku jadi aku akan mencarikan sekretaris baru untukmu." Pram memberi tahu.
"Iya paman tidak apa. Meskipun baru sekitar 6 bulan bekerja menjadi sekretarisku, namun dia sangat pintar dan juga cerdas. Jadi Paman bisa bekerja sama dengannya." Devlan memijat pelipis keningnya. Hari ini sungguh sangat melelahkan baginya. bukan hanya tubuhnya saja yang merasa lelah namun juga pikirannya.
Pram menganggukkan kepalanya. "Keteria khusus yang kamu inginkan untuk menjadi sekretaris kamu?" tanya Pram.
Devan menggelengkan kepala. "Nanti aku akan bertanya dulu kepada Aira." Senyum mengembang di bibirnya ketika menyebutkan nama dokter cantik itu.
***
__ADS_1